Ribuan Hufaaz (para penghafal Al Qur'an) membaca Al Qur'an 30 Juz secara bersama-sama di Pendopo Gubernur NTB di Mataram, Rabu (27/7). Acara yang bertajuk "Membumikan Al Qur'an" tersebut diikuti 1000 santri se pulau Lombok yang diselenggarakan guna menguatkan mental serta antisipasi generasi muda dari faham radikalisme dan sekaligus memeriahkan MTQ Nasional XXVI di NTB yang akan diselenggarakan 30 Juli-6 Agustus 2016. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/ama/16.

Jakarta, Aktual.com – Membaca alqur’an merupakan ibadah yang paling utama. Karena hal tersebut telah disabdakan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadist yang artinya “ ibadah ummatku yang paling utama adalah membaca alqur an”. Dan banyak lagi hadist lain yang mengupas tentang keutamaan dan pahala dari amal tersebut.

Dalam pelaksanaan membaca alqur’an ada dua acara yaitu bin nadhor (dengan melihat ) ataupun bil hifdzi ( dengan hafalan ). Lalu muncullah sebuah pertanyaan, mana yang lebih utama diantara kedua cara tersebut ?

Secara khusus, Imam Abu Zakariya yahya bin Syarfuddin an Nawawi membahasnya dalam kitab attibyan fi adabi hamalatil qur’an mengenai hal itu, juga pendapat dan amaliyah para salafussalih.

Para sahabat Rasulullah Saw. radhiyyahu ‘anhum sangat senang membaca alqur an lewat tulisan atau binnadhor, bahkan mereka kecewa sekali jika melewatkan harinya tanpa memandang mushaf. Hal tersebut diikuti pula oleh para salafusholihin pada generasi sesudahnya.

Maka atas dasar dari hal itulah, melihat atau memandang tulisan alqur an dalam mushaf merupakan salah satu ibadah yang di anjurkan. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Qodhi Husain seorang ulama bermadzhab Syafi’i , dan disampaikan pula oleh hujjatul islam Abu Hamid Muhammad al Ghazali dalam kitab Ihya ulumuddin.

Tetapi, pada pelaksanaanya juga memandang perbedaan karakteristik individu pelaksananya, jika seseorang lebih mampu berkonsentrasi dan meresapi bacaan alquran dengan cara membaca secara hafalan.

(Abdul Hamid)