Jakarta, Aktual.com – Pengguna media sosial diingatkan waspada terhadap narkoba karena mereka rawan menjadi target peredaran narkoba, atau bahkan dijerat menjadi jaringan pengedar barang haram tersebut.

“Pengguna media sosial yang sering mengungkapkan keresahan atau kegalauan melalui status, bisa menjadi sasaran sindikat narkoba. Mereka bujuk menggunakan narkoba, atau bahkan diajak menjadi pengedar narkoba. Itu yang banyak terjadi belakangan ini,” kata Duta Anti Narkoba Ikatan Alumni Universitas Indonesia, Irjen (Purn) Benny Mamoto di Sampit, Minggu (25/2).

Benny menjadi salah satu narasumber dalam diskusi bertema Hidup Indah Tanpa Narkoba di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng. Narasumber lainnya adalah pegiat anti narkoba yang juga Pengurus Ikatan Alumni Universitas Indonesia Endang Mariana dan jurnalis senior Maman Suherman.

Kegiatan yang digelar organisasi kemasyarakatan Sikat Narkoba Kabupaten Kotawaringin Timur itu dibuka Wakil Gubernur Habib H Said Ismail didampingi Wakil Bupati Kotawaringin Timur HM Taufiq Mukri. Acara ini juga dihadiri ratusan peserta yang merupakan perwakilan pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda, pelajar, mahasiswa, guru, camat, lurah, kepala desa, ketua RT dan lainnya.

Benny yang pernah menjabat sebagai Kepala Deputi Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN), mengatakan, sindikat narkoba terus mencari cara mengelabui petugas agar bisa membawa dan mengedarkan narkoba ke Indonesia.

Kalimantan harus meningkatkan kewaspadaan karena pulau ini dikepung peredaran narkoba. Mafia narkoba memasok narkoba dari luar negeri ke Kalimantan melalui jalur darat dan laut. Keterlibatan oknum penegak hukum juga pernah terbukti dan itu akan terus diberantas.

Benny menyebut, kalangan remaja dan orang-orang yang memiliki tingkat stres tinggi, sangat rawan terpengaruh narkoba. Banyak kasus narkoba merajalela di areal perusahaan pertambangan dan perkebunan karena karyawan ingin mengejar penghasilan tinggi dengan bekerja lembur dan akhirnya menggunakan narkoba dengan alasan untuk menjaga stamina, padahal pendapat itu sangat salah.

Peredaran dan penyalahgunaan narkoba sudah sangat parah. Pencegahan harus dioptimalkan dan lebih masif, di antaranya melalui berbagai bentuk edukasi kepada pelajar, mahasiswa dan masyarakat.

Pemahaman tentang narkoba dan bahayanya, sangat dibutuhkan agar setiap orang bisa membentengi diri. Apalagi saat ini ada 68 narkoba jenis baru dan belum semua diatur dalam aturan di negara ini.

(Nebby)