BI Lemah Hadapi Keperkasaan Dolar

Ekonom senior Rizal Ramli menyebut upaya BI dalam menaikkan bunga acuan untuk menekan keperkasaan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, masih terlampau kecil.

“Saya apresiasi Pak Perry (Perry Warjiyo, Gubernur BI) karena dia lebih antisipatif, dia cicil. Karena dia tahu rupiah mengalami tekanan ke bawah. Dengan harapan obat ini cukup positif. Tapi ternyata, orang tidak percaya obat ini cukup,” kata Rizal.

BI telah beberapa kali menaikkan suku bunga acuan untuk menahan rupiah agar tidak terus tergerus. Walau telah mengambil langkah responsif, namun rupiah tak kunjung menguat. Hari ini, dolar Amerika Serikat (AS) telah menembus level Rp14.488,95 (Senin 6/8).

Menurutnya, BI dalam menghadapi kondisi ini maka BI harus menaikkan suku bunga acuannya hingga mencapai 300-400 bps (3-4%). Dengan begitu, maka rupiah bisa mengalami penguatan terhadap dolar AS.

“Hitungan kami, obatnya itu 3-4%. ‘Obat’ nya lebih jelas, bisa dicicil,” kata dia.

Walau begitu, Rizal menambahkan, ada sejumlah risiko yang dihadapi bila BI menaikan suku bunganya terlalu tinggi. Mulai dari potensi peningkatan kredit macet, hingga mempengaruhi kondisi pertumbuhan ekonomi.

“Itu membuat ekonomi kita seperti film Warkop, maju kena mundur kena. Kenapa seperti itu? Fundamental ekonomi kita tidak kuat, seperti yang dikatakan pejabat-pejabat kita. Pejabat ini ngomong kata-kata, kualitatif,” tuturnya.

Selanjutnya, Rupiah Anjlok APBN Untung?

(Eka)