Jakarta, Aktual.com – Baru-baru ini mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo membuah heboh, yang menyebut-nyebut paham komunis telah memyusupi TNI.

Perneyataan Gatot itu juga diperkuat perihal patung Soeharto kala menjabat Pangkostrad, Jenderal (Purn) Abdul Haris (AH) Nasution, dan Letjen Sarwo Edhie Wibowo hilang dari Museum Dharma Bakti, yang terletak di area Markas Kostrad, Jakarta Pusat (Jakpus).

“Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata, baru saja terjadi adalah Museum Kostrad,” kata Gatot pada acara webinar yang berjudul ‘TNI Vs PKI’ yang dikutip, Selasa (28/9).

Diorama yang ada di Makostrad, merupakan kantor tempatnya Soeharto, yang merencanakan bagaimana mengatasi pemberontakan G30SPKI. “Dimana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO,” ungkap dia.

“Ini tunjukkan bahwa mau tidak mau kita harus akui, dalam menghadapi pemberontakan G30SPKI, peran Kostrad, peran sosok Soeharto, peran Kopassus yang dulu Resimen Para Komando dan Sarwo Edhie, dan peran Jenderal Nasution, peran KKO jelas akan dihapuskan dan (tiga) patung itu sekarang tidak ada, sudah bersih,” katanya menambahkan.

Seperti dilihat, Senin (27/9), patung ketiga tokoh militer Tanah Air yang dimaksud Gatot dibuat setinggi badan orang dewasa. Patung Soeharto dibuat berpakaian loreng khas Kostrad, dengan pose berdiri menghadap ke arah patung Sarwo Edhie, sambil mengacungkan tangan.

Sementara, patung Sarwo Edhie dibuat dengan pose sikap sempurna dan tangan kiri memegang tongkat komando. Patung Sarwo Edhie dibuat seolah sedang memakai seragam dan atribut lengkap Kopassus.

Patung Soeharto dan Sarwo Edhie dibuat berhadapan. Masih di ruangan yang sama, patung AH Nasution berpose duduk di sofa merah dan kaki kiri diletakkan di atas meja kayu dengan permukaan kaca. Seolah menggambarkan kondisi AH Nasution usai ditembak oleh pihak yang hendak menculiknya.

Tangan kiri patung AH Nasution memegang tongkat kayu panjang. Diorama ini disebut Gatot Nuramantyo menggambarkan momen Soeharto sedang memberikan petunjuk ke Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako, usai upaya penculikan AH Nasution.

(Antara)