3 April 2026
Beranda blog Halaman 42215

Tak Buka Menteri Bermasalah, KPK Langgar Konstitusi

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai lembaga independen (pasal 3) tampaknya ‘kooperatif’ terhadap (permintaan) eksekutif dengan niat baik dan tujuan kepentingan lima tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla kedepan.
Cara Presiden Jokowi bekerja sama dengan KPK dalam menentukan calon menteri bermasalah atau tak bermasalah, merupakan ‘terobosan’ yang juga oleh Buya Syafii Maarif dipandang cerdik. Namun dari sisi etika pemerintahan, kerja sama KPK yang independen dengan Presiden kurang tepat dan cenderung melanggar asas praduga tak bersalah.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Padjajaran Romi Atmasasmita ketika dimintai tanggapan soal menteri-menteri Kabinet Kerja Jokowi yang diberi tanda merah, kuning dan pink oleh lembaga yang dipimpin oleh Abraham Samad cs itu, Selasa (11/11).
Merujuk pada pertimbangan tersebut, KPK diminta agar segera menuntaskan para calon menteri yang diberi tanda stabilo itu. Hal teresebut, sambung dia, agar terhindar dari potensi pelanggaran terhadap ketentuan Undang-undang Dasar 1945.
“Jika KPK tak bergeming dan tetap tak menuntaskan langkah hukum dimaksud maka dikawatrikan KPK melanggar konstitusi dan UU HAM,” kata Romli.
Jika hal tesebut terjadi, sambung Romli maka semua pihak yang terlibat dalan pelanggaran tersebut dapat dipandang sebagai perbuatan penyertaan (Pasal 55 KUHP) menyuruh melakukan pembantuan atau penganjuran. Romli pun berharap selaku ahli hukum hanya untuk turut serta bertanggung jawab menegakkan konsitutis dan UU di negeri ini terlepas dari siapa pun dan dalam status hukum dan sosial apapun yang melekat pada orang yang bersangkutan.
“Selain dari hal tersebut, saya tetap teguh pada pandangan saya bahwa karakter hukum yang benar adalah mengharamkan prinsip ‘tujuan menghalalkan cara’, dalam setiap pengambilan kebijakan apapun karena dalam keadaan perang masih terdapat rambu-rambu hukum yang harus dipatuhi oleh pihak yang disebut ‘just war’ dan penyimpangan sedikit saja, berpotensi menjadi agresor,” kata dia.
Ihwal nama-nama yang dilaporkan ke KPK mengemuka dari pernyataan salah satu gerakan dekrit rakyat Indonesia, Karyono Wibowo. Salah satunya Menteri BUMN Rini Soemarno.
Nama Rini ramai diberitakan sejumlah media  merupakan satu dari sejumlah nama bermasalah. Rini diduga terlibat kasus dugaan korupsi penerbitan surat keterangan lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kasus itu kini masih dalam proses penyelidikan di KPK.
Mereka berharap menteri dengan tanda merah dan kuning tetap ditindaklanjuti oleh KPK. Mereka juga meminta KPK segera memeriksa menteri di kabinet Jokowi yang sebelumnya diduga mendapat tanda merah atau kuning terkait track record atau rekam jejaknya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

IPI: Ada Tiga Masalah Dalam Seleksi Calon Dirut Pertamina

Jakarta, Aktual.co — Terkait dengan seleksi Dirut Pertamina, pengamat kebijakan sekaligus Direktur Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo membeberkan beberapa masalah yang rawan intervensi dan diragukan hasilnya.

“Pertama, proses seleksi cenderung tertutup, sehingga belum memenuhi asas transparansi,” kata Karyono saat dihubungi Aktual.co, Selasa (11/11).

Kedua, lanjutnya, belum terdengar kabar bahwa Rini Soemarno melibatkan KPK dan PPATK dalam proses seleksi, hingga belum memenuhi asas akuntabilitas publik.

“Ketiga, dari nama-nama calon direksi yang mengikuti fit and proper melalui konsultan manajemen PT DDI tidak ada yang memenuhi syarat kompetensi di bidang tata kelola minyak dan gas,” tambahnya.

Nama-nama calon dirut Pertamina yang tidak memiliki kompetensi dalam hal migas akan berbahaya jika proses seleksi ini dilanjutkan.

“Pasalnya, memimpin perusahaan sebesar pertamina harus memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang migas dari hulu sampai hilir. Bahkan kandidat kuat Rinaldi Firmansyah yang merupakan mantan Dirut Telkom, terkesan dipaksakan, meski tidak memiliki kompetensi di bisnis Migas,” lanjut Karyono.

Menurutnya, proses seleksi semacam ini semakin membuat kecurigaan publik. Mengingat pentingnya peran Pertamina, sebaiknya Presiden Joko Widodo harus berperan aktif dalam proses seleksi calon direksi dan komisaris Pertamina.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Aktual.co, nama-nama calon Dirut Pertamina dari eksternal yang sedang menjalani Fit and Proper di PT DDI adalah Budi Sadikin (Dirut Bank Mandiri), Sunarso, (Direksi Bank Mandiri), Zulkifli Zaini (Mantan Dirut Bank Mandiri), Fahmi Muhtar (Mantan Dirut PLN), Dwi Sucipto, (Dirut Semen Indonesia), dan Rinaldi Firmansyah (Mantan Dirut Telkom). Kabarnya, calon kuat dalam bursa kandidat tersebut adalah Rinaldi Firmansyah yang disebut-sebut diendorse langsung oleh  Menteri BUMN Rini Soemarno, Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan Wapres Jusuf Kalla. Sementara lima nama lain hanya sekedar pembanding.

Sementara itu, terkait penggunaan jasa PT DDI, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan bahwa hal itu dilakukan agar para Pemimpin BUMN dapat memenuhi kriteria global standard.

“Iya itu untuk assesment mengenai orang saja, sehingga kita ada benchmark. Tujuan kita kan ke depan ini kita ingin CEO-CEO BUMN ataupun direksi BUMN itu Global Standard, maksudnya sudah memenuhi standar perusahaan-perusahaan international. Tujuannya kan kita nanti bersaing dengan perusahaan-perusahaan internasional. Tentunya kita harus mampu melakukannya,” kata Rini Kemarin.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Mantan Ketua KPK: Sebaiknya Jaksa Agung Pernah Ikut Pendidikan Jaksa

Jakarta, Aktual.co — Mantan Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Antasari Azhar, enggan berkomentar saat ditanya soal siapa sosok yang layak menjadi Jaksa Agung.
Terdakwa dugaan otak pembunuhan bos Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, itu meyakini Presiden Joko Widodo tahu sosok yang mempuni untuk menempati posisi Jaksa Agung.
“Jangan tanya saya deh. Kok Jaksa Agung tanya ke saya? Saat ini bukan posisi saya untuk menjawab. Jokowi tahulah mana yang terbaik,” Antasari Azhar  di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (11/11).
Saat disinggung apakah Jaksa Agung dari kalangan internal atau eksternal, Antasari menegaskan itu bukan persoalan. Yang penting, sosok tersebut pernah mengenyam pendidikan sebagai jaksa.
“Yang penting dia penegak hukum. Minimal mereka pernah masuk pendidikan jaksa. Yang di dalam maupun di luar no problem,” tuntas bekas ketua Komisi Pemnerantasan Korupsi (KPK) itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Pakar: Hari Ciliwung Ingatkan Sungai Rusak Tercemar

Jakarta, Aktual.co — Hari Ciliwung yang jatuh pada tanggal 11 November mengingatkan warga Jakarta bahwa sungai yang membelah Jakarta tersebut dalam keadaan rusak.
“Momentum malu, kok sungai sumber kehidupan tercemar berat,” kata pakar hidrologi Universitas Indonesia Firdaus Ali saat dihubungi melalui telepon di Jakarta, Selasa (11/11).
Sungai Ciliwung merupakan satu-satunya sungai yang memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) panjang yang mengaliri ibu kota dan dalam keadaan kritis.
Menurut Firdaus, kualitas air Sungai Ciliwung buruk akibat tercemar limbah dan DAS Ciliwung tergolong sudah mati.
Peringatan Hari Ciliwung merupakan saatnya untuk memberikan semangat kepada warga untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai.
“Itu bukan tempat buang sampah,” kata Firdaus.
Hari Ciliwung diperingati setiap tanggal 11 November sejak tahun 2011 dan tahun ini dirayakan di tiga tempat, yaitu kawasan Puncak (hulu), Bojonggede (tengah) dan Condet (hilir).
Beragam kegiatan seperti diskusi, membersihkan sungai, kegiatan musik dan budaya diselenggarakan mulai tanggal 8 hingga 11 November.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Energy Watch Nilai Rini Soemarno Sewenang-wenang Kepada Pertamina

Jakarta, Aktual.co — Pernyataan Menteri BUMN Rini Soemarno yang menyebut bahwa syarat utama sosok Dirut Pertamina adalah kemampuan memimpin dan manajerial, sementara kemampuan teknikal bisa dibeli, menuai beragam kritikan dari sejumlah pengamat.

Direktur Eksekutif Energy Watch Ferdinand Hutahaean menilai bahwa sejak awal proses yang dilakukan oleh Rini Soemarno sekarang terhadap Pertamina adalah sebuah kesewenang-wenangan, sebuah bentuk sikap yang merasa bahwa Pertamina dan BUMN lainnya adalah miliknya sehingga berbuat sesuai selera pribadi dan mengabaikan ekspektasi publik yang sangat besar dengan sosok calon Dirut Pertamina.

“Padahal publik sangat berharap bahwa calon Dirut pertamina yang akan datang adalah yang mampu membawa Pertamina menjadi penghasil keuntungan bagi negara bukan seperti sekarang selalu teriak rugi,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Ferdinand Hutahaean kepada Aktual, Selasa (11/11).

Menurutnya, sangat penting bagi seorang pemimpin Pertamina mengerti seluk beluk dunia Minyak dan Gas (Migas) agar tidak salah dalam pengelolaan. Bahkan lebih diutamakan yang memahami energi secara umum bukan hanya migas.

“Karena menjadi penting syarat itu saat ini agar kita tidak salah menempatkan orang. Ibaratnya negara kita sakit saraf, yah harus kita kirim dokter saraf jangan kirim dokter kandungan. Nanti salah diagnosa dan salah berikan resep, yang ada pasien malah meninggal,” jelasnya.

Ia menyarankan agar Rini sebelum melakukan fit and proper test terlebih dahulu melakukan uji integritas para calon melalui KPK, sesuai dengan kesepakatan Presiden joko Widodo dengan pihak KPK.

“Setelah lolos dari KPK, kemudian dilakukan Fit and propert test, tanya visinya, mengerti tidak seluk beluk migas, punya insting investigasi tidak, berani melawan mafia tidak? jangan langsung “ujug-ujug’ nunjuk dan mengendorse seseorang terutama yang justru bermasalah,” ujarnya.

Sebelumnya, Rini menegaskan bahwa yang diutamakan dalam analisa calon Dirut Pertamina adalah kemampuan memimpin dan manajerial.

“Kalau teknis itu bisa dibeli,” tukasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka

Mandra ‘Si Doel’ Diperiksa Kejagung Kasus Korupsi TVRI

Jakarta, Aktual.co — Komedian asal betawi Mandra diperiksa penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait penyelidikan kasus dugaan korupsi di lingkungan TVRI.
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Tony Spontana, membenarkan agenda pemerikdaan yang dijadwalkan penyidik gedung bundar terhadap yang bersangkutan.
“Benar yang bersangkutan diperiksa terkait penyelidikan korupsi TVRI,” kata Tony Spontana, saat ditemui dikantornya, Jakarta Selatan, Selasa (11/11).
Kendati demikian, Tony tidak menyebut kasus posisi pemeriksaan terhadap pelawak yang beken dalam sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” itu.
Diketahui, Mandra diperiksa sekitar pukul 10:00 WIB hingga sekitar pukul 17:00 WIB. Namun dirinya tidak menyampaikan keterangan ketika dihampiri wartawan.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Berita Lain