13 April 2026
Beranda blog Halaman 37698

Finlandia Mulai Mengubah Total Kebijakan Pendidikan Nasionalnya

Jakarta, Aktual.co —Finlandia melakukan reformasi besar-besaran di kebijakan pendidikannya.

Negara yang selama ini dianggap sukses dalam mengelola kebijakan pendidikannya mulai mengubah fokus pendidikan yang berorientasi “subyek” menjadi berorientasi “topik”.

Apa maksudnya?

Begini contohnya. Seorang murid yang mengambil jurusan tata boga, dengan pengkhususan studi layanan kafetaria, maka tidak akan diajarkan lagi dan diwajibkan ada untuk kuliah matematika, sejarah atau bahasa. Mata kuliah yang akan diajarkan lebih ke arah bagaimana menulis bahasa asing dan cara komunikasi yang benar dengan klien kafetaria.  

Lalu, bagaimana dengan beberapa murid berprestasi yang lebih tertarik ke dunia keilmuan? Pemerintah Finlandia ternyata memilih menyekolahkan murid-murid tersebut ke sekolah-sekolah yang ada di negara-negara tetangganya yang sesuai dengan minat dan prestasi murid tersebut.

Keputusan ini dibuat karena jumlah murid yang berprestasi tidak banyak. Agar fokus, mereka disekolahkan ke sekolah lain yang memang cocok dengan minat murid itu.

“What we need now is a different kind of education to prepare people for working life. We therefore have to make the changes in education that are necessary for industry and modern society,” kata Wali Kota Helsinki Pasi Silander kepada The Independent beberapa waktu lalu.

Tentu ini membuat banyak guru di Finlandia “gerah”. Mereka yang terbiasa dengan pola pendidikan berorientasi “subyek” harus mengubah cara pandangnya untuk lebih fokus ke “topik”.

“Overhaul” kebijakan pendidikan di negara ini direncanakan selesai sampai 2020.

Artikel ini ditulis oleh:

PP PBSI Akui Telat Regenerasi Atlet Muda

Jakarta, Aktual.co — Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto mengakui, pihaknya telat untuk melakukan regenerasi atlet-atlet muda. Setelah melihat prestasi tepok bulu di beberapa ajang internasional yang kurang memuaskan.

Padahal, masyarakat Indonesia berharap, ketika kepengurusan PP PBSI yang baru, di bawah pimpinan Gita Wirjayan, prestasi bulutangkis Tanah Air bisa kembali bersinar seperti dahulu. Tapi kenyataannya, bulutangkis Indonesia malah diambang keprihatinan.

Meski mengaku telat dalam regenerasi atlet muda, Achmad Budiharto mengklaim telah melakukan regenerasi atlet muda di pelatnas Cipayung, Jakarta.

“Tapi, kami telah melakukan regenerasi itu. Hanya saja untuk mencapai kejayaan bulu tangkis seperti dahulu butuh proses,” katanya di Jakarta, Kamis (26/3).

PBSI, lanjut Budiharto, telah mencoba meregenerasi atlet dengan memberikan tanggung jawab dalam pertandingan internasional yang membawa nama tim Indonesia seperti pada Piala Sudirman ataupun SEA Games kepada atlet-atlet muda.

“Pembinaan yang kami lakukan tidak hanya bertumpu pada pembinaan teknik dan fisik, tapi juga pembinaan mental untuk mencetak atlet-atlet berkarakter juara,” kata Budiharto.

Pernyataan Achmad Budiharto ini, terkait dengan evaluasi atlet Indonesia di beberapa internasional yang cukup bergengsi seperti All England, Swiss terbuka dan Jerman terbuka, yang bisa dikatakan pulang dengan tangan hampa.

Khusu di All England, Indonesia hanya mampu membawa satu medali. Itupun medali perak, dari pasangan ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang kalah di partai final oleh pasangan Tiongkok.

Artikel ini ditulis oleh:

Costa Rica Sudah tak Bergantung Lagi Pada Minyak

Jakarta, Aktual.co — Hampir 4 bulan terakhir ini, negara Costa Rica sudah menggunakan 100 persen sumber energi baru terbarukan (renewable energy) untuk konsumsi seluruh kebutuhan energi dalam negerinya.

Apa yang sebenarnya sudah dilakukan negara ini?

Negara kecil dengan penduduk kurang dari 5 juta orang ini ternyata menggandalkan air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan listrik rakyatnya.

Dengan potensi hujan yang ada dan sungainya, pemerintah Costa Rica mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya tanpa bergantung lagi dengan energi fosil seperti minyak atau solar. Demikian pernyataan Costa Rican Electricity Institute seperti dilansi di laman csmonitor.com (24/3).

Memang, jumlah penduduk yang tidak terlalu besar dan tidak ada industri manufaktur di sana membuat kebutuhan enegri listriknya tidak terlalu besar. Negara ini mengandalkan potensi pertanian, pariwisata dan eco-tourism sebagai tulang punggung devisanya.

Langkah besar yang dilakukan negara ini sangat strategis ketika industri minyak global mengalami gonjang-ganjing. Apalagi ketika Venezuela yang sampai saat ini menjual minyaknya dengan diskon besar ke Costa Rica lagi menghadapi masalah dengan turunnya harga minyak global.

Namun pemerintah Costa Rica menyadari, bahwa tidak selamanya hujan terus menerus turun. Ada kalanya, musim kemarau bisa panjang. Dan ini mengakibatkan PLTA yang ada tidak maksimal menghasilkan.

Tak salah jika saat ini, pemerintah Costa Rica juga sedang menggali potensi panas buminya (geothermal) untuk back up PLTA-nya.

Menurut pemerintah Costa Rica, kebijakan energinya sudah menyatakan bahwa pada tahun 2021 energi yang digunakan oleh negaranya sudah tidak menggunakan karbon lagi.

Artikel ini ditulis oleh:

Mantan Pedangdut Minta ARB dan Agung Berdamai

Jakarta, Aktual.co —Ada sesuatu yang menarik dari soft launcing buku “Republik Komedi 1/2 Presiden” karya anggota Komisi III DPR RI, Bambang Soesatyo yang digelar di ruang fraksi Partai Golkar, DPR RI, Jakarta, Kamis (26/3).
Jika di peluncuran-peluncuran buku sebelumnya, Bambang tidak pernah mengikutsertakan seorang wanita, kemarin dia menghadirkan seorang wanita berjilbab bernama Yolanda Yusuf. Mantan pedangdut dan pesinetron, yang sekarang berprofesi sebagai ustazah.
Bamsoet memperkenalkan Yolanda sebagai kader Golkar yang selalu mengikuti perkembangan partai hingga sekarang. 
“Beliau adalah mantan juru kampanye Partai Golkar dulu. Sekarang beliau hadir sebagai masyarakat biasa dan ibu-ibu yang melihat bagaimana pemerintahan dan Golkar sekarang ini,” kata Bamsoet, sembari melirik Yolanda, Kamis, (26/3).
Selain Yolanda, dalam acara itu juga hadir pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, dan Ketua Fraksi Golkar, Ade Komaruddin.
Maksud dihadirkannya Yolanda sepertinya mulai samar terlihat ketika dia memberi sambutan. Yakni saat meminta Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali Aburizal Bakrie dan Ketum Golkar hasil Munas Ancol, Agung Laksono untuk berdamai.
“Saya berharap Pak ARB dan Pak Agung Laksono untuk berdamai,” ujar Yolanda.
Dari penelusuran aktual.co, sebagai kader Golkar, Yolanda ternyata pernah diisukan dekat dengan mantan Ketua DPR RI, Agung Laksono.
Keduanya dikabarkan pernah menjalin hubungan sekitar tahun 2007. Waktu itu Agung menjabat posisi Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan sekaligus sebagai Ketua DPR RI.
Awak media pun bertanya-tanya. Apakah latar belakang itu yang membuat Yolanda dihadirkan dalam peluncuran buku Bamsoet kali ini?
Namun Bamsoet justru membantah rumor itu. “Nggak benar itu. Gak lah,” jawab dia usai peluncuran buku.

Artikel ini ditulis oleh:

Mahir Berbahasa Jawa Lisan dan Tulisan adalah Suatu Kebanggaan

Jakarta, Aktual.co — Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Pardi Suratno mengingatkan masyarakat, khususnya di wilayah Jateng patut berbangga jika mahir berbahasa Jawa, baik lisan maupun tulisan.

“Pak Gubernur (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, red.) sudah mengeluarkan surat edaran (SE) yang menginstruksikan penggunaan bahasa Jawa secara lisan setiap Kamis,” katanya di Semarang, Kamis (26/3).

Hal tersebut diungkapkannya di sela lomba pidato berbahasa Jawa yang diikuti ratusan peserta, terbagi atas kelompok satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Jateng dan kelompok masyarakat umum.

Sesuai dengan SE Gubernur Jateng Nomor 430/9525 tentang Penggunaan Bahasa Jawa untuk Komunikasi Lisan di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jateng disepakati menggunakan bahasa Jawa setiap Kamis.

“Nyatanya, aturan itu belum berjalan sesuai yang diharapkan. Banyak lingkungan SKPD yang tidak menggunakan bahasa Jawa setiap Kamis. Ada dua kemungkinan penyebab aturan itu belum berjalan,” katanya.

Pertama, kata dia, kemampuan atau kemahiran berbahasa Jawa yang dimiliki perangkat SKPD masih kurang dan kemungkinan kedua adalah malu menggunakan bahasa Jawa karena tidak ingin dikatakan kuno.

“Kenapa harus malu? Justru seharusnya bangga di masa sekarang ini masih bisa berbahasa Jawa secara baik dan benar, yang tentunya harus terintegrasi dengan etika dan kesopan-santunannya,” tukasnya.

Pardi mengakui sekarang ini sudah banyak generasi muda yang tidak bisa berbahasa Jawa, terutama secara “krama” atau tingkatan halus dalam berbahasa Jawa, padahal bahasa Jawa merupakan bahasa daerah.

“Makanya, perlu berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemahiran berbahasa Jawa, seperti lomba pidato bahasa Jawa ini. Kalau kami hanya bersifat membantu Pemerintah Provinsi Jateng,” tukasnya.

Ke depannya, ia berharap seluruh pihak terkait di jajaran Pemprov Jateng, seperti Dinas Pendidikan serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan peduli bahasa Jawa dan bisa melakukan langkah serupa.

“Ya, kan bisa lewat pelatihan-pelatihan atau lomba berbahasa Jawa. Perlu membangun opini masyarakat terhadap pentingnya berbahasa Jawa dengan meningkatkan kemampuan dan kemahiran berbahasa,” kata Pardi.

Artikel ini ditulis oleh:

Bamsoet: Jokowi Tidak Tegas Buat Kebijakan

Jakarta, Aktual.co —Pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu dianggap gagal memberikan sosok presiden seutuhnya buat Indonesia. Empat bulan menjabat sebagai kepala negara, Presiden Joko Widodo dinilai tidak tegas mengambil kebijakan.
Pendapat tersebut dilontarkan politisi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, saat konferensi pers peluncuran buku berjudul ‘Republik Komedi 1/2 Presiden’, di ruang fraksi Golkar, di Gedung DPR RI, Senayan, Kamis (26/3).
Sekretaris Fraksi Golkar Munas Bali itu mencontohkan ketidaktegasan Jokowi sebagai presiden. Salah satunya terkait pembentukan kabinet. Dimana Jokowi awalnya tegas mengatakan hanya mengisi kabinetnya dengan kalangan profesional alias non partai. Tetapi kenyataannya kemudian membuktikan kalau omongan Jokowi tidak konsisten.
“Presiden tidak menjadi dirinya sendiri, dia mengatakan tidak akan mengambil menteri dari politisi, tapi kenyataannya tidak konsisten antara omongan dengan sikap,” kata Bambang.
Menurut Bambang, Jokowi seperti ada yang mengendalikan sehingga tidak bisa mandiri sebagai presiden. Isi bukunya, kata Bambang, juga menggambarkan bagaimana perilaku anak buah presiden yang cenderung ikut membuat negeri ini sebagai ajang komedi.
“Banyak perilaku dan tindakan para menterinya yang lucu-lucu, seperti yang tidak pernah blusukan kemudian blusukan sampai lompat pagar. Terkadang ada guru yang melarang anak muridnya untuk memasukan bajunya, tapi muridnya mengatakan presiden saja tidak rapih. Itu kelucuan yang terjadi, terlebih soal kebijakan-kebijakannya,” ucap dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Berita Lain