3 Januari 2026
Beranda blog Halaman 42394

Diduga Akan Bergabung ke ISIS, Gadis AS Dicegat di Jerman

Jakarta, Aktual.co — Tiga gadis remaja Amerika Serikat yang dicurigai ingin bergabung jihad dengan Negara Islam (IS) dipulangkan setelah mereka dicegat di Jerman.
“Ketiga gadis Colorado, keturunan Sudan dan Somalia itu, sedang menuju ke Turki ketika mereka dihentikan oleh pihak berwenang Jerman di bandara Frankfurt,” tulis CNN, Kamis (23/10).
Turki adalah titik kunci masuk bagi calon pejuang jihad yang ingin bergabung dengan kelompok garis keras Negara Islam (IS) di Irak dan Suriah.
Seorang pejabat penegak hukum mengatakan kepada ABC News, bahwa gadis-gadis itu berusaha “untuk memenuhi apa yang mereka yakini adalah beberapa visi yang telah dimasukkan pada kampanye media secara licin” oleh kelompok-kelompok radikal di Suriah.
Juru Bicara Biro Investigasi Federal, Paul Bresson, mengatakan kepada AFP bahwa lembaga itu “menyadari situasi dan membantu dengan membawa gadis-gadis itu kembali ke Denver, Senin.
“Para remaja itu dalam keadaan aman dan bersatu kembali dengan keluarga mereka,” katanya.
Mengutip dokumen Kantor Sheriff Arapahoe County, CNN mengatakan gadis-gadis itu meninggalkan rumah dengan paspor mereka dan 2.000 dolar AS uang tunai.
Keluarga mereka telah melaporkan tiga anak perempuan itu, yang berusia 15, 16, dan 17 tahun, hilang pada 17 Oktober.
FBI berbicara dengan gadis-gadis itu setelah mereka kembali, tetapi lembaga ini menolak untuk berkomentar lebih lanjut karena gadis-gadis itu masih remaja.

Di Festival Tabot Mukomuko Pentaskan Tari ‘Niqhung’

Jakarta, Aktual.co — Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menampilkan tari ‘Niqhung’ atau Tampi pada Festival Tabot yang digelar di Kota Bengkulu, mulai tanggal 24 Oktober 2014.
“Kami menampilkan Tari ‘Niqhung’ pada Festival Tabot,” kata Kabid Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko, Yulia, di Mukomuko, Kamis (23/10).
Ia mengungkapkan, tari Niqhung dari daerah itu akan menjadi salah satu peserta dalam lomba ajang kreativitas antarpelajar untuk kategori tari kreasi baru.
Yulia menyebutkan, sebanyak tujuh orang pelajar SMA terbaik di daerah itu dipilih untuk membawakan tarian ini pada Festival Tabot. Tujuh pelajar ini yang lulus seleksi untuk membawakan tarian tersebut.
“Tujuh orang yang kami pilih adalah pelajar SMA yang kreatif dalam membawakan tari Niqhung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa tari Niqhung merupakan persembahan dari sanggar seni bunga teratai kabupaten itu.
Tari Niqhung diangkat dari kehidupan masyarakat Kabupaten Mukomuko. Di mana pada zaman dahulu hingga sekarang para petani saat panen tiba selalu membawa alat untuk membersihkan hasil panen padi berupa Baku (Bakul) dan Niqhung (Tampi).
Menurutnya, penata tari mencoba menuangkan garapan ke dalam sebuah pertunjukan tari yang dikembangkan sesuai kebutuhan garapan.
Adapun gerakan dalam tari ini, lanjutnya, penata memadukan dari unsur gerak tari “gandai” dan gerak silat sebagai akar tradisi di daerah itu.
Selanjutnya, lanjutnya, dikembangkan menjadi bentuk sebuah garapan tari kreasi yang berjudul tari Niqhung.
Lebih lanjutnya, ia menjelaskan, tema garapan tari Niqhung adalah kegotongroyongan dan kebersamaan pada saat pesta panen padi sawah.

Artikel ini ditulis oleh:

Komite HAM PBB Serukan Pemilihan Terbuka di Hongkong

Jakarta, Aktual.co — Komite Hak Asasi Manusia PBB menyerukan kepada Tiongkok, untuk memastikan adanya hak pilih universal di Hongkong, serta menekankan bahwa hal itu juga termasuk hak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum.
Panel yang terdiri atas 18 pakar independen yang memantau kepatuhan terhadap pakta internasional mengenai hak sipil dan politik yang diratifikasi Hongkong, menyepakati langkah tersebut setelah menyuarakan keprihatinan terhadap rencana Beijing untuk menyeleksi kandidat dalam pemilu di bekas koloni Inggris itu.
“Komite menyepakati perlunya memastikan hak pilih universal, yang berarti hak untuk dipilih dan memilih. Keprihatinan utama para anggota komite fokus pada hak untuk dipilih tanpa pembatasan tak beralasan,” kata Konstantine Vardzelashvili yang memimpin sesi tersebut dalam kesimpulannya, Kamis (23/10).
Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di Hongkong memprotes rencana pemerintah pusat yang hanya membolehkan kandidat yang setia pada Beijing, bertarung dalam pemilu 2017 untuk memilih pemimpin Hongkong.
Dialog antara pemimpin pelajar dan pejabat senior pemerintah pada Selasa gagal memecahkan kebuntuan.
Christine Chanet, hakim Prancis yang juga menjadi anggota komite HAM PBB mengatakan: “Komite tidak ingin kandidat disaring. Masalahnya Beijing ingin menyeleksi kandidat. Sekarang kami memberikan beberapa tekanan, namun tidak terlalu keras, karena kami sangat membutuhkan kerja sama Tiongkok.” Emily Lau, anggota Dewan Legislatif Hongkong dan ketua Partai Demokratik Hongkong yang menghadiri sesi Jenewa itu menyambut baik sikap komite PBB.
“Satu orang satu suara, tetapi masalahnya adalah kandidatnya sangat terbatas. Komite ini jelas menyatakan bahwa apa yang diajukan Tiongkok tidak sesuai dengan perjanjian, ini bukan hak pilih universal,” kata Lau.
Perjanjian Internasional mengenai hak sipil dan politik, pakta yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 1966, ditandatangani oleh Tiongkok pada 1998 namun tidak pernah diratifikasi. Pakta itu menjamin kebebasan dasar termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri dan pemilu yang bebas.
Law Yuk Kai, direktur Human Rights Monitor Hongkong mengatakan: “Komite dengan tepat menunjuk pada hak untuk ikut bertarung dan masalah pemeriksaan oleh komite penyeleksi yang tidak mewakili masyarakat Hongkong.”

Artikel ini ditulis oleh:

DPR: Pemilihan Komisioner KPK Telan Biaya Besar

Jakarta, Aktual.co — Anggota DPR Ruhut Sitompul menyatakan pemilihan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang saat ini dilaksanankan diketahui akan memakan biaya besar.
“Saat ini kita harus melakukan penghematan terhadap keuangan negara, disatu sisi kita mengeluarkan anggaran untuk melakukan pemilihan terhadap pimpinan KPK,” kata Ruhut saat diskusi ICW mencari pimpinan KPK yang berintegritas di Jakarta, Kamis (23/10).
Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat ini mengatakan dari bocoran yang diketahuinya biaya untuk pemilihan pimpinan KPK itu bisa memakan biaya hingga miliaran rupiah.
“Gimana kita bisa melakukan penghematan kalau pemilihan ini aja mengeluarkan biaya besar,” katanya.
Ia juga mengatakan dalam pemilihan pimpinan KPK ini nanti akan menjadi perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena adanya dua kekuatan yang berbeda dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).
Namun dengan adanya dua kekuatan di parlemen itu diharapkan bisa menghasilkan pimpinan KPK yang ideal sesuai dengan harapan rakyat Indonesia.
“Kita jangan melihat dua kekuatan itu mari bersama-sama untuk menghasilkan yang terbaik agar Indonesia bisa bebas dari korupsi di pemerintahan yang baru ini,” ucapnya.
Pimpinan KPK ini harus segera ditetapkan siapa yang harus dipilih dari semua yang telah diusulkan panitia seleksi nantinya.
“Pertengahan Desember 2014 pimpinan KPK harus sudah ada dan final sebab kalau tidak ada maka akan terjadi kekosongan pimpinan,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Kisah 4 Mahasiswi RI Sehari Bersama Keluarga Fujieda (Bag. 2)

Pagi-pagi Chieko Fujieda memasak nasi, ikan salmon, sup miso, telur dadar, terung goreng dan paprika untuk sarapan. Hari itu ia kedatangan lima mahasiswa dari Indonesia yang sedang studi banding.
Makanan-makanan tersebut tertata rapi di piring-piring yang disusun di sebuah baki. Sudah menjadi kebiasaan orang Jepang menata makanannya. Mereka mempunyai prinsip makan tidak hanya dengan mulut, tetapi juga dengan mata.
Setelah selesai memasak ia menyajikannya di atas meja lengkap dengan buah kiwi yang baru saja dipetiknya. Ia dan suaminya sebagai petani memang menanam bermacam-macam tanaman di halaman rumah mulai dari beras, sayur-mayur hingga buah-buahan.
Siang harinya mahasiswa Indonesia ikut Akemi untuk belajar seni upacara minum teh. Chieko tidak dapat menemani karena tidak tahan lagi duduk bersimpuh. Dalam seni upacara minum teh, tamu harus duduk bersimpuh.
Sebelum menuju ke tempat belajar, Akemi berhenti sebentar di toko khusus yang menjual makanan manis untuk menemani minum teh. Setelah itu barulah mereka ke rumah guru, Satou Wakako.
Satou Wakako menyambut mereka dengan hangat. Dia mengenakan kimono dan siap mengajar Akemi beserta empat orang mahasiswa Indonesia.
Prosesi upacara minum teh cukup rumit, sehingga mahasiswa Indonesia kebingungan mengikutinya. Paling menarik adalah saat mereka berusaha tahan duduk bersimpuh, padahal kaki mereka sudah kesemutan.
Satou Wakako tertawa melihat mereka berempat bergoyang-goyang kecil karena tak tahan lagi.
“Sudah-sudah…. kalian boleh duduk seperti biasa,” ungkapnya.
Seusai kegiatan belajar, Satou mengajak mereka berkeliling rumah dan bercerita tentang keluarganya.
“Anak saya dua dan suami saya pelaut, nah itu bunga yang dikasih oleh ibunya Akemi,” sambil menunjuk bunga yang berada di dalam vas dekat pintu masuk.
Setelah berbincang-bincang mereka pun kembali ke rumah, Akemi membelikan kue kacang merah berbentuk kelinci yang lucu sekali.
“Aaa… aku ‘gak; tega makan kue ini, lucu sekali…, Orang Jepang memang suka sekali ‘bikin’ makanan yang lucu-lucu,” kata Dania.
Malamnya mereka diajak Chieko ke budokan, tempat Shota latihan Kendo. Kendo adalah seni bela diri menggunakan pedang asal Jepang yang biasanya digunakan oleh samurai.
Tempat itu tidak hanya digunakan untuk latihan kendo, tetapi juga judo, ilmu bela diri tangan kosong dan banyak menggunakan teknik membanting lawan dan kyudo, seni memanah.
Budokan tersebut berada di kawasan Kakunodate, kampung samurai yang dikelilingi oleh pohon Sakura. Kakunodate menjadi salah satu objek wisata terkenal di Senboku, Akita.
Setelah melihat Shota latihan, mereka pun pulang dan esoknya mereka harus berpisah dengan tuan rumah.
“Sedih juga harus berpisah denga keluarga Fujieda, mereka sangat baik aku enggak mau pulang,” kata Desy.
Agaknya, sehari tinggal bersama keluarga Fujieda memberikan mereka pengalaman baru yang tidak akan terlupakan.

Artikel ini ditulis oleh:

Kisah 4 Mahasiswi RI Sehari Bersama Keluarga Fujieda (Bag. 1)

Pagi-pagi Chieko Fujieda memasak nasi, ikan salmon, sup miso, telur dadar, terung goreng dan paprika untuk sarapan. Hari itu ia kedatangan lima mahasiswa dari Indonesia yang sedang studi banding.
Makanan-makanan tersebut tertata rapi di piring-piring yang disusun di sebuah baki. Sudah menjadi kebiasaan orang Jepang menata makanannya. Mereka mempunyai prinsip makan tidak hanya dengan mulut, tetapi juga dengan mata.
Setelah selesai memasak ia menyajikannya di atas meja lengkap dengan buah kiwi yang baru saja dipetiknya. Ia dan suaminya sebagai petani memang menanam bermacam-macam tanaman di halaman rumah mulai dari beras, sayur-mayur hingga buah-buahan.
Semua produk nabati yang mereka konsumsi setiap hari adalah hasil dari tanahnya, maka apa yang disajikan selalu terasa segar.
Debra, Chyntia, Dania dan Desy adalah mahasiswa Indonesia yang tinggal sehari di rumah keluarga Fujieda. Pagi itu mereka menyantap makanan dengan mulut yang lahap, dan mata berbinar..
“Nasinya enak sekali, pulen beda dengan nasi di Tokyo. Kiwinya juga manis sekali,” kata Debra yang lihai menyantap nasi dengan sumpit.
Chieko yang mendengar pujian dari mahasiswa Indonesia itu tersipu-sipu. Ia mengaku baru saja belajar masak. Daerah tempat keluarga Fujieda tinggal di Senboku, Perfektur Akita, terkenal dengan berasnya yang enak. Beras di Akita mungkin tidak sewangi beras di Indonesia, tetapi nasinya pulen dan rasanya manis.
Hampir sembilan puluh persen penduduk yang daerahnya berada di Jepang Utara adalah petani. Saat ini musim gugur mereka tidak lagi menanam padi. Masa panennya sudah selesai pada Agustus.
Chieko bertanya kepada mahasiswa Indonesia bagaimana suhu di Indonesia, karena saat itu di daerahnya mencapai 14 derajat Celcius.
“Kalau di Jakarta udaranya panas bisa sampai 34 derajat Celcius. Di Indonesia hanya ada dua musim, musim hujan dan musim panas,” kata Chyntia menjelaskan dengan bahasa Jepang.
“Wah enaknya, saya iri, berarti di Indonesia bisa menanam beras setiap saat. ya…,” kata Chieko terkesima.
Di rumahnya banyak hiasan rumah seperti bebek-bebek dari kain warna-warni dan koi no buri tergantung di dinding, itu semua hasil kerajinan tangan Chieko.
“Itu semua saya yang membuat, kalau sedang libur saya biasanya menjahit,” kata dia.
Suami Chieko, Noboru Fujieda sedang berada di luar rumah memperhatikan tanaman-tanaman di halamannya bersama kucing belang kesayangannya, Choko.
Rumah mereka masih tradisional, satu rumah induk dan satu anak rumah yang menjadi tempat tinggal bagi para mahasiswa Indonesia tersebut.
“Rumah saya umurnya sudah seratus tahun lebih, ini dari kakek buyut saya, kalau musim dingin salju turun sangat lebat sehingga menutupi atap dan halaman rumah,” ucapnya.
Ia bercerita jika musim salju tiba biasanya menyekop salju yang menutupi halaman rumahnya dan juga pergi bermaih ski bersama anak dan cucunya.
Noboru menunjukkan alat ski punya keluarganya yang disimpan di gudang. Ada beberapa alat ski milik Noboru, istrinya, anak perempuannya Akemi, suami Akemi, cucunya Shota anak dari Akemi, dan anak laki-lakinya.
“Tapi Shota lebih suka bermain papan luncur,” ucapnya sambil menunjukkan papan merah milik cucunya yang masih duduk di kelas lima SD.
Jika tidak terlalu sibuk mereka berwisata. Hari itu mereka mengajak serta lima mahasiswa Indonesia pergi ke danau Tazawa.
Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari rumah menuju danau tersebut. Sepanjang jalan menuju danau terlihat bunga matahari. kuning bersemi di tepi jalan raya.
Daerah tersebut dikelilingi oleh pegunungan, saat itu daun-daun telah menguning dan memerah membuat gunung-gunung memiliki gradasi warna cantik dan menambah keindahan pada musim yang mulai dingin.
Sesampainya di danau Tazawa yang menjadi danau terdalam di Jepang dan tidak pernah membeku meski pada saat musim dingin. Mereka ketepian menikmati udara dan melihat ikan-ikan berenang di air danau yang hijau kebiru-biruan.
Setelah puas menikmati keindahan danau, mereka makan udon di kawasan peristirahatan dekat danau, Mi udon yang disajikan sedikit berbeda dengan udon yang ada di daerah lain di Jepang.
Minya sedikit kecil dan pipih. Ada kebiasaan menarik dari orang Jepang saat menyantap udon. Mi itu tidak boleh digigit, jadi harus diseruput hingga ujung dan menyeruputnya pun harus sambil bersuara.
Suara dari seruputan itu menandakan bahwa makanan yang disantap lezat. Agak lucu melihat keempat mahasiswa Indonesia kelimpungan menyedot mi udon sambil mengeluarkan suara, kuahnya muncrat ke mana-mana.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain