Pembantaian Salim Kancil Dalam Tragedi Pertambangan di Lumajang (Aktual/Ilst.Nelson)

Jakarta, Aktual.com — Polisi terus mengusut kemungkinan adanya aktor intelektual lain selain Kepala Desa Selok Awar-awar, Har, yang terlibat dalam kasus pembunuhan terhadap Salim Kancil dan Tosan, dua aktivis antitambang Kabupaten Lumajang, Jatim.

“Tidak menutup kemungkinan ada orang di belakang Kades. Sekarang tersangka (Kades) sedang diperiksa,” kata Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (2/10).

Kendati demikian, baru Kades Har yang ditengarai merupakan aktor intelektual dalam kasus Lumajang tersebut. “Sementara masih Kepala Desa (sebagai dalang), karena yang punya kepentingan Kades ini,” ujarnya.

Menurut dia, tim dari Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri serta tim Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri sudah dikerahkan untuk membantu Polda Jatim dalam proses investigasi kasus tersebut.

Apalagi, Kapolri meminta semua pihak untuk bersabar terkait hasil pengusutan kasus ini. “Para personel Propam dan Irwasum sedang bekerja di sana, belum selesai. Kemungkinan minggu depan sudah ada hasil,” kata dia.

Sebelumnya, dua warga Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Salim Kancil dan Tosan dianiaya sekelompok orang karena menolak atas kegiatan penambangan pasir ilegal di sekitar Pantai Watu Pecak, Kabupaten Lumajang.

Atas penganiayaan yang berlangsung Sabtu, 26 September 2015 itu, Salim Kancil meninggal dunia, sedangkan Tosan mengalami kondisi kritis.

Pihak kepolisian sejauh ini telah menetapkan 23 orang tersangka dalam kasus penganiayaan dan pembunuhan Salim Kancil, termasuk Kepala Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berinisial Har.

()

(Wisnu)