3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 752

Bapanas Catat Harga Cabai Rawit Merah Capai Rp48.457/Kg

Pedagang mensortir cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati
Pedagang mensortir cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati

Jakarta, aktual.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga cabai rawit merah tingkat konsumen mencapai Rp48.457 per kilogram (kg) dibandingkan sebelumnya Rp50.365 per kg, sedangkan bawang merah Rp38.525 per kg turun dari sebelumnya Rp38.853 per kg.

Berdasarkan data Panel Harga Bapanas di Jakarta, Kamis (5/6) pukul 09.00 WIB, harga pangan lainnya di tingkat pedagang eceran secara nasional, beras premium di harga Rp15.652 per kg naik tipis dari sebelumnya di harga Rp15.684 per kg.

Lalu, beras medium di harga Rp13.838 per kg turun tipis dari hari sebelumnya Rp13.902 per kg; lalu beras stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP) Bulog di harga Rp12.523 per kg turun tipis dari sebelumnya Rp12.596 per kg.

Komoditas jagung tk peternak tercatat Rp5.985 per kg turun dari sebelumnya Rp6.168 per kg; kedelai biji kering (impor) di harga Rp10.700 per kg turun dari sebelumnya tercatat Rp10.856 kg.

Berikutnya, bawang putih bonggol di harga Rp39.794 per kg turun dari hari sebelumnya tercatat Rp40.310 per kg.

Selanjutnya, komoditas cabai merah keriting di harga Rp45.128 per kg naik dari sebelumnya tercatat Rp46.198 per kg; lalu cabai merah besar di harga Rp47.487 per kg turun dari hari sebelumnya tercatat Rp46.861 per kg.

Bapanas juga mencatat komoditas daging sapi murni di harga Rp137.562 per kg turun dari sebelumnya tercatat Rp136.315 per kg, daging ayam ras Rp35.203 per kg turun dari sebelumnya Rp35.343 per kg, lalu telur ayam ras Rp29.076 per kg turun tipis dari sebelumnya Rp29.254 per kg.

Gula konsumsi di harga Rp18.480 per kg tetap stabil dari harga di hari sebelumnya tercatat Rp18.480 per kg.

Kemudian, harga minyak goreng kemasan di harga Rp20.546 per liter turun tipis dari sebelumnya tercatat Rp20.838 per liter; minyak goreng curah di harga Rp17.445 per liter turun dari sebelumnya tercatat Rp17.674 per liter; Minyakita di harga Rp17.406 per liter turun tipis dari sebelumnya di level Rp17.594 per liter.

Selanjutnya, tepung terigu curah di harga Rp9.679 per kg turun dari sebelumnya tercatat Rp9.813 per kg; lalu tepung terigu kemasan di harga Rp12.699 per kg turun tipis dari sebelumnya Rp12.959 per kg.

Berikutnya, komoditas ikan kembung di harga Rp41.455 per kg naik dari sebelumnya tercatat Rp40.784 per kg; ikan tongkol di harga 34.065 per kg naik dari sebelumnya Rp33.765 per kg; lalu ikan bandeng di harga Rp33.758 per kg naik dari sebelumnya Rp34.048 per kg.

Selanjutnya, garam konsumsi di harga Rp11.715 per kg naik tipis dibandingkan harga sebelumnya tercatat Rp11.614 per kg.

Sementara itu, daging kerbau beku (impor) di harga Rp108.732 per kg naik dari sebelumnya Rp106.148 kg; daging kerbau segar lokal di harga Rp145.000 per kg turun dari sebelumnya mencapai Rp141.857 per kg.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Bentrok Dengan Pendukung Morales, 10 Polisi Terluka Kena Ledakan Dinamit

Lokasi ledakan dinamit yang diduga dilakukan pendung Evo Morales di jalan menuju Desa Bombeo di Cochabamba, Bolivia - foto X

Sucre, Aktual.com – Setidaknya 10 polisi Bolivia terluka dalam bentrokan dengan pendukung mantan pemimpin Evo Morales yang menuntut agar dirinya diizinkan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan keempat sebagai Presiden Bolivia.

Bentrokan terjadi di Bolivia bagian tengah, pada Selasa (4/6) tempat para pendukung Morales mulai memblokir jalan sejak Senin (3/6) untuk memprotes diskualifikasi Morales untuk maju dalam pemilihan umum pada 17 Agustus tahun ini.

Dilansir dari Times Of India – AFP, enam dari polisi yang terluka itu akibat ledakan dinamit di jalan menuju Desa Bombeo, yang merupakan basis utama pendukung Morales di Cochabamba. Kelompok pendukung Evo Morales lainnya melemparkan bahan peledak ke arah petugas polisi yang menjaga pabrik YPFB di Cbba. Hal itu disampaikan Carola Arraya selaku Wakil Menteri Keamanan Warga.

Para demonstran itu juga menuntut pengunduran diri Presiden Luis Arce, yang mereka salahkan atas krisis ekonomi yang parah dan atas penolakan otoritas pemilu untuk mengizinkan Morales mengikuti Pemilihan Umum pada tanggal 17 Agustus 2025.

Omar Ramirez, seorang pemimpin gerakan Evo Pueblo — yang didirikan Morales setelah ia keluar dari partai yang berkuasa awal tahun ini — mengatakan ada ”beberapa orang yang terluka di antara rekan-rekan kami,” tanpa memberikan perincian.

Untuk diketahui, Morales adalah salah satu pemimpin terlama di Amerika Latin, menjabat tiga periode sebagai presiden antara tahun 2006 dan 2019 sebelum dipaksa mengundurkan diri setelah pemilihan umum yang tercemar oleh tuduhan penipuan.

Meskipun dilarang oleh Mahkamah Konstitusi Bolivia untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat, bersama dengan tuntutan perdagangan manusia atas dugaan hubungan seksualnya dengan anak di bawah umur saat menjabat, Morales masih terus berusaha untuk mendaftar kembali sebagai kandidat presiden bulan lalu.

Ramirez mengatakan bahwa pertikaian pemilu kini ”dikesampingkan” oleh krisis ekonomi bagi para demonstran. Kekurangan dolar dan bahan bakar yang parah telah menyebabkan harga barang-barang pokok meroket, yang membuat warga Bolivia berulang kali turun ke jalan untuk berunjuk rasa dalam beberapa bulan terakhir. Sopir bus dan pengecer juga telah mengumumkan demonstrasi minggu ini atas situasi tersebut.

Menulis di akun X-nya, Presiden Luis Arce mengklaim motif sebenarnya dari protes tersebut adalah ”pencalonan Morales yang tidak konstitusional” dan menuduhnya bersiap untuk ”menutup kota-kota dan mencegah pengiriman makanan, seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu” untuk melanjutkan upayanya kembali.

Kekurangan dolar dan bahan bakar yang parah telah menyebabkan harga barang-barang kebutuhan pokok meroket, yang membuat warga Bolivia berulang kali berunjuk rasa di jalanan dalam beberapa bulan terakhir. Para sopir bus dan pedagang pengecer juga mengumumkan unjuk rasa pekan ini atas situasi tersebut.

(Indra Bonaparte)

Wali Kota dan Ketua DPRD Kota Bekasi Tandatangani Komitmen Penguatan Sinergi Pemberantasan Korupsi se-Jawa Barat

Bekasi, aktual.com – Pemerintah Kota Bekasi bersama seluruh pemerintah daerah se-Provinsi Jawa Barat mengikuti kegiatan penandatanganan komitmen penguatan sinergi pemberantasan korupsi yang digelar di Gedung Pakuan, Bandung. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Kepala Daerah, serta Ketua DPRD dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Direktur Koordinasi dan Supervisi Wilayah II Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bachtiar Ujang Pratama, yang menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan lembaga antikorupsi dalam memperkuat sistem pencegahan dan penindakan praktik korupsi.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan komitmennya kepada seluruh kepala daerah agar mengantisipasi dan mengawasi setiap aktivitas pemerintahan yang berpotensi mengandung unsur korupsi. Menurutnya, integritas dan akuntabilitas harus menjadi fondasi dalam tata kelola pemerintahan di setiap daerah.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang hadir bersama Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi, menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah pencegahan korupsi yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan KPK.

“Komitmen ini akan kami tindaklanjuti secara nyata di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi. Seluruh kepala OPD akan kami arahkan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam setiap pelaksanaan program kerja. Tidak ada toleransi terhadap praktik-praktik yang menyimpang,” tegas Tri Adhianto, rabu (4/6).

Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi, turut menegaskan pentingnya sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.

“Kami di DPRD Kota Bekasi mendukung penuh langkah-langkah pemberantasan korupsi. Fungsi pengawasan yang kami miliki akan terus diperkuat agar seluruh kebijakan dan program daerah berjalan sesuai aturan dan kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh kepala daerah dan unsur legislatif di Jawa Barat dapat memperkuat sinergi dalam membangun pemerintahan yang bersih, melayani, dan bebas dari praktik korupsi. (ADV)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

HIV Melonjak 57 Kasus Per Hari, Filipina Darurat Kesehatan

ilustrasi dan tabel kasus HIV di Filipina - foto X

Manila, Aktual.com – Otoritas kesehatan Filipina pada hari Selasa (3/6) memperingatkan tentang keadaan darurat kesehatan masyarakat yang mengancam seiring melonjaknya infeksi HIV tahun ini, terutama kaum pria muda.

Dilansir dari Channel News Asia (CAN), rata-rata ada 57 kasus baru setiap hari tercatat di negara berpenduduk 117 juta orang itu, selama tiga bulan pertama tahun 2025. Atau melonjak 50 persen dari tahun sebelumnya, menurut data departemen kesehatan.

”Kami sekarang memiliki jumlah kasus baru tertinggi di Pasifik Barat,” kata Menteri Kesehatan Ted Herbosa dalam pesan video yang dirilis Selasa (3/6). ”Yang menakutkan adalah, banyak dari kasus-kasus baru ini berasal dari generasi muda kita,” lanjut Herbosa.

”Adalah kepentingan kita untuk (mendeklarasikan) keadaan darurat kesehatan masyarakat, keadaan darurat nasional untuk HIV untuk memobilisasi seluruh masyarakat, seluruh pemerintahan untuk membantu kita dalam kampanye ini guna mengurangi jumlah kasus HIV baru,” papar Herbosa lagi.

Departemen Kesehatan Filipina mengatakan 95 persen kasus baru yang dilaporkan adalah laki-laki, dengan 33 persen berusia 15 hingga 24 tahun, dan 47 persen berusia 25 hingga 34 tahun. Sayangnya pemerintah Filipina tidak menjelaskan penyebab di balik lonjakan tersebut, yang dikatakannya telah menghambat upaya pemerintah untuk mencapai target global yang ditetapkan oleh kampanye Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030.

Berdasarkan hukum Filipina, presiden dapat mengumumkan keadaan darurat kesehatan jika suatu epidemi menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional. Dimulainya pandemi COVID-19 pada tahun 2020 adalah terakhir kalinya hal itu dilakukan.

Saat ini, ada 55 persen dari mereka yang hidup dengan HIV di Filipina telah didiagnosis, kata departemen kesehatan, sementara hanya 66 persen dari mereka yang didiagnosis menjalani terapi antiretroviral untuk menyelamatkan nyawa.

Kontak seksual tetap menjadi modus penularan utama, dengan sebagian besar kasus sejak 2007 disebabkan oleh pria yang berhubungan seks dengan pria. Kasus HIV sendiri telah meningkat di Filipina sejak 2021, dengan 252.800 orang diperkirakan hidup dengan HIV di negara tersebut pada akhir tahun ini.

(Indra Bonaparte)

Wakil MPR Sebut Belum Ada Rapim Soal Usulan Pemakzulan Wapres

Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/5/2025). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto mengatakan belum ada rapat pimpinan (rapim) MPR RI untuk membahas dan menindaklanjuti surat usulan dari Forum Purnawirawan Prajurit TNI terkait usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Dia pun enggan memastikan apakah surat dari Forum Purnawirawan Prajurit TNI telah masuk ke meja Sekretariat Jenderal (Sekjen) MPR RI.

“Begini kalau ada surat resmi masuk, ya pimpinan MPR itu kan masuknya ke sekretariat. Di sekretariat itu kalau itu dianggap penting, baru kita lakukan rapim, rapat pimpinan MPR untuk memutuskan bagaimana terhadap masukan surat tersebut begitu. Nah, ini rapimnya belum ada,” kata Bambang Pacul, sapaan karibnya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/6).

Dia menyebut nantinya rapim MPR RI untuk menindaklanjuti surat yang masuk tersebut sesuai dengan tata tertib (tatib) yang ada akan diserahkan kepada Ketua MPR RI.

“Yang menetapkan agenda rapat dan memimpin rapat itu diserahkan kepada tatib-nya ketua yang menentukan. Jadi kau tanya ke Pak Muzani (Ketua MPR RI Ahmad Muzani),” tuturnya.

Dia menilai penting-tidaknya suatu surat yang masuk untuk ditindaklanjuti pimpinan MPR RI salah satunya dapat dipertimbangkan berdasarkan asal lembaga yang mengirimkan surat tersebut, salah satunya bila berasal dari lembaga resmi.

“Soal lembaga resmi itu dirapatkan, terutama adalah (bila berasal dari) lembaga-lembaga tinggi. Kalau lembaga-lembaga tinggi pasti segera ditanggapi,” ucap mantan Ketua Komisi III DPR RI itu.

Dia lantas berkata, “Kemudian pada level DPR dan kementerian, lembaga tinggi negara. Di level kedua pasti segera ditanggapi.”

Adapun Forum Purnawirawan Prajurit TNI mengirimkan surat ke DPR RI perihal usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Surat yang memiliki tanggal 26 Mei 2025 tersebut, ditujukan ke Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia periode 2024-2029 dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2024 – 2029.

Surat tersebut diantaranya ditandatangani oleh Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, Marsekal TNI (Purn) Hanafi Asnan, Jenderal TNI (Purn) Tyasno Soedarto, dan Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Akselerasi Transisi Energi, Kunci Mandiri dari Impor dan Selamatkan Bumi

Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno dalam forum MPR RI Goes to Campus, bertajuk ‘Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim’, di Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Selasa (3/6/2025)

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI, Dr. Eddy Soeparno, menegaskan bahwa Indonesia tengah berada di titik kritis kebijakan energi nasional. Ketergantungan tinggi pada energi fosil, di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan global, menjadi tantangan besar yang harus segera dijawab dengan langkah nyata dan terukur.

Hal itu disampaikan Eddy dalam forum MPR RI Goes to Campus bertajuk “Urgensi Transisi Energi Mencegah Dampak Perubahan Iklim” di Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Selasa (3/6/2025). Acara ini dihadiri oleh sivitas akademika dan dipandu langsung oleh Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA.

Dalam paparannya, Eddy menekankan bahwa peningkatan aktivitas industri, pembangunan pabrik, dan pusat data menuntut strategi penyediaan energi yang berkelanjutan. Sementara itu, target bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 dinilainya belum akan tercapai, karena realisasinya saat ini masih berada di kisaran 17–19%.

“61 persen pembangkit listrik kita masih berbasis batu bara. Padahal kita sudah berkomitmen untuk mencapai net zero emission tahun 2060,” ujar Eddy.

Meski Indonesia memiliki cadangan energi fosil yang besar, seperti batu bara, minyak, dan gas bumi, Eddy menilai masih tingginya impor energi menjadi ironi tersendiri. “Kita impor 1 juta barel minyak per hari senilai 65 juta dolar AS, atau sekitar 23 miliar dolar per tahun. LPG 3 kg, 75% kita impor. Ini menjadikan ketahanan energi kita sangat rentan terhadap krisis global,” jelasnya.

Eddy juga menyoroti bahwa transisi energi bukan semata soal keberlanjutan pasokan, tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup dan kualitas udara. Ia menyebut berbagai gejala krisis iklim yang kian nyata, mulai dari suhu ekstrem hingga meningkatnya penyakit pernapasan, sebagai bukti mendesaknya perubahan arah kebijakan energi.

“Ini bukan lagi climate change, tapi climate crisis,” tegas politisi PAN itu. “Kita tidak bisa menunggu. Dampaknya sudah nyata, dari NTT sampai Jakarta. Kita harus mulai dari sekarang.”

Untuk mendorong percepatan transisi, Eddy menekankan pentingnya payung hukum yang kuat. Ia menyebut DPR RI dan pemerintah tengah memfinalisasi Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) agar pelaku usaha mendapat kepastian regulasi, insentif, dan sanksi yang tegas.

Lebih lanjut, Eddy mendorong langkah konkret seperti pensiun dini PLTU, penerapan pajak karbon, pengembangan transportasi publik listrik, pemanfaatan PLTS di industri, dan peralihan ke kompor induksi di rumah tangga. Semua itu, menurutnya, hanya akan berhasil jika ada kolaborasi lintas sektor.

“Ini bukan cuma tugas pemerintah. Kampus, dunia usaha, masyarakat, semuanya punya peran. Bahkan dari menyalakan AC di kamar, kita sedang bicara soal masa depan energi bangsa,” katanya.

Rektor Universitas Trisakti, Prof. Kadarsah, menyambut positif forum tersebut dan mengapresiasi kehadiran Eddy Soeparno. Ia mengingatkan kembali peran besar tokoh global seperti Al Gore dalam meningkatkan kesadaran perubahan iklim sejak 2007.

“Kalau dulu masih banyak yang meragukan, sekarang semua sudah merasakannya. Dari banjir sampai gelombang panas, tidak hanya di negara berkembang, tapi juga negara maju,” ungkapnya.

Menurut Prof. Kadarsah, kunjungan Eddy menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan dan keterlibatan dalam agenda transisi energi. “Beliau adalah figur yang sangat memahami dunia energi, baik konvensional maupun terbarukan. Mari kita serap ilmu beliau dan menjadi bagian dari solusi,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Berita Lain