Jakarta, aktual.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengaku sudah mempersiapkan langkah-langkah kebijakan untuk menangani perlambatan ekonomi dan risiko peningkatan aliran modal keluar (capital outflow) dari Indonesia.

“Seperti yang sudah saya sampaikan berkali-kali, kami akan waspada melihat perkembangan tersebut. Kami akan perbaiki policy (kebijakan) untuk menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia masih tumbuh di atas 5 persen,” ungkap Sri Mulyani di Gedung DPR/MPR, Jakarta, ditulis Selasa (10/9).

Kendati begitu, sambungnya, berbagai sinyal tersebut sejatinya sudah direspons pemerintah melalui pemetaan berbagai kebijakan yang akan diambil. Salah satunya yang sejalan dengan pandangan Bank Dunia, yaitu meningkatkan aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).

“Oleh karena itu, berbagai kebijakan untuk mendorong investasi kemarin telah disampaikan presiden yang minta ada penyederhanaan. Kami harus lebih aktif melihat kebutuhan para investor supaya mereka bisa betul-betul menerjemahkan minat investasi menjadi aktivitas investasi,” terangnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani memaparkan pemerintah akan memacu investasi dengan penyederhanaan izin, syarat, hingga rekomendasi. Hal ini agar masalah perizinan tidak lagi menjadi batu sandungan bagi masuknya aliran investasi.

Tak ketinggalan, pemerintah juga terus mengupayakan iklim ekonomi yang kondusif, misalnya dengan menjaga tingkat inflasi agar tetap stabil rendah. Lalu, memberikan insentif perpajakan sebagai daya tarik tambahan bagi investor.

Kemudian, pemerintah juga akan melanjutkan pembangunan infrastruktur, pembangunan kualitas sumber daya manusia, dan lainnya. “Capital (modal) kan pada akhirnya akan mencari tempat yang dianggap aman, jadi kalau kami bisa menunjukkan Indonesia adalah tempat yang aman dan baik, maka mereka akan tetap datang ke Indonesia,” pungkasnya.

Sebelumnya, Bank Dunia sempat memberi sinyal ‘lampu kuning’ langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada pekan lalu.

Dalam materi paparan yang beredar di publik, Bank Dunia mencermati risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam dan peningkatan aliran modal keluar. Bahkan,  aliran modal keluar bisa  lebih tinggi dari yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Padahal, aliran investasi portofolio membiayai sebagian besar defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) di Indonesia. Hal ini membuat perekonomian Indonesia menjadi rentan karena volatilitas investasi portofolio.

(Zaenal Arifin)