AKSES INFORMASI KEUANGAN PERPAJAKAN

Jakarta, Aktual.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi defisit anggaran pada APBNP 2017 mencapai 2,57 persen terhadap PDB atau jauh lebih kecil dari target 2,92 persen terhadap PDB.

“Defisit APBNP yang hanya 2,57 persen ini bahkan dibawah proyeksi 2,6 – 2,7 persen,” kata Sri Mulyani dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (2/1).

Sri Mulyani mengatakan realisasi defisit anggaran tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp1.655,8 triliun dan belanja negara yang telah mencapai Rp2.001,6 triliun.

Realisasi pendapatan negara berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.339,8 triliun atau 91 persen dari target dan penerimaan negara bukan pajak sebanyak Rp308,4 triliun atau 118,5 persen dari target.

Penerimaan perpajakan itu berasal dari penerimaan pajak nonmigas Rp1.097,2 triliun atau 88,4 persen dari target, PPh migas Rp50,3 triliun dari 120,4 persen dari target serta kepabeanan dan cukai Rp192,3 triliun atau 101,7 persen dari target.

“PPN tumbuh 16 persen, PPh nonmigas tumbuh 10,9 persen tanpa ‘tax amnesty’, cukai tumbuh 6,8 persen, bea masuk tumbuh 7,7 persen dan bea keluar tumbuh 34,9 persen,” ujar Sri Mulyani.

Ia menambahkan pencapaian penerimaan perpajakan ini belum mempertimbangkan tambahan menjelang akhir 2017 sebesar Rp4 triliun yang bisa ikut menekan defisit anggaran.

Sementara itu, realisasi belanja negara berasal dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.259,6 triliun atau 92,1 persen dari pagu dan transfer ke daerah dan dana desa Rp742 triliun atau 96,8 persen dari pagu.

Realisasi belanja pemerintah pusat mencakup belanja Kementerian Lembaga sebanyak Rp759,6 triliun atau 95,1 persen dari pagu dan belanja non Kementerian Lembaga Rp500 triliun atau 88 persen dari pagu.

“Penyerapan belanja Kementerian Lembaga termasuk belanja pegawai yang mencapai 93,9 persen, belanja barang 96,9 persen, belanja modal 92,8 persen dan bansos yang sudah mencapai 100 persen,” ujar Sri Mulyani.

Sedangkan realisasi transfer ke daerah telah mencapai Rp682,2 triliun atau 96,6 persen dari pagu dan dana desa sebesar Rp59,8 triliun atau 99,6 persen dari pagu.

Untuk menutup defisit anggaran tersebut, pemerintah telah melakukan pembiayaan utang sebesar Rp426,1 triliun atau 92,4 persen dari target.

Selain itu, ia menambahkan, neraca keseimbangan primer juga mencapai Rp129,3 triliun atau hanya 72,6 persen dari target.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani memastikan APBNP 2017 telah menunjukkan realisasi menggembirakan dari sisi pendapatan, belanja serta terjaganya keberlangsungan fiskal.

“Dengan penyerapan belanja lebih besar, tapi defisit tidak besar, ini berarti APBN memiliki daya dorong dan bisa menggerakkan roda perekonomian tanpa menimbulkan persoalan berkelanjutan,” ujarnya.