“Ini jadi rentan disusupi, ditunggangi. Kita enggak mau Indonesia kacau kayak Suriah, itu pengalaman buruk. Saya sungguh sedih, peringatan Hari Santri disusupi aksi provokasi yang menciptakan ketegangan di masyarakat,” katanya.

“Jangan bawa HTI dan ISIS ke Indonesia. NKRI adalah sajadah kita, kewajiban kita melestarikan sesuai ajaran para ulama,” ujar dia menambahkan.

Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (Pakar) Adhe Bhakti, menilai keterlibatan kelompok pro ISIS di Indonesia dengan mendukung gerakan #2019GantiPresiden bukanlah demi memperjuangkan demokrasi itu sendiri. Namun sekadar menunggangi demokrasi demi tujuan akhirnya mengganti sistem pemerintahan dan bernegara.

Gerakan ini, lanjut dia, bisa memecahbelah bangsa seperti tagar 2019GantiPresiden harus disudahi. Terlebih, saat ini di lapangan justru mengarah terjadi kericuhan. Apalagi, belakangan ini Polri menyebut kegiatan ini menimbulkan gangguan kamtibmas, dan ancaman perpecahan.

Adhe menuturkan, kelompok pro ISIS Bekasi pimpinan Abu Nusaibah turut hadir dalam aksi 411 soal penistaan agama yang dilakukan Ahok. Tapi kehadiran mereka disebut Adhe bukan karena peduli soal penistaan agama atau pilkada DKI Jakarta saat itu.