Pembelaan PLN
Kendati PLN mengakui adanya kerugian akibat depresiasi nilai tukar rupiah, Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka menegaskan bahwa pihaknya masih mencatat laba sebesar Rp9,6 triliun.

Diketahui dari perolehan penjualan tenaga listrik, tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp12,6 triliun atau 6,93% sehingga menjadi Rp194,4 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp181,8 triliun.

“Kerugian itu akibat depresiasi rupiah terhadap mata uang asing. Kalau besok kurs menjadi Rp10 ribu per USD maka akan muncul keuntungan. Laba perusahaan sebelum selisih kurs pada triwulan III tahun 2018 sebesar Rp9,6 triliun, meningkat 13,3% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp8,5 triliun,” kata dia.

Dia menjelaskan, berkenaan dengan program 35.000 MW, sejak Januari 2015 hingga September 2018 PLN telah menanamkan dana untuk Investasi sebesar Rp248 triliun, dimana pada periode yang sama peningkatan jumlah pinjaman sebesar Rp148 triliun atau 60% dari total Investasi.

“Jatuhnya tempo pada 10 hingga 30 tahun mendatang, namun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku dan hanya untuk keperluan pelaporan keuangan maka pinjaman Valas tersebut harus diterjemahkan (kurs) kedalam mata uang Rupiah sehingga memunculkan adanya pembukuan rugi selisih kurs yang belum jatuh tempo (unrealised loss) sebesar Rp17 triliun,” jelas dia.

Selanjutnya…
Rupiah Anjlok Akibat Tergerusnya Devisa

(Dadangsah Dapunta)