Pemberian analgesik, antipiretik, dan antipruritus atas indikasi. Pilihan tatalaksana topikal lainnya berupa acyclovir (krim atau ointment), krim Penciclovir, atau krim Docosanol. Antibiotik atau kotrimoksasol diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Mitra seksualnya juga perlu diperiksa dokter.

Pada kasus herpes zoster, dokter dapat meresepkan antivirus sesuai indikasinya. Obat antivirus, seperti: acyclovir (800 mg per oral, lima kali sehari, selama tujuh hingga sepuluh hari atau 10 mg per kg berat badan intravena setiap delapan jam selama tujuh hingga sepuluh hari), famcyclovir (250-500 mg, 3x/hari, selama seminggu, per oral), valacyclovir (1000 mg, 3x/hari, selama seminggu, per oral).

Efek samping obat antivirus berupa: mual, muntah, nyeri kepala, pusing, nyeri perut. Pemberian antivirus bertujuan untuk mengurangi replikasi virus, mengurangi radang, mempercepat kesembuhan, mencegah lesi baru muncul, mengurangi keparahan dan lama nyeri.

Tatalaksana nonfarmakologis pada kasus herpes zoster dengan kompres basah (menggunakan solusi Burow atau air dingin) selama 15 hingga 30 menit diulangi lima hingga sepuluh kali per hari untuk memecahkan vesikel, menghilangkan serum dan krusta. Perawatan perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri sekunder.

Untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri pada penderita herpes zoster, dokter dapat merekomendasikan golongan analgesik ± narkotik. Misalnya: analgesik: asam mefenamat (tiga hingga empat kali 250 hingga 500 mg per hari), dipiron (3×500 mg per hari), parasetamol (3×500 mg per hari) plus kodein (3×10 mg per hari). Calamin lotion dapat mengurangi rasa sakit dan gatal. Vitamin neutrotropik dapat ditambahkan.

Untuk kasus NPH yang menyertai penderita herpes zoster, dokter dapat meresepkan asiklovir, dan antidepresan golongan trisiklik (misalnya: amitriptilin 10-75 mg per hari) selama tiga hingga enam bulan setelah sensasi nyeri atau sakit mereda.

(Abdul Hamid)