Jakarta, Aktual.com – Komite Ekonomi dan Industri Nasional menyebut, perekonomian Indonesia di bawah pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla masih butuh banyak pembenahan.

Dalam beberapa hal, seperti daya saing dan kemudahan berbisnis, posisi Indonesia masih kalah dari para tetangganya, terutama negara-negara ASEAN Five. Yaitu selain Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand dan Filipina.

“Kondisi saat ini masih belum cukup (baik). Dan harus dibenahi oleh pemerintah. Apalagi memang dari lima negara di ASEAN, indikator yang paling unggul cuma jumlah penduduk. Masalah demografi,” ujar Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta di Jakarta, Sabtu (22/10).

Kendati laju pertumbuhan ekonomi di tahun ini di atas 5 persen, atau Kuartal II-2016 sebesar 5,18 persen, namun masih nelum cukup besar. Apalagi saat ini, pertumbuhan ekonomi hanya mengandalkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, melalui belanja pemerintah.

“Dan itu tidak cukup hanya andalkan APBN. Apalagi ruang fiskal juga tidak cukup sehat. Makanya harus genjot investasi, terutama investasi langsung.”

Namun demikian, kata dia, untuk menggenjot investasi juga bukan perkara mudah, masih banyak problem yang belum teratasi.

“Problemnya, tidak ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Untuk itu, perlu ada upaya sungguh-sungguh guna memastikan keinginan Pusat bisa diikuti dan berjalan di daerah,” kata Ketua Megawati Institute ini.

Salah satu kuncinya, lanjut Arif, investasi jangan hanya di Jakarta atau di sekitar Jakarta, tapi harus terjadi di daerah. Dan memang beberapa daerah juga sudah menunjukkan laju investasi yang cukup bagus.

“Apalagi saat ini, investasi dari luar masih kontradiksi. Ditambah lagi investor yang sudah ada di sini pun malah digoyang-goyang. Mestinya, pemerintah bisa memastikan tidak ada kriminalisasi perusahaan (investor) yang sudah eksisting ini,” kata Arif.

Makanya, agar investor banyak masuk ke Indonesia, menurutnya, harus banyak pembenahan, seperti kepastian perizinan, kondisi infrastruktur yang solid, termasuk lebih banyak membangun Kawasan Ekonomi Khusus.

“Ini (KEK) memang masih banyak disiapkan dan nantinya satu daerah bisa fokus pengembangan satu produk tertentu. Seperti di Jepang, di kota-kota besar merata menjadi produsen otomotif. Seperti Toyota, Honda, dan lainnya berkembang di kota berbeda-beda.”

Laporan: Busthomi

(Wisnu)