Rupiah Anjlok, APBN Untung?

Pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang mengungkapkan setiap pelemahan Rp100 per dolar AS memberikan dampak ke penerimaan hingga Rp1,7 triliun dinilai Rizal Ramli hanya pengalihan beban saja. APBN memang untung tapi beban tingginya dolar AS terhadap Rupiah dibebankan ke PLN, Pertamina dan kenaikan harga pangan untuk rakyat.

“Ini yang ngomong akuntan APBN, atau Ekonom yang ndak ngerti makro?” ujarnya dalam akun Twitter @RizalRamli.

Jika itu yang diinginkan Sri, Rizal menilai biarkan saja dolar tembus sampai Rp20 ribu biar penerimaan negara lebih besar dari Rp1,7 triliun.

“Hah? Klo gitu biarin aja Rp20.000/dolar. Pinter-pinter ndablek…Kasihan Mas Jokowi @jokowi dikibulin terus,” ujar Rizal.

Selain semakin anjloknya nilai tukar rupiah, daya beli masyarakat yang tak kunjung membaik menjadi alasan runtuhnya ekonomi Jokowi. Kondisi itu telah terpantau oleh investor asing. Akibatnya, banyak investor yang kemudian menarik dananya dari pasar modal karena tidak ada kepastian di Indonesia.

“Meskipun Menkeu (Menteri Keuangan) menyerahkan laporan ke Presiden bahwa kita surplus. Bilang ekonomi kita baik-baik saja. Padahal investor asing itu pintar-pintar. Dia bisa menganalisa dari CDS (Credit Default Swap) negara kita dari komputernya,” jelas RR.

Menurutnya, tingkat CDS Indonesia justru menunjukkan peningkatan, yaitu dari posisi 80 di Januari 2018 menjadi 144 pada saat ini. Padahal, tingkat CDS ini disebutnya berbanding terbalik dengan rating investasi. Artinya, jika CDS Indonesia kembali naik, maka rating investasi Indonesia bisa kembali turun.

Nilai CDS saat ini menjadi indikator fundamental yang paling dicari oleh para investor besar dan para fund manager di seluruh dunia. Nilai CDS suatu negara bisa menjadi acuan sebagai indikator forex paling akurat untuk memprediksi pergerakan mata uang negara tersebut dalam medium/long-term.

“Kemudian ada indikator yang disebut country vulnerability index atau indeks kerentanan. Sekarang kita nomor dua paling beresiko. Artinya kalau terjadi sesuatu paling gampang digoyang. Saya tidak pernah tuh lihat pejabat Indonesia lihat dua indikator penting itu,” jelasnya.

Utang Indonesia yang kembali meningkat menjadi indikator-indikator sentimen negatif bagi investor asing untuk terus menarik dananya dari Indonesia. Jika itu terjadi maka ekonomi Indonesia semakin terbebani. Sebab pasar modal Indonesia masih dikuasai investor asing.

Rizal juga mengingatkan, jika Indonesia terjadi krisis, maka hindari bantuan dari IMF. Belajar dari kejadian krisis ekonomi 1998, Indonesia terjerat utang dengan IMF yang sulit untuk dilepaskan.

“Saya sengaja mengulang-ulang, hati-hati dengan IMF, dia membuat hancur kita,” jelasnya.

Bahkan saat ini, kondisi ekonomi Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Ekonomi Indonesia sudah sampai pada taraf ‘lampu setengah merah’. Hal tersebut didasari pada beberapa indikator seperti neraca perdagangan yang selalu defisit. Pada Mei 2018, Rizal mencontohkan, kembali terjadi defisit dalam neraca perdagangan hingga 1,52 miliar dolar AS.

“Lalu, transaksi berjalan ini juga yang bahaya. Hari ini minus US$ 5,5 miliar,” ujarnya.

Ditambah dengan kekhawatiran, kondisi ini disebut Rizal harus disikapi pemerintah dengan kecermatan dan kehati-hatian.

“Sekarang ekonomi sudah lampu setengah merah. Kalau tidak hati-hati ini bisa jadi krisis kembali. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama,” jelasnya.

Selanjutnya, Respon Kemenkeu

(Eka)