19 April 2026
Beranda blog Halaman 42366

Disnakertrans Jakut Berharap Bursa Kerja Bukan Sekedar Formalitas

Jakarta, Aktual.co —Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigasi Pemerintah Kota Jakarta Utara mengharapkan bursa kerja bukan sekadar formalitas, namun menjadi salah satu langkah nyata mengurangi angka pengangguran.
“Bursa kerja harus dimanfaatkan masyarakat yang belum bekerja dan perusahaan tidak main-main menerima karyawan,” ujar Kepala Suku Dinas Nakertrans Jakarta Utara Mujiono di Jakarta, Jumat (7/11).
Setelah menggelar bursa kerja tahap pertama pada 28-29 Oktober 2014, pihaknya bulan ini kembali mengadakan kegiatan serupa dengan menambah jumlah perusahaan agar ikut berpartisipasi.
“Harapannya jumlah pelamar yang diterima akan semakin banyak,” katanya.
Pihaknya akan menggelar bursa kerja tahap dua ini digelar 25-26 November 2014 di Hypermart Kelapa Gading Trade Center di Jalan Raya Boulevard Barat.
Lebih dari 55 perusahaan yang tersebar di kawasan Jakarta Utara dipastikan ambil bagian dan mencari karyawan-karyawan baru sesuai kapabilitas dan kebutuhan perusahaan.
Ia meminta kepada para pelamar pada bursa kerja nantinya mempersiapkan segala persyaratan sesuai keahliannya, serta tidak menyia-nyiakan kesempatan bekerja di perusahaan yang diinginkan.
“Keuntungan mencari pekerjaan di bursa kerja, pelamar bisa memasukkan surat lamaran di beberapa perusahaan pada satu tempat. Target kami, angka pengangguran semakin menurun,” katanya.
Di wilayahnya, lanjut dia, dikenal dengan kawasan industri yang membutuhkan banyak pekerja sektor formal, seperti perusahaan otomotif, insfrastruktur dan sebagainya.
Selain sesuai instruksi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DKI Jakarta, pelaksanaan bursa kerja juga merupakan inisiatif pengentasan kemiskinan bagi masyarakat setempat.
“Pemerintah akan terus berupaya mengurangi dan mengentas pengangguran sehingga diperlukan terobosan-terobosan sebagai bentuk kepedulian,” katanya.
Dari data yang dimiliki Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakarta Utara, jumlah pengangguran terbuka di DKI Jakarta mencapai lebih dari 500 ribu orang dengan 100 ribu orang di antaranya merupakan warga Jakarta Utara.
Dari jumlah tersebut mayoritas pengangguran merupakan usia produktif antara 18-35 tahun.
Sementara itu, catatan pada bursa kerja tahap I yang diselenggarakan di Koja Trade Mal lalu, pencari kerja yang hadir mencapai 3.700 orang dalam dua hari pelaksanaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

KNPI Somasi Pimpinan DPR Tandingan

Jakarta, Aktual.co — Ketua Umum DPP KNPI Taufan En Rotarasiko, yang juga menantu dari Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie itu melayangkan somasi agar Koalisi Indonesia Hebat (KIH) membubarkan pembentukan pimpinan DPR tandingan, menyusul adanya dualisme kepemimpinan di DPR RI.
“Bahwa tindakan saudara tidak berdasarkan untuk kepentingan rakyat, lebih kepada kepentingan pribadi dan kelompok untuk mengejar kekuasaan di parlemen dan hal ini sangat mencederai hati rakyat yang telah memilih saudara dan bahkan menggaji saudara di DPR,” kata Aktivis LBH Pemuda Robi Anugerah Marpaung, selaku kuasa hukum Taufan Rotarasiko, melalui pernyataan tertulis, Jumat (7/11).
Somasi itu ditujukan kepada pimpinan sementara DPR RI yang dibentuk KIH yakni Ida Fauziah (PKB), Effendi Simbolon (PDIP), Dossy Iskandar (Hanura), Syaifullah Tamliha (PPP), dan Syarifuddin (NasDem).
Dalam somasi itu, ada 10 poin yang disampaikan LBH Pemuda kepada pimpinan sementara DPR RI dari KIH di DPR RI.
Menurut Robi A Marpaung, dari poin-poin itu prinsipnya menyangkut pembentukan pimpinan dan perangkat DPR-RI oleh KIH yang dapat membahayakan badan pemerintahan (Pasal 146 sampai 148 KUHP).
“Tindakan saudara sebagai anggota DPR RI terpilih melakukan suatu perbuatan dalam rangka mengadakan pimpinan DPR tandingan maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana,” kata dia.
Robi menjelaskan, surat somasi dilayangkan pada Kamis (5/11), dan bakal mengarah pada upaya tindakan hukum pidana dan perdata jika dalam waktu sepekan tidak ada permintaan maaf dari pihak yang disomasi sekaligus pembubaran kepemimpinan DPR dari KIH.
LBH Pemuda mengingatkan, bahwa kliennya sangat mendukung pemerintah terpilih dan segala kinerja pemerintah yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. 

Artikel ini ditulis oleh:

Pakar: Pelaksanaan Jaminan Sosial Sudah Tidak Keruan

Jakarta, Aktual.co — Jakarta, Aktual.co —Pencetus ide Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Dr Emir Soendoro menilai pelaksanaan jaminan sosial di Indonesia sudah tidak keruan dan melenceng dari rencana awalnya.
“Ide awalnya BPJS itu hanya satu dan kepalanya merupakan pejabat setingkat menteri. Namun, sekarang ada dua BPJS, masih ada berbagai kartu jaminan sosial lagi yang dibagikan pemerintah,” kata Emir Soendoro kepada Antara di Jakarta, Jumat (7/11).
Emir mengatakan ide awal jaminan sosial adalah penyatuan antara Jamsostek, Askes, Jasa Raharja, Taspen dan Asabri. Uang yang diiurkan peserta juga tidak akan hilang karena akan diberikan ketika peserta mencapai usia tertentu.
Menurut Emir, perubahan Askes menjadi BPJS Kesehatan dan Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan juga seharusnya tidak mengubah hak-hak peserta yang sudah terdaftar sebelum transformasi menjadi BPJS.
“Kalau diubah semua seperti ini, orang-orang yang dulu menjadi peserta Askes dan Jamsostek bisa kecewa karena merasa ada penurunan layanan,” tuturnya.
Emir mengatakan dia memiliki ide mengenai jaminan sosial berdasarkan pengalaman empirisnya saat menjadi dokter dan sempat berdinas di TNI Angkatan Laut setelah menempuh pendidikan di Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil) pada periode 1980-an.
Saat itu, dia yang bertugas di Rumah Sakil Angkatan Laut melihat tentara tidak perlu khawatir dengan diri dan keluarganya karena sudah ada jaminan kesehatan dari Asabri.
Semua tentara dan keluarganya, mulai dari tamtama hingga perwira, tidak perlu berpikir biaya kesehatan sama sekali.
“Jadi, mereka bisa bekerja optimal untuk negara. Tidak perlu lagi berpikir, nanti kalau saya dan keluarga sakit bagaimana. Semua sudah ada yang menanggung,” katanya.
Namun, di sisi lain, istrinya yang bekerja di sebuah puskesmas menceritakan masih banyak orang, khususnya petani, yang kesulitan biaya saat sakit dan harus berobat.
“Karena itu, saya berpikir harus ada jaminan sosial yang bisa melindungi seluruh warga negara,” ujarnya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Wayang Sakral Jadi Doa Kemakmuran Petani Merapi (Bag. 2)

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Lailly Prihatiningtyas berbincang-bincang dengan pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sitras Anjilin.
Ratusan orang berasal dari berbagai desa di kawasan Gunung Merapi sudah berdatangan pada Kamis (6/11) malam, memadati pendopo padepokan seni budaya yang dibangun pada 1937 oleh tokoh spiritual, Romo Yoso Sudarmo (1885-1990).
Sebelumnya, para Pandawa telah mengutus Abimanyu (Widyo Sumpeno) dan Gatotkaca (Darmawan) dengan didampingi punakawan, yakni Semar (Cipta Miharsa), Petruk (Gondo Wardoyo), Gareng (Sarwoto), dan Bagong (Prihatin) untuk menghadap Begawan Abiyasa, guna meminta restu pembangunan “Lumbung Tugu Mas”.
“‘Kekarepan luhur dakpangestoni’ (Kehendak mulia, saya merestui, red.),” begitu Abiyasa yang ditemui utusan para Pandawa itu di Pertapaan Saptaarga.
Sitras Anjilin yang juga salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung, beranjak menggantikan posisi Suwonto sebagai dalang. Sambil bersila di bawah dupa di tepi panggung pementasan, tangannya beberapa kali terayun, menebarkan beras ke kanan dan kiri tempatnya mendalang.
Rapalan-rapalan berbahasa Jawa meluncur dari Sitras, sambil terdengar tembang dari balik panggung tentang permohonan kepada para dewa untuk turun memberikan pusakanya kepada Pandawa guna membangun “Lumbung Tugu Mas”.
“‘Sang Yang Sri, tumuruna aneng taman agung, mahyonono tanem tuwuh mrih pratani, pinaringan subur makmur. Tumuruna aneng taman agung, mugi kasembadan kang kasedyanira’,” demikian sepenggal kalimat tembang doa yang terdengar dalam iringan gender bernuansa takzim.
Kira-kira maksud kalimat tembang tersebut, permohonan kepada Dewi Sri agar berkenan turun ke bumi Merapi, memberikan kesuburan pertanian, dan mengabulkan permintaan masyarakat untuk mendapatkan kehidupan semakin makmur.
Babak doa dalam pementasan wayang sakral selepas pukul 00.00 WIB, dikisahkan dipandu oleh Semar dengan punakawan lainnya. Mereka membakar dupa dalam tungku, sedangkan di tahta Indraprasta duduk Kresna dan Puntadewa, menantikan kedatangan para dewa dari kayangan guna menyerahkan berbagai pusakanya untuk membangun “Lumbung Tugu Mas”.
Tercatat 16 pusaka dari para dewa dan dewi diserahkan kepada para Pandawa, yang satu per satu diterima oleh punakawan, yakni pusaka bernama Sandang Walikat, Cangkok Wijaya Kusuma, Cangkok Sari Kenoko, Cangkok Joyomulyo, Kiai Susuk Sosro Bau Kenoko, Kastubo Urip, Kiai Jati Sampurna, Cepoko Sari, Kiai Blabar Gelap, Kiai Klabung Kusumo, Kiai Candi Sari, Kiai Candi Roso, Kiai Pembayun, Kiai Jangkar Sari Kenoko, Kiai Jangkar Wido Kenoko, dan Kiai Trekoso.
Saat adegan itu, padepokan seakan dalam balutan nuansa teduh, tenang, dan takzim. Seakan, semua yang hadir di pendopo larut begitu saja oleh alunan gending-gending gamelan yang ditabuh perlahan-lahan, merasukkan kalimat-kalimat doa dengan makna yang mudah ditangkap oleh benak setiap orang.
Tyas yang juga pegiat Komunitas Lima Gunung itu, mengungkapkan bahwa doa tak sekadar laku ritual.
Namun, katanya, tembang, lakon dan wayang, serta kata-kata, juga menjadi jalan interaksi antara manusia dan Tuhan dengan berbagai sifat kebenaran, yang menjadikan manusia lebih baik.
Selagi pesan-pesan kebaikan Tuhan terus menerus ditebarkan, kehidupan yang lebih baik menjadi keniscayaan.
“Doa di sini dibungkus dengan indah untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik. Segala doa diterima, menghasilkan hal-hal yang indah. Umur juga diisi dengan segala doa-doa,” katanya.
Seketika, doa mereka dalam wujud wayang sakral “Lumbung Tugu Mas” saat puncak “Suran Tutup Ngisor”, terasa telah menjadi selimut hangat padepokan di Gunung Merapi itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Wayang Sakral Jadi Doa Kemakmuran Petani Merapi (Bag. 1)

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Lailly Prihatiningtyas berbincang-bincang dengan pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sitras Anjilin.
Ratusan orang berasal dari berbagai desa di kawasan Gunung Merapi sudah berdatangan pada Kamis (6/11) malam, memadati pendopo padepokan seni budaya yang dibangun pada 1937 oleh tokoh spiritual, Romo Yoso Sudarmo (1885-1990).
Begitu juga mereka lainnya datang dari berbagai kota dan berjejaring dengan komunitas petani setempat itu, telah berada di padepokan yang letaknya di tepian alur Sungai Senowo, sekitar enam kilometer barat daya puncak Gunung Merapi.
Di antara mereka yang turut memadati pendopo padepokan dengan panggung prosenium, adalah rombongan berjumlah sekitar 100 mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dipimpin dua pengajarnya, Joko Aswoyo dan Eko “Pebo” Supendi, saat puncak tradisi budaya para petani setempat yang dikenal sebagai “Suran Tutup Ngisor”.
Bergabung juga di dalam pendopo padepokan di kawasan Gunung Merapi yang malam itu, udaranya cukup dingin dengan awan bergumpal-gumpal di langit, tepat pada 15 Sura 1948 (kalender Jawa) yang identik dengan bulan purnama, antara lain Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Edi Susanto, Kepala Kepolisian Sektor Dukun AKP Eko Mardiyanto, Sekretaris Kecamatan Dukun Bambang Hermanto, budayawan Magelang Sutanto Mendut, dan Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Supadi Haryanto.
Semua sanak keluarga padepokan mengenakan pakaian adat Jawa, antara lain bebet, surjan, dan belangkon, menyambut dengan ramah para tamu yang datang pada peringatan hari istimewa komunitas itu. Lingkungan padepokan juga diinstalasi dengan berbagai anyaman janur, jerami, aneka hiasan bambu, dan taburan kembang mawar warna merah dan putih, serta pelita terbungkus gedebok di berbagai tempat.
Selama beberapa saat sebelum pentas wayang sakral penanda puncak “Suran Tutup Ngisor”, Supadi Haryanto bersama beberapa pegiat komunitas seniman petani dari kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh itu, berjalan ke pemakaman Romo Yoso di belakang kompleks padepokan, untuk ziarah kubur dan berdoa.
Perbincangan antara Tyas yang direktur utama termuda di perusahaan di bawah badan usaha milik negara itu, dengan Sitras malam tersebut, seputar arti penting pergelaran wayang sakral dengan lakon “Lumbung Tugu Mas” dan seluruh rangkaian perayaan besar bernuansa wajah desa, “Suran Tutup Ngisor”, yang kali ini berlangsung selama empat hari, 4-7 November 2014.
Keluarga padepokan, setiap tahun memiliki kewajiban menggelar empat tradisi, yakni perayaan tahun baru Jawa bernama “Suran” (Suran Tutup Ngisor), peringatan HUT RI, perayaan Idul Fitri, dan Maulud Nabi Muhammad SAW.
“Ini adalah cara kebudayaan keluarga padepokan, berdoa untuk semua orang dan melibatkan mereka dengan berbagai latar belakang, agar pertanian tetap subur dan masyarakat petani Merapi beroleh kemakmuran dan keselamatan,” kata Sitras dalam sepenggal perbincangan dengan Tyas sebelum didaulat menyampaikan kesan personalnya tentang padepokan seni budaya itu di atas panggung prosenium.
Budayawan yang juga penerima Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2014 dari pemerintah pusat pada 3 Oktober yang lalu, Sutanto Mendut menyebut padepokan dengan pendukungnya sebagai pusaka bangsa. Sebutan “pusaka” yang dimaksud Sutanto untuk padepokan itu, tentunya bukan sebatas pusaka bendawi, akan tetapi juga pusaka tak bendawi.
Perjalanan waktu, menurutnya, telah membawa mereka melewati klaim sebagai hebat dan sebagai pelestari kesenian tradisional. Mereka telah menentukan jalan kebudayaannya sebagai bagian tak lepas dari kehidupan sehari-hari. Sitras bahkan mengaku risi dengan sebutan “nguri-uri” (melestarikan) kebudayaan.
Sutanto menyatakan optimistis bahwa kekuataan desa, spirit pertanian, dan lingkungan alam Gunung Merapi akan terus menuntun kehidupan kebudayaan mereka dengan multikompleks tantangannya.
“Padepokan ini mengajari setiap orang tentang tidak ada gunanya kesombongan dan arogansi sektoral. Padepokan ini telah mengajari arti penting pergaulan yang panjang,” katanya dalam pidato kebudayaan, sebelum pentas wayang sakral “Lumbung Tugu Mas” dengan tabuhan gamelan bertalu-talu dan tembang-tembang berbahasa Jawa oleh para pesinden.
Puncak Tabuhan gamelan mengiring berbagai adegan hingga puncak pementasan wayang orang sakral, “Lumbung Tugu Mas”, dengan dituntun oleh dalang Suwonto. Lakon itu, karya Romo Yoso bersumber inspirasi kehidupan petani dan Dewi Sri yang dalam mitologi Jawa sebagai lambang kesuburan.
Lakon wayang sakral tersebut, tentang rencana mulia keluarga Pandawa membangun lumbung dengan penuh tantangan dan jalan pencapaian yang harus mereka tempuh. Lumbung adalah tempat menyimpan padi, hasil panenan petani.
Berbagai tantangan membangun lumbung itu, disimbolkan dengan gangguan para raksasa terhadap perjuangan keluarga Pandawa..
Salah satu adegan pementasan itu, berupa pertemuan keluarga Pandawa di Kerajaan Indraprasta dipimpin oleh Prabu Kresna (Marteja). Digambarkan juga tentang kehadiran, antara lain Puntadewa (Hari), Bima (Saparno), Arjuna (Eka Pradaning), Nakula (Suroso), Sadewa (Slamet Widodo), serta para punakawan.
Kresna juga menjelaskan dalam pertemuan itu, tentang makna “Lumbung Tugu Mas” yang kira-kira sebagai tempat kemakmuran, dibangun dengan tekad yang teguh, demi mencapai cita-cita luhur manusia.
Dikisahkan juga, Kresna mengonfirmasi kepada Puntadewa tentang restu Begawan Abiyasa (Untung Pribadi) atas rencana membangun “Lumbung Tugu Mas” agar masyarakat hidup makmur, damai, dan terbebas dari malapetaka.

Artikel ini ditulis oleh:

Ketua MPR Sosialisasikan Empat Pilar Bagi PNS

Jakarta, Aktual.co — Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyosialisasikan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara bagi pegawai negeri sipil dan pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung.
“Empat pilar itu yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Zulkilfi Hasan di Bandarlampung, Jumat (7/11).
Dia mengatakan, keempat pilar itu harus menjadi dasar dan pertimbangan bagi pengambil keputusan di Lampung dalam mengambil kebijakan.
Sosialisasi empat pilar yang dulu bernama Empat Pilar Kebangsaan itu, kata dia, menjadi program MPR RI sejak 2009 dan merupakan sarana bagi pemerintah untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
MPR, kata dia, menilai saat ini ada degradasi yang cukup besar terkait pemahaman dan penegakan nilai-nilai keempat pilar tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu program sosialisasi tersebut harus tetap dilakukan di seluruh Indonesia. “Lampung menjadi daerah pertama yang menjadi titik sosialisasi empat hal tersebut,” kata dia..
Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan program rutin MPR sejak 2009-2014. Sosialisai itu dulu bernama Empat Pilar Kebangsaan, namun diubah setelah keputusan Mahkamah Konstitusi yang mencabut kata Empat Pilar Kebangsaan karena menyejajarkan dasar negara Pancasila dengan pilar lain yang dinilai bertentangan dengan perspektif konstitusional.
Acara tersebut diselenggarakan karena MPR menilai semakin lungturnya nilai kemajemukan dan pemahaman terhadap nilai pilar kebangsaan yang semakin sempit akibat ketidakkeadilan pembangunan.
Selain itu, kuatnya pengaruh asing akibat globalisasi juga dinilai menjadi salah satu pendorong degradasi terhadap nilai kebangsaan.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain