7 April 2026
Beranda blog Halaman 42281

Kartu Sakti Jokowi Harus Ditunda, Ini Alasannya

Jakarta, Aktual.co — Koordinator Presidium Forum Mahasiswa Aktivis Pemerhati Hukum dan Demokrasi Indonesia (Formakpi) Andi Awal Mangantarang mengatakan, tiga kartu sakti Presiden Jokowi, Kartu Indonesia Sehat (KIH), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), harus ditunda.
Hal itu lantaran ketiga kartu itu belum jelas dari mana anggarannya, belum berkoordinasi dengan DPR RI, dan belum jelas dasar hukumnya.
“Kami meminta hendaknya Jokowi menunda seraya memperbaiki sistem, melakukan validitas data penerima agar tepat sasaran, serta memperjelas legitimasi hukumnya,” kata dia, Senin (10/11).
Dirinya pun berharap program kartu sakti tersebut mengedepankan transparansi.
“Saya rasa kalau benar dan transparansi serta tepat sasaran untuk rakyat kecil, kritikan sekeras apapun tak masalah,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

WKSI: Pergerakan Rupiah Cenderung Variatif

Jakarta, Aktual.co — Laju Rupiah di akhir pekan kemarin terapresiasi setelah pelaku pasar merespon positif rilis data-data Jerman dan Perncis yang lebih baik dari sebelumnya. Hal tersebut berimbas pada laju Euro.

Analis dari Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI), Reza Priyambada mengatakan bahwa adanya ekspektasi akan penurunan pada payrolls AS membuat laju Dolar Amerika Serikat (AS) terkena profit taking dan melemah. Di sisi lain, penguatan tipis terhadap Yen turut melemahkan Dolar AS dan dimanfaatkan Rupiah untuk menguat.

“Di sisi lain, penguatan tipis Yen setelah rilis kenaikan investasi di Jepang turut melemahkan US$ sehingga dapat dimanfaatkan Rupiah untuk menguat,” ujar Reza dalam risetnya yang diterima di Jakarta, Senin (10/11).

Pada perdagangan hari ini, Reza memperkirakan Rupiah berada di atas level resisten 12.170, yaitu Rp12.165-12.130 kurs tengah Bank Indonesia (BI).

“Laju Rupiah sedang mencoba berbalik menguat. Namun demikian, laju nya masih rentan terhadap pembalikan arah dan pergerakannya pun cenderung variatif,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Rabu, Presiden Paparkan Konsep Poros Maritim di Myanmar

Jakarta, Aktual.co — Presiden Joko Widodo akan memaparkan konsep poros maritim yang diusung pemerintahannya dalam pertemuan puncak Asia Timur (East Asia Summit), di Myanmar, 12-13 November.
“Presiden akan menggunakan KTT Asia Timur untuk menjelaskan dengan lengkap komponen-komponen dari poros maritim dunia, jadi di Myanmar,” kata Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto di Beijing, Minggu (9/11) malam waktu setempat.
Forum EAS mewadahi sepuluh negara Asia Tenggara –Indonesia, Myanmar, Vietnam, Brunei, Thailand, Laos, Kamboja, Singapura, Filipina dan Malaysia– dengan delapan mitranya yaitu Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, AS, Rusia, Selandia Baru, Australia dan India.
Sementara itu dalam pertemuan puncak Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Beijing, Tiongkok, Presiden hanya akan menyampaikan mengenai konektivitas maritim atau tol laut.
“Maritime connectivity saja, tol lautnya saja. Tol laut hanya merupakan satu komponen dari komponen-kompenen poros maritim,” kata Andy.
Dia mengatakan, saat Indonesia menjadi tuan rumah APEC pada 2013 salah satu proposal Indonesia memang konektivitas.
Menurut Seskab, dalam tiga tahun akan dikembangkan 24 pelabuhan, empat di antaranya pada 2015.
Saat ini, kata dia, pemerintah tengah membahas usulan mempertemukan konsep tol laut Indonesia dengan gagasan jalur sutera abad 21 Tiongkok.
“Kalau gagasan jalur sutera abad 21 Tiongkok kan proyek infrastruktur, pertama jalur darat trans-siberia, dari Moskow sampe Shanghai. Kedua, konektivitas maritim dari Afrika sampai Hindia, lompatnya di India, Bangladesh, Myanmar terus masuk ke Selat Malaka atau lewat selatan yang masuk lewat Selat Lombok, Selat Sunda, dari situ terus ke utara masuk ke laut tingkok selatan,” kata dia.
Tiongkok, tambah Seskab, memang sudah lama mempunyai program itu yang menghubungkan tata niaga dari Eropa-Asia Tengah-Asia Timur melalui darat dan tata niaga dan jalur energi dari Afrika-Asia Selatan-Asia Timur.
Presiden Joko Widodo selama sembilan hari melakukan kunjungan kerja ke tiga negara untuk menghadiri pertemuan puncak APEC di Tiongkok, ASEAN di Myanmar dan G20 di Australia.

Artikel ini ditulis oleh:

Polisi Musnahkan 11 Hektar Ladang Ganja di Kabupaten Madina

Medan, Aktual.co —Seluas 11 hektar ladang ganja ditemukan pihak kepolisian resort Madina, tepatnya di Desa Simandolam, Kecamatan Kotanopan Kabupaten Madina, Minggu (9/11).
Kapolres Madina, AKBP Mardiaz Husien kepada awak media menyebutkan, 11 hektar ladang ganja itu terdiri dari 10 hektar ganja siap panen dan satu hektar baru disemai.
“Di TKP Polisi temukan sekira 75.000 batang pohon,di TKP juga ditemukan ganja yang sedang dijemur sekitar 2.000 btg, alat timbangan, 10 pondok petani,” kata Mardiaz, Minggu (9/11).
Penuturan Mardiaz, usai penggrebekan yang dilakukan bersama Badan Nasional Narkotika Kabupaten (BNNK) Madina, pihaknya langsung melakukan pembakaran terhadap tanaman ganja itu. 
“Polisi kemudian langsung melakukan pembakaran ladang ganja tersebut,” katanya.
Sayangnya, lanjut Mardiaz, para pelaku penanam belasan hektar ganja itu kabur dan berhasil melarikan diri dari pengejaran petugas yang menerjunkan 38 polisi dan 15 personil BNNK itu.
“Selain barang bukti yang dibakar, sebagian dibawa ke kantor sebagai sampel barang bukti,” tandasnya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Pramono Anung: Caleg Bisa Habiskan Rp 48 Miliar

Jakarta, Aktual.co — Politikus PDI Perjuangan Pramono Anung mengatakan, calon anggota legislatif hasil Pemilu 2014 bisa menghabiskan biaya mulai Rp 2 miliar hingga Rp 48 miliar, padahal gaji legislator hanya puluhan juta.
“Itu hasil penelitian saya dan pemilu sebelumnya masih 50 persennya, tapi meski tidak memuaskan bukan berarti pilkada langsung harus diubah, melainkan sistem pemilu yang buruk dalam pilkada langsung itulah yang harus diubah,” kata dia dalam Sekolah Wakil Rakyat yang diadakan Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Dia menjelaskan sistem pemilu yang menganut proporsional terbuka memang membuat ‘hight cost’. “Itu tidak bagus. Karena itu jangan menggunakan proporsional terbuka yang bergantung ‘pasar’ (rakyat) lagi. Sebab hight cost dan tidak mendidik rakyat, sehingga banyak pengusaha masuk parleman untuk cari ‘perlindungan politik’ bagi usahanya,” kata dia.
Namun, jikalau kembali ke proporsional tertutup (nomor urut caleg) juga tidak baik, karena bergantung parpol dan rakyat tak berdaulat. “Mungkin proporsional gabungan antara terbuka dan tertutup.”
Selain itu, fungsi legislasi DPR juga harus ditata lagi. “DPR itu jangan teknis, misalnya dalam membuat UU harus ada pakar dalam legislasi center yang bebas kepentingan dalam membuatnya, lalu DPR tinggal memutuskan secara politik,” katanya.
Tidak hanya perbaikan sistem politik, katanya, namun perbaikan juga perlu dilakukan dalam supremasi hukum yang masih rendah dan mudah dipermainkan pihak-pihak tertentu, bahkan pemberantasan korupsi juga belum membuat jera para koruptor.
“Sistem otonomi daerah juga perlu diperbaiki agar tidak memunculkan dinasti politik dan bisa kembali kepada tujuan semula adanya otonomi daerah untuk mendorong munculnya potensi daerah yang berperan secara nasional,” kata dia.
Menurut dia, perbaikan di segala bidang perlu dilakukan, sebab apa yang dilakukan Indonesia sudah menuju perbaikan, meski belum memuaskan.
“Buktinya, perekonomian Indonesia tumbuh cukup baik di tengah-tengah pertumbuhan yang menurun yang dialami bangsa-bangsa lain di dunia, bahkan negara-negara di Eropa juga masih minus,” kata dia.
Dalam Sekolah Wakil Rakyat yang diikuti 130 mahasiswa dari 19 universitas di Surabaya itu terungkap agenda reformasi yang sudah berjalan menuju perbaikan yakni kebebasan pers, pilpres/pilkada langsung, penghapusan Dwi Fungsi ABRI/TNI, pembentukan lembaga negara yang baru seperti MK, KY, dan KPK, dan sebagainya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Jokowi dan Etika Jawa

Hari itu ada hajatan besar di Solo.

Sejak pagi hari di Kamis pahing, tanggal 1 Bakdamulud yang bertepatan dengan tanggal 23 Februari 2012 sudah terlihat tanda-tanda kesibukan di Solo Technopark, Jalan Ki Hajar Dewantara Jebres Solo.

Ya. Pada Kamis malam itu (masuk malam Jumat pon 24 Februari 2012) Jokowi akan menggelar acara Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (pencucian) Mobil Esemka Rajawali AD 1 A dalam adat Jawa sebelum berangkat ke Tangerang untuk uji emisi esok harinya.

Satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam sudah disiapkan bersama bejana perak berisi air dan bunga setaman tujuh warna.

Tampak disana mobil dinas Wali Kota Esemka warna hitam diuntai kembang setaman dari rangkaian bunga mawar merah dan putih, kantil kuning dan putih, kenanga dan melati yang dianggap sebagai penolak bala.

Sejumlah penari dengan gerakan gemulai mengikuti alunan dandanggula. Ketika gerak dan irama itu sudah mulai menyulap suasana, Wali Kota Jokowi dipersilakan menyiram secara perlahan air bunga tujuh rupa dalam bejana perunggu itu ke mobil. Menyusul kemudian Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo.

Setelah jamasan selesai, enam tokoh agama dari Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu dan Konghucu bergantian
mendoakan agar mobil dinas Wali Kota Solo itu sukses ketika uji emisi. “Kita berdoa untuk keselamatan Esemka dalam perjalanan dan kesuksesan uji emisi Esemka,” komentar Jokowi yang saat itu mengenakan beskap lurik khas Solo dihadapan beberapa media.

Mobil Esemka Rajawali menjadi salah satu alat penting bagi Jokowi untuk mendongkrak pencitraanya. Meskipun, kabar terakhir, ternyata mobil Esemka bermasalah.

Di Tanjung Priok, Rabu 22 Oktober 2014, beberapa waktu lalu.

Jokowi akan mengumumkan susunan kabinetnya tanpa dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla. Meski nama menterinya belum lengkap karena beberapa nama dikabarkan ditandai merah dan kuning oleh KPK dan PPATK, Presiden Jokowi tetap bersikeras akan mengumumkan nama menteri.

Menurut tradisi Istana Kepresidenan, susunan kabinet biasanya diumumkan di Istana Presiden. Dan itu harus lengkap. Tidak dicicil. Setidaknya, Wapres Jusuf Kalla dalam beberapa pernyataannya, sudah mengisyaratkan hal itu.

Dan memang, akhirnya Jokowi membatalkannya. Lalu muncul spekulasi dan rumor. Mulai dari pengamat, politisi sampai dan media membicarakan alasan mengapa Jokowi keukeuh ingin mengumumkan pada Rabu 22 Oktober jam 20.00 malam (dalam kalender Jawa, masuk malam Kamis Kliwon) dan mengapa juga digagalkan sendiri oleh Jokowi.

Namun dari sekian banyak komentar, yang paling menggelitik adalah komentar Khofifah Indar Parawansa sebelum dia dipastikan jadi Menteri Sosial di kabinet Jokowi-JK : “Saya kira ini karena 1 Muharram (1 Sura.red), hari (atau bulan) yang dianggap jelek ini,” kata Khofifah ketika berbincang dengan Pemimpin Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, Edy Lukmanul Karim bin Abdullah Fattah pada Jumat (24/10/2014) malam (suara.com).

Sebagai orang Solo yang sangat menghormati etika Jawa Mataraman, Jokowi sebenarnya ingin memberi sinyal politis bahwa dia tidak bisa melakukan hajatan besar pada bulan Sura (Asyuraa, arab.red), awal perubahan tahun Jawa. Ingat, pada Jumat sore Sabtu tanggal 24 Oktober 2014, dalam kalender Jawa sudah masuk bulan Suro yakni tanggal 1 Suro kalender Jawa atau tanggal 1 Muharram dalam kalender Islam.

Bagi orang yang memegang teguh etika Jawa, bulan Sura, terutama malam menjelang 1 Suro, memiliki makna fisik dan spiritual. Bulan Sura menandai bergantinya Naga Dina dan Naga Tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis dan dunia gaib.

Begitu pentingnya bulan Sura, Kesultanan Yogya dan Solo selalu memperingati besar-besaran bulan ini. Ini bulan selain untuk introspeksi diri, juga menjadi tempat untuk melakukan acara selamatan, ruwatan, atau bentuk tradisi lain menolak bala.

Jadi, orang Jawa yang masih memegang teguh etika Jawa tidak akan pernah melakukan hajatan besar di bulan ini. Takut terkena bala, katanya. Di beberapa tempat di tanah air dan negara lain juga melakukan hal yang sama, namun lebih pada memperingati syahidnya Sayyidina Husain ibn Abu Thalib ra.

Entah benar atau tidak komentar Khofifah itu. Namun, setidaknya, salah satu cara untuk memahami cara Jokowi melakukan komunikasi politik juga harus dilihat dari sisi yang lain: Etika Jawa.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain