Kultur virus merupakan metode paling definitif untuk diagnosis; hasilnya diketahui dalam 1-2 hari. Uji serologis HSV menggunakan antibodi serum immunoglobulin jenis IgM dan IgG. Tes serologis menggunakan Western blot assay atau ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay).

Uji Tzanck disertai pengecatan Wright atau Giemsa. Tzanck smear menunjukkan sel raksasa multinucleated.

Untuk penegakan diagnosis herpes zoster, dokter atau ahli dermatologi akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Uji sitologi berupa Tzanck smear dapat direkomendasikan dokter.

Pemeriksaan Direct Fluorescent Antibody sebagai deteksi asam nukleat atau antigen spesifik VVZ. Untuk pemeriksaan DNA VVZ, perlu dilakukan kultur virus atau pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction). Pemeriksaan mikroskop elektron, tes serologi boleh saja bila memang diperlukan, atas indikasi. Pemeriksaan laboratorium umumnya tidak diperlukan.

Medikamentosa herpes simpleks berupa terapi sistemik dan terapi topikal. Terapi sistemik, pilihannya acyclovir (200 mg per oral 5x sehari atau 800 mg 3x sehari), valacyclovir (1000 mg 2x sehari), atau famciclovir (250 mg tiga kali sehari), masing-masing untuk tujuh hingga sepuluh hari. Terapi topikal juga direkomendasikan dokter untuk mengatasi herpes simpleks.

Namun 5 persen acyclovir ointment dapat digunakan untuk herpes genitalis tahap awal dan infeksi herpes genitalis di kulit pada penderita yang daya tahan tubuhnya lemah. Krim penciclovir untuk herpes di bibir dan mulut.

(Abdul Hamid)