Yudi Latief
Yudi Latief

Jakarta, Aktual.com – Dalam Sekolah Pemimpin Muda Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) angkatan 7, YudiLatief, didapuk menjadi pembicara dengan tajuk “Kaum Muda dan Strategi Kebudayaan Dalam Memperkuat Etos Kebangsaan Menuju Masyarakat Pancasila”. Yudi Latief berpesan, menjalankan Pancasila bukanlah sekadar menunaikan kepentingan negara. Jika anak muda menjalankan, memahami dan melaksanakan Pancasila, maka mereka sedang menumbuh kembangkan prestasinya. Hasil dari prestasinya itulah yang dinikmati oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Lebih jauh, Yudi memaparkan, Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dijaga oleh banyak warna dan diperjuangkan oleh banyak warna pula. Ketimbang antarwarna menegasikan satu sama lain, alangkah lebih baik bila semua warna ini saling berpadu menghadirkan pemandangan yang luar biasa. Seperti itulah makna dari slogan Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman harus menemukan titik temunya, sehingga bisa berinteraksi di ruang publik.

“Di dalam cara kita menyusun kerangka pengetahuan apa yang disebut dengan epistimologi. Maksudnya apa? Karena Indonesia ini sebagai miniatur global, dimana segala keragaman ada, barangkali Indonesia adalah negara yang besar, kata Bung Karno di mana Taman Sari Dunia segala keragaman itu hadir dan itu dicerminkan di dalam lima sila Pancasila. Jadi ada lima sila Pancasila itu merangkum seluruh kemungkinan diversity-nya global,” jelas Yudi Latief.

Para peserta KBFP angkatan 7 sangat beragam. Sebut saja ada dosen Universitas Malikussaleh asal Aceh, Yusri Kasim (31); Wali Kota TanjungBalai Sumatera Utara, M Syahrizal (29); politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Yolanda Ryan Armindya (26); dan staf humas Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Edrida Pulungan (35). Kemudian juga ada Ketua KONI kota Bogor, M BeninnuArgoebie (35); pengusaha muda sekaligus peneliti yang fokus terhadap isu agama dan Timur Tengah, Nur Fadlan (31); Anggota DPRD Jawa Tengah periode 2014-2019, Abdul Hamid (34); sekretaris umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani (25); aktivis lingkungan dan HAM asal Maluku, Izack Knyairlay (26); pegiat isu hukum dan advokat Hak Asasi Manusia di Papua, WelisDoga (32), dan masih banyak lagi.

Yudi memberikan gambaran tentang makna dari ke-5 sila Pancasila, misalnya, pada sila pertama yang menyiratkan bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan multi agama. Sesuai pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. Selanjutnya dalam sila kedua yang mensiratkan kemajemukan masyarakat berdasarkan ras manusia. Sedangkan, di sila ketiga menggambarkan bangsa ini sebagai bangsa yang beragam, tapi pada saat yang sama menyadari akan adanya tautan-tautan persatuan.

Sementara itu, penjelasan terkait sila ke empat, yakni mengenai keberagaman partai dan aliran partai politik. Dan, sila kelima yang menggambarkan kemajemukan dari segi lapisan kelas sosial. Selanjutnya, dalam hal membumikan Pancasila di dalam kehidupan anak muda, pertama-tama penting untuk memahami lima isu strategis. Di antaranya, Pemahaman Pancasila, InklusiSosial, Keadilan Sosial, Pelembagaan Pancasila, dan Keteladanan Pancasila.

“Sila pertama adalah keragaman agama dan keyakinan. Sila kedua mendeklarasikan kita ini beragam dari ras manusia. Indonesia ini ras papua milanesia yang paling tua, jadi kalau ada yang bilang pribumi paling pribumi Indonesia itu sebenarnya adalah orang Papua Milanesia,” tuturnya.

“Banyak keturanan-keturunan Eropa di kita mulai di pelabuhan-pelabuhan transit serta tempat perkebunan. Kita juga boleh dibilang negara dengan mozaik warna kulit yang paling lengkap. Mulai yang paling hitam di timur, agak light di Maluku, sawomateng kita punya, kulit kuning kita punya seperti Nias, bagian Dayak kulit merah, Mentawai kulit putih, juga ada jadi lengkap,” urainya.

Pendidikan Pancasila bisa disampaikan melalui jalur pendidikan, namun materi pengajaran dan penyampaian Pancasila harus diperbaiki. Tak hanya itu, guru-guru dan dosen juga harus dilatih dengant ujuan agar dapat menjabarkan Pancasila dengan menyesuaikan perkembangan peserta didik. Selain itu, konten dan metode harus disesuaikan dengan perkembangan anak didik.

“Pendidikan itu belajar menjadi manusia dengan belajar dari kehidupan sepanjang hidup. Jadi kita belajar masuk sekolah untuk belajar jadi manusia yang benar bukan belajar untuk semata-mata ayo matematika. Yang utama belajar menjadi manusia yang benar. Nah, untuk belajar menjadi manusia yang benar itu fundamen-fundemen kemanusiaan budipekerti itu harus bener dulu,” ujarnya.

“Orang Australia bilang kami nggak cemas kalau hasil test matematika anak-anak tidak mengembirakan, karena kalau itu gampang tinggal panggil satu guru les privat dalam sebulan bisa langsung pinter. Yang kami takut itu kalau anak-anak kemudian tidak bisa antri. Lalu, anak-anak tidak bisa menghargai karena mengubah itu tidak bisa just over night itu bisa lama sekali. Makanya kita paham kenapa di Jepang tiga tahun pertama sekolah dasar tidak diajarin apa-apa kecuali budipekerti karena yang lain-lainnya mudah,” tuturnya.

“Kalau yang fundamen itu fundamen baik buruk mana yang patut mana yang tidak patut mengambil yang berhak atau tidak berhak. kalau itu sudah selesai kemudian dimulai dengan reading habbit. Apalagi sekarang kita dihadapi pada satu kenyataan Indonesia itukan penggunaan sosial media paling intens tapi minat bacanya paling rendah,” tutupnya.

(Eka)