Gorontalo, aktual.com – Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, Asrin Menu, Minggu (15/12), mengatakan, sumber makanan habis menjadi salah satu pemicu aktifnya virus rabies pada hewan pembawa rabies (HPR), diantaranya anjing.

Ia mencontohkan, rata-rata anjing rabies di wilayah itu, datang dari daerah perbukitan atau gunung-gunung.

Mereka (anjing rabies, red) bukan binatang liar, namun kebanyakan sengaja ditinggalkan pemiliknya dengan maksud menjaga kebun dari serangan hama babi hutan ataupun tikus.

Namun pemilik seringkali meninggalkan binatang peliharaannya lebih dari satu minggu.

“Mereka (anjing) tidak diberi makan, minum, menyebabkan kelaparan, mengaktifkan virus rabies, turun ke pemukiman dan memangsa apa saja yang ditemui,” ujar Asrin.

Seperti pada kasus anjing rabies di Kecamatan Atinggola yang menyebabkan 4 orang korban anak-anak dan remaja (Minggu, 8/12), sebelumnya anjing dengan rabies bahkan menyerang HPR lainnya, yaitu kucing.

Peristiwa tersebut, harus menjadi pelajaran penting bagi masyarakat yang memiliki HPR, untuk rajin-rajin memeriksakan hewan peliharaannya.

Termasuk sukarela membawa ke petugas Disnakkeswan, agar bisa divaksinasi antirabies (VAR).

“VAR diberikan cuma-cuma, mestinya tidak ada keraguan bagi pemilik untuk membawa hewan peliharaannya mendapatkan vaksinasi,” ungkapnya.

Ia berharap, peristiwa tersebut menjadi pengalaman agar masyarakat ikut peduli dengan kesehatan hewan serta kebersihan lingkungan, jika memiliki HPR.

Pihaknya kata Asrin, melakukan program vaksinasi antirabies setiap tahun dan dilakukan beberapa kali, menyisir 123 desa di 11 kecamatan.

Sebelum turun lapangan, petugas kesehatan hewan akan melaporkan awal kegiatan tersebut pada pemerintah desa dan kecamatan.

“Setiap tahun seperti itu, makanya masyarakat diminta ikut berpartisipasi mendukung program pemerintah daerah di bidang kesehatan hewan, khususnya dalam upaya menolkan kasus gigitan dengan rabies,” ungkapnya. (Eko Priyanto)

(Zaenal Arifin)