13 April 2026
Beranda blog Halaman 42500

1.500 Pohon di Jakarta Selatan Di tebang

Jakarta, Aktual.co —Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan pada Senin (3/11) melakukan penebangan terhadap 1.500 pohon yang tersebar di sepuluh kecamatan wilayah Jakarta Selatan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dan meminimalisir jatuhnya korban saat terjadinya pohon tumbang di musim penghujan.

Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan, Marfuah mengatakan pohon-pohon yang ditebang oleh pihaknya yakni pohon yag berjenis angsana. Dimana pohon tersebut merupakan pohon yang paling rawan jika terkena angin dan hujan.

“Untuk mengantisipasi datangnya musim penghujan, dalam sebulan terakhir sudah ada sekitar 1.500 pohon yang kita pangkas,” katanya, Senin (3/11).

Dikatakan Marfuah pohon yang dipangkas, kata Marfuah, yaitu yakni pohon dengan cabang banyak dan berdaun rimbun. “Semakin rimbun, beban pohon akan makin berat. Makanya, kita kurangi bebannya agar saat kena angin kencang tidak tumbang,” jelasnya.

Ada beberapa lokasi di Jakarta Selatan yang memang rawan terjadi pohon tumbang. Dia menjelaskan, sejak Oktober 2013 hingga Maret 2014  sudah 144 pohon tumbang di wilayah Jakarta Selatan.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Penahanan Ditangguhkan, Polisi Antar Pulang Penghina Jokowi

 Jakarta, Aktual.co — Mabes Polri telah telah mengabulkan permohonan penangguhan penahanan Muhammad Arysad (MA), tersangka penghina Presiden Joko Widodo melalui akun media sosial facebook. Kini MA sudah dipulangkan ke Rumah orang tuanya oleh penydik Bareskrim Polri di bilangan Ciracas Jakarta Timur.
“Tadi pagi sekitar jam 06.30 WIB, Arsad sudah diantar pihak Kepolisan ke rumahnya,” kata Kuasa Hukum Arsad, Irfan Fahmi, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/11).
Namun, MA yang berprofesi sebagai tukang tusuk sate itu dibebaskan oleh penyidik tanpa sepengetahuan pengacaranya. Dia mengaku mendapatkan informasi soal pembebasan MA oleh pihak keluarga.
“Kita juga baru tahu dari pihak keluarga bahwa Arsyad dipulangkan, belum ada info dari polisi,” ujar Fahmi.
Muhammad Arsyad ditahan sejak 23 Oktober 2014 karena menyebarkan gambar Jokowi dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Montase atau gabungan dari beberapa potongan foto yang berbeda itu menunjukkan Jokowi sedang beradegan asusila dengan Megawati.
Arsyad pun dijerat dengan Undang-Undang Pornografi dan terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Karyono Wibowo: Kabinet Jokowi-JK Harus Bersih dari Jejaring Neoliberalisme

Jakarta, Aktual.co — Gerakan Dekrit Rakyat dan Koalisi Masyarakat Sipil  untuk Pemerintahan Bersih akan menemui pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait tanda kuning dan merah pada proses seleksi calon menteri pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla. 
Sesuai rencana, tokoh politik dan kelompok masyarakat itu datang pukul 10.00 Wib, Senin 3 November 2014. Mereka yang hadir adalah Yudi Latif, Romo Benny Susetyo, Chalid Muhammad (Dekrit Rakyat), Ray Rangkuti (Direktur LIMA), Haris Ashar (Kontras), Cilm (eksponen 98) dan Sri Palupi (Ecosoc).
Selanjutnya Dani Setiawan (KAU), Riza Damanik, Siti Maimunah, Jeirry Sumampow (TEPI), Sebastian Salang (FORMAPI), Baiquni (eksponen 98), Sopyan (eksponen 98), Karyono Wibowo (Lingkar Studi Trisakti) dan beberapa tokoh lainnya. 
“Kita ingin pemerintahan Jokow-JK bersih dari korupsi. Bahkan tidak hanya bersih dari korupsi, tetapi bersih dari jejaring neoliberalisme dan para mafioso,” tegas salah satu tokoh yang akan mendatangi KPK, Karyono Wibowo, saat dihubungi Senin (3/11).
Menurutnya, janji Jokowi untuk memberantas korupsi harus diperkuat oleh seluruh kekuatan masyarakat civil (civil society). Apalagi rakyat berharap kabinet pemerintahan Jokowi benar-benar bersih dari korupsi. (Baca: Catatan Merah Menteri Kabinet Jokowi)
“Yang mendasari Koalisi Masyarakat Sipil mendesak KPK, karena adanya sinyalemen dari pimpinan KPK sendiri bahwa ada sejumlah menteri yang masuk kabinet Jokowi terindikasi kuat mereka terlibat korupsi,” kata Karyono.
“Maka dari itu KPK hendaknya segera memanggil dan memeriksa menteri-menteri yang memiliki catatan merah dan kuning,” sambungnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Adnan Pandu Praja akan Temui Tokoh dan Aktivis

Jakarta, Aktual.co — Sejumlah tokoh dan elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Dekrit Rakyat dan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Pemerintah Bersih berencana akan menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (3/11) pagi ini.
Tujuannya, meminta KPK untuk memanggil dan memeriksa menteri-menteri yang diduga memiliki catatan merah dan kuning, alias memiliki rekam jejak korupsi.
“Juga meminta kepada KPK untuk terlibat menelusuri rekam jejak para calon pejabat negara baik di pemerintahan maupun di BUMN,” seperti yang dikutip dari undangan resminya, di Jakarta, Senin (3/10).
Pertemuan yang diagendakan sekitar pukul 10.00 WIB itu akan diterima oleh salah satu komisioner pimpinan KPK, yakni Adnan Pandu Praja.
“Nanti ditemui Adnan Pandu Praja,” kata salah satu elemen masyarakat dari Lingkar Studi Trisakti (LST), Karyono Wibowo dari kepada Aktual.co, di Jakarta, Senin (3/11). (Baca: Tokoh dan Aktivis Tanyakan Menteri Bercatatan Merah)
Untuk diketahui, para tokoh yang akan hadir diantaranya, yakni Yudi Latif, Romo Benny Susetyo, Chalid Muhammad (Dekrit Rakyat), Ray Rangkuti (Direktur LIMA), Haris Ashar (Kontras), Cilm (eksponen 98),Sri Palupi (Ecosoc), Dani Setiawan (KAU), Riza Damanik, Siti Maimunah, Jeirry Sumampow (TEPI), Sebastian Salang (FORMAPI), Neta Pane (IPW), Baiquni (eksponen 98), Sopyan (eksponen 98), Ferdinand (Energy Watch).

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Jenderal Moeldoko: Keadaan Lebih Buruk Ketika Reformasi‎

Kuningan, Aktual.co – Keadaan lebih buruk, justru dialami ketika Indonesia mengusung reformasi nasional. Sama sekali reformasi tidak salah atau keliru, tetapi harus diakui selama reformasi bergulir, muncul berbagai kecenderungan yang memprihatinkan.

Demikian disampaikan Panglima TNI Jenderal Moeldoko dalam ‘Silaturahmi Tata Ruang Peradaban’ di Kuningan, Jabar, Senin (3/11). Pidato ini diwakilkan‎ Laksma TNI UUS Kustiwa.‎

‎”Diakui atau tidak, mainstream reformasi mengarah ke gejala menelantarkan kesepakatan dasar kita dalam berbangsa dan bernegara,” imbuhnya.‎

‎Kesepakatan dasae tersebut adalah pancasila, UUD 45, NKRI dan bhineka tunggal ika. ‎Padahal, kesepakatan dasar atau paradigma nasional itulah yang telah terbukti dan mampu menjamin eksistensi NKRI di tengah terpaan pasang surutnya gelombang dan badai sejarah.‎

‎Kenyataan tersebut, sambung Moeldoko, dirasakan dalam seluruh bidang atau gatra kehidupan, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Kegamangan terhadap pancasila seakan mencapai puncaknya setelah Orba jatuh. ‎

‎”Proses demokratisasi politik masih mencari bentuknya serta tidak sedikit yang menimbulkan ketegangan dan kon‎flik. Krisis ekonomi sejak 1998 pun menyisakan dampak hingga sekarang,” imbuhnya lagi.‎

‎Dewasa ini, disharmonisasi sosial mudah sekali pecah di hampir semua daerah. Konflik komunal mengintai setiap saat. Spirit primordialisme mendominasi multikultural.‎

‎”Belum lagi di bidang hankam, tidak kalah memprihatinkan. Radikalis‎me, anarkisme, trorisme serta kejahatan dan kriminalitas baik perorangan maupun korporasi masih mewarnai keseharian kita. Jumlahnya pun cenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitas,” pungkasnya.

Jokowi Bakal Gagal Tuntaskan HAM karena Kejagungnya

Jakarta, Aktual.co — Tiga dari 5 calon Jaksa Agung yang dipertimbangkan Presiden Jokowi memang dikenal integritasnya dalam isu korupsi.
“Tapi kelimanya sama sekali tidak punya track record dalam promosi dan advokasi HAM. Padahal Jaksa Agung adalah harapan terakhir penegakan HAM,” kata Ketua Setara Institute, Hendardi di Jakarta, Senin (3/11).
Dengan demikian, besar kemungkinan Jokowi gagal memenuhi janjinya untuk mengadili para jenderal yang diduga melanggar HAM pada masa lalu.
“Perlu diingat bahwa tantangan terbesar Jaksa Agung adalah keberaniannya menembus kebuntuan penegakan HAM,” katanya.
Sedangkan untuk pemberantasan korupsi, publik sudah lebih terpikat dan percaya dengan KPK.
“Jadi, semestinya Jokowi mencari figur lain, yang punya nyali pada penegakan HAM. Perlu diingat pula, kelima calon itu adalah pernah menjabat di masa sebelumnya dengan prestasi biasa saja,” kata Hendardi.
Laporan: Adri Adrian

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain