11 April 2026
Beranda blog Halaman 42426

Kunjungi YPAC, Megawati Teringat Masa Lalu

Jakarta, Aktual.co — Presiden ke V RI, Megawati Soekarnoputri bersama istri Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Mufidah Kalla berserta Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menghadiri acara  peresmian renovasi gedung utama Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) di Jalan Hang Lekir III nomor 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Dari pantauan media di lapangan sebelum acara dimulai, terlihat ketua umum PDIP datang lebih awal, dengan menumpang sedan Lexus bernomor polisi B 1 PDI pada pukul 08.55 WIB. Mega yang tampak mengenakan batik berwarna ‎biru itu langsung disambut oleh Purnamawati Muki Reksoprojo dan Menteri Sosial Khofiffah.
Tak lama berselang Megawati datang, giliran Mufidah Kalla dan istri (plt) Gubernur DKI Jakarta, Veronica Tan yang datang dalam selang waktu yang tidak terlalu lalu lama. Dengan mengenakan busana berwarna kehijauan Vero dan Mufidah terlihat nampak kompak.
Dalam sambutannya, Megawati mengaku saat dirinya masih remaja, ia pernah diajak oleh ayahnya Bung Karno menghadiri peresmian salah satu bangunan yayasan. 
“‎Saya ingin ucapkan terimakasih, tadi lihat riwayat YPAC, semua saya kenal. Saya 13 tahun di bawa ayah saya (Bung Karno), karena beliau naruh perhatian penuh, bukan hanya politik, disemua lini kehidupan kebangsaan kita,” kata Mega dalam pidato sambutannya, Rabu (5/11). 
“Pasti disini,tdak ada yg tau jika dirinnya pernah menjadi sukarelawan selama 1 tahun untuk mengamati prilaku orang tua penyandang anak berkebutuhan khusus,” tambah dia.
YPAC sendiri merupakan lembaga sosial yang mempunyai misi untuk melayani dan membatu banyak anak-anak berkebutuhan khusus. Yayasan tersebut didirikan pada tahun 1953 di kota Solo oleh seorang dokter bedah tulang bernama Prof. Soeharso. 
Setahun kemudian pengembangan yayasan tersebut dilanjutkan oleh istri mantan gubernu DKI Jakarta Armistiani Soemarni Sosroatmodjo dengan mendirikan perwakilan yayasan tersebut di Jakarta.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Meninggalkan “Onafhankelijkheid”

Jakarta, Aktual.co — Pernyataan Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah “pernyataan budaya”, menegaskan bangsa ini meninggalkan underdog mentality, menegaskan diri tidak lagi bermatabat sebagai koelie di Negeri sendiri, melakukan unlearning melepaskan mindset ke-inlanderan, menegakkan budaya onafhankelijkheid, suatu pernyataan kemandirian untuk menjadi Tuan di Negeri sendiri. Penyataan kebudayaan melahirkan tuntutan-tuntutan budaya yaitu: memiliki kesadaran-kesadaran berdaulat, mandiri, berharga diri, berharkat martabat, berkehidupan cerdas (tidak sekedar berotak cerdas), mampu berketahanan nasional, tangguh, digdaya, dan mandraguna.
Kita gagal memenuhi tuntutan-tuntutan budaya, kita tidak menggariskan strategi budaya. Kita lengah-budaya dengan menerima liberalism dan kapitalisme. Kita terjerumus mengejar-ngejar to have more, lupa mengejar to be more. Kita lengah, pembangunan nasional hanya mengejar “economic added value”, padahal pembangunan nasional harusnya mengejar pula “socio-cultural added value” agar meraih to be more. Akibatnya kita lihat pembangunan hanya hasilkan GDP growth (itu pun cuma 6%). Sementara itu kita sebaliknya malahan kehilangan kedaulatan nasional: kita tidak berdaulat dalam pangan, bibit, obat dasar, teknik industri, ekspor-impor, energi, teknologi, pertahanan (mesiu), tataguna modal dasar (bumi/air/kekayaan alam), bahkan kita tidak berdaulat dalam legitasi. 
Kita tidak anti asing (tidak xenophobic), tetapi kita tidak boleh membiarkan dan harus menolak ekonomi asing mendominasi ekonomi nasional. Globalisasi kita hadapi, globalisasi bukan ajang penyerahan kedaulatan. ME ASEAN harus tetap merupakan forum kerjasama, bukan forum persaingan apalagi pengangkangan dan perampokan predatorik aset dan kepentingan nasional.
Catatan Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa tentang Strategi Budaya Kiageng Jenderal TNI (Purn) WS seperti ditulis ulang Sr Edi Swasosno

Artikel ini ditulis oleh:

Direlokasi, Warga Kampung Pulo Hanya Ditawarkan Uang Kerohiman

Jakarta, Aktual.co —Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membantah kabar ada warga Kampung Pulo, Jakarta Timur yang belum didata terkait relokasi ke rumah susun.
Bahkan dia mengaku heran, lantaran menganggap semua penduduk Kampung Pulo sudah didata. Mengingat relokasi itu terkait dengan upaya Pemprov DKI untuk mengebut normalisasi Sungai Ciliwung.
“Belum didata? Sebenernya sih udah didata semua tapi ada orang yang ngerasa belum didata. Udah heboh begitu di sana, Jatinegara aja udah dibongkar,” ujar Ahok di Balaikota DKI, Rabu (5/11).
Kalaupun memang benar ada warga yang belum didata, Ahok mengatakan akan memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk segera melakukan pendataan kembali. 
Meski membantah ada warga yang belum didata, Ahok mengakui kalau masih banyak warga Kampung Pulo yang masih ngotot minta ganti rugi atas tanah dan bangunan tempat tinggal mereka sebelum direlokasi. 
Mantan Bupati Belitung Timur itu justru menganggap permintaan ganti rugi dari warga Kampung Pulo adalah tidak masuk akal. 
Alasannya, warga selama ini menempati lahan milik Pemprov DKI.
Ketimbang memberi ganti rugi, kata Ahok, Pemprov DKI akan memberikan uang kerohiman saja ke warga yang sudah tinggal dalam waktu lama di Kampung Pulo.
Meskipun di Peraturan Gubernur sudah disepakati bahwa tidak ada kebijakan uang kerohiman.
“Tapi kita temuin kasus mereka udah tinggal berpuluh puluh tahun, ada yang ngaku punya surat juga. Nah makanya kita bayar,” ujarnya.
Meski menyetujui memberi uang kerohiman, Ahok sendiri mengaku merasa lucu karena surat yang dimiliki warga sebagai dasar untuk meminta ganti rugi juga ‘surat bodong’ yang didapat lewat ‘bawah tangan’.
“Lucu juga kan surat yang belinya di bawah tangan itu bisa jadi patokan. Masa jual tanah negara bisa dapat ganti rugi. Nah itu yang jadi masalah,” jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, saat Aktual.co menyambangi Kampung Pulo, didapati ada warga yang mengaku belum didata terkait relokasi ke rusun.
Nurdin (35) salah satu warga di RT 16/RW 02 Kampung Pulo, salah satu yang mengaku belum didata. Selain itu, dia juga mengungkapkan kalau warga sebenarnya tak keberatan dipindah ke rusun asal mendapat ganti rugi yang sesuai dari Pemprov DKI. 
“Kita setuju saja, tapi dibayar dulu, baru warga mau pindah. Kalau ga dibayar warga mana mau pindah, lah mereka kan sudah puluhan tahun tinggal di sini,” ujar Nurdin kepada Aktual.co, di Jakarta, Senin (3/11).

Artikel ini ditulis oleh:

Presiden Lakukan Kunjungan Kerja ke Sulawesi

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan rombongan bertolak menuju Makassar guna melaksanakan kunjungan kerja selama dua hari, 5-6 November 2014.
Presiden Jokowi diagendakan di tiga Provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.
Presiden beserta rombongan, bertolak ke Makassar, Sulawesi Selatan, melalui Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu sekitar pukul 07.30 WIB.
Tiba di Makassar, Presiden diagendakan langsung menuju Sidrap, tiga jam perjalanan dari Makassar untuk meninjau irigasi yang baru dilanjutkan panen padi dan makan siang dengan petani.
Usai dari Sidrap, Presiden kembali ke Makassar untuk melanjutkan perjalanan dengan pesawat kepresidenan menuju Mamuju di Provinsi Sulawesi Barat.
Di provinsi tersebut, Presiden Jokowi meninjau Gernas (Gerakan Nasional) Kakao dan infrastruktur pertanian.
Selanjutnya menuju Kendari, Sulawesi Tenggara. Presiden direncanakan meninjau irigasi rencana tol laut dan menghadiri acara Musyawarah Nasional Ke-12 Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama).
Pada Kamis (6/11) sore, Presiden dan rombongan dijadwalkan kembali ke Jakarta.

Artikel ini ditulis oleh:

Dukung BBM Naik, Ahok Genjot KIS dan KIP di DKI

Jakarta, Aktual.co —Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan mendukung penaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Dia beranggapan kalau Pemerintah Pusat tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, maka nilai tukar rupiah akan terus melemah.
“Kalau nggak mau naikkan itu dollar bisa sampai Rp13 ribu – Rp14 ribu. Kita sudah defisit (neraca perdagangan dan anggaran), makanya ini harus dinaikkan,” ujar Ahok di Balaikota DKI, Rabu (5/11).
Lagipula dia menilai penggunaan BBM bersubsidi di Jakarta sering tidak tepat sasaran. Karena lebih banyak digunakan  kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum. 
Sebagai solusi untuk menyikapi kenaikkan BBM, mantan Bupati Belitung Timur itu mengaku telah mempersiapkan beberapa hal. Seperti memaksimalkan transportasi umum dengan penambahan bus tingkat dan bus Transjakarta. 
Selain itu, Pemprov DKI juga akan memperluas pemberian Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai pelengkap dari Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang telah diterapkan di Jakarta.
“Yang penting kita siapin ini aja KIP dan KIS. Terus kita siapin bis tingkat sama Transjakarta yang ga begitu naik harganya. Itu yang penting, terus kami juga mesti kerja dengan baik menekan inflasi, terutama kebutuhan pokok,” ujarnya.
Sebagai informasi, isyarat mengenai kenaikan BBM bersubsidi telah diberikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Harga BBM bersubsidi akan dinaikkan setelah pendistribusian KIP dan KIS usai dilaksanakan.
“Ya semestinya begitu,” ujar Jusuf Kalla di Kementerian Dalam Negeri, Selasa (4/11) kemarin.
Ia juga merencanakan kenaikan harga BBM berubsidi akan dilakukan pada bulan November ini. “Pokoknya bulan inilah,” ujarnya.
Sebagai solusi, JK mengatakan akan mengalihkan subsidi BBM ke bidang kesejahteraan rakyat seperti KIP dan KIS. “Kenaikan BBM kan mengalihkan subsidi dari konsumtif ke produktif, salah satu pengalihannya ke kesejahteraan sosial masyarakat.” 

Artikel ini ditulis oleh:

Mantan Ketua Komisi X DPR Penuhi Panggilan KPK

Jakarta, Aktual.co — Mantan Ketua Komisi X DPR periode 2009-2014 Mahyudin hari ini memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Politikus asal Partai Golkar itu bakal diperiksa sebagai saksi untuk kasus Wisma Atlet.

Ketika tiba di gedung KPK, dia pun mengaku tak tahu pirahal kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet dan Gedung Serbaguna Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010-2011 yang menjerat Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Selatan sekaligus Ketua Komite Pembangunan Wisma Atlet SEA Games Rizal Abdullah itu.

“Saya tidak tahu, ini kan baru dipanggil, saya masuk dulu ya,” kata dia ketika tiba di gedung KPK, Rabu (5/11).

Dia pun mengaku, tak tahu pengajuan anggaran proyek itu sebesar Rp416 miliar. Namun, DPR hanya menyetujui memberikan anggaran Rp200 miliar.

Dalam kasus dugaan ‎korupsi pembangunan Wisma Atlet dan Gedung Serbaguna Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010-2011, Rizal disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Rizal diduga melakukan mark up atau pengelembungan anggaran. Adapun nilai kerugian negara dalam kasus itu sebesar Rp25 miliar.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu
Eka

Berita Lain