Manifestasi klinis dari herpes zoster dapat didahului gejala prodromal, berupa gejala seperti flu, demam, pusing atau nyeri kepala, selera makan berkurang/menghilang, rasa tidak enak badan atau badan terasa lemas. Gejala prodromal ini dapat terjadi sampai satu minggu sebelum timbul ruam di kulit.

Adapun potret klinis yang khas pada herpes zoster berupa nyeri hebat, berlangsung terus-menerus, pada masa akut. Dapat disertai rasa nyeri baik di otot maupun tulang, sensasi gatal, rasa pegal, muncul ruam kemerahan atau gelembung (dengan diameter kurang dari satu cm berisi cairan jernih) yang bergerombol dan unilateral (mengenai satu sisi tubuh), bisa bercampur darah, berubah keruh atau berwarna kelabu setelah beberapa hari. Cairan ini bisa mengering di atas kulit, disebut krusta.

Kelenjar limfe regional dapat terasa perih, melunak, membengkak. Jika 1-3 bulan setelah membaik, rasa sakit masih menetap, maka kondisi ini disebut neuralgia pasca herpes (NPH). Hanya 20 persen penderita herpes zoster yang berlanjut menjadi NPH. NPH paling sering muncul di usia lebih dari 55 tahun.

Diagnosis Banding

Tim medis perlu berhati-hati saat membedakan herpes simpleks dengan beberapa kelainan kulit lain yang mirip. Misalnya impetigo, sindrom Behçet, infeksi virus Coxsackie, sifilis, sindrom Stevens-Johnson, herpangina, stomatitis aftosa (sariawan), varisela, dan herpes zoster.

Ruam kemerahan (rash) pada herpes zoster perlu dibedakan dari herpes simpleks dan infeksi virus lainnya. Nyeri pada herpes zoster perlu dibedakan dengan nyeri pada infark miokard akut, emboli paru-paru, pleuritis, perikarditis, kolik ginjal.

Ada beberapa jenis pemeriksaan penunjang yang dapat direkomendasikan dokter atau ahli dermatologi untuk menegakkan diagnosis herpes simpleks. Tes slide antibodi direct immunofluorescent menjadi pilihan untuk penegakan diagnosis secara cepat.

(Abdul Hamid)