12 April 2026
Beranda blog Halaman 42423

Demokrat Ogah Pimpinan Komisi dan AKD Dikocok Ulang

Jakarta, Aktual.co — Polemik yang kian memanas antara komisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) di DPR belum menemukan jalan keluarnya.
Meskipun, acap kali pernyataan sikap fraksi partai politik di KMP membuka peluang negosiasi mengakomodir fraksi KIH dalam alat kelengkapan dewan (AKD).
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Benny K Harman mengatakan meski ada negoisasi akan tetapi bukan berarti harus melakukan ‘kocok’ ulang komposisi pimpinan komisi maupun AKD yang sudah ada.
“Tidak ada, urusan musyawarah mufaakat, kenapa alasan kocok ulang nggak ada  alasan untuk kocok ulang toh,” ucap dia kepada wartawan, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (5/11).
“Karena dari segi kuantitas jumlah anggota, mereka (KIH) sedikit dibawa ke paripurna mana lebih banyak anggotanya,” tambah dia.
Ia pun menghargai soal kreatifitas fraksi partai politik KIH yang membuat parlemen tandingan sebagai bentuk untuk negoisasi. Kata dia, di dalam dunia politik merupakan hal biasa.
“Solusi paling tepat menambah komisi, alat kelengkapan, memekarkan komisi, sehinnga teman-teman di KIH yang ingin menduduki posisi pimpinan di AKD bisa terfasilitasi,” tandasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Rencana BBM Naik Bikin Nelayan Cemas

Padang, Aktual.co — Isu penaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat para nelayan cemas. Sebab, apabila BBM naik, maka otomatis biaya operasional nelayan pun ikut naik. Salah seorang nelayan di kawasan Muara, Kota Padang, Rusdi mendesak pemerintah memberikan solusi yang sepadan, jika penaikan tersebut benar-benar dilakukan.
“Iya, kalau naik tidak apa-apa, tapi kalau bisa pemerintah juga memberikan solusi yang sepadan, jangan nantinya ekonomi kami yang terpuruk,” katanya kepada wartawan di kawasan Muara, Kota Padang, Rabu (5/11).
Ia menyebut, untuk harga BBM saat ini, nelayan yang melaut menggunakan kapal berukuran kecil harus merogoh biaya operasional hingga Rp12 juta. “Biasanya saja, untuk kapal kecil kita melaut bisa habiskan biaya operasional Rp12 juta, apalagi kalau naik nantinya,” ungkapnya 
Apabila tetap dinaikkan, dirinya berharap pemerintah juga memberikan solusi seperti menaikkan harga ikan. “Tidak mungkin kita juga ikan segitu juga sama dengan sekarang kalau BBM naik, kita yang rugi. Kalau BBM naik, pasti harga penjualan juga naik, kita harap pemerintah dapat memberikan solusi yang tepat,” harapnya.

PDIP: Penaikkan BBM Dibarter dengan KIP-KIS Tidak Tepat

Medan, Aktual.co — Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Brilian Moktar mengatakan dirinya mempersilakan jika pemerintah akhirnya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Asal, lanjutnya, kenaikan itu pada situasi yang tepat dan dengan beberapa catatan.
“Penaikkan harga BBM harus pertimbangan produktifitas dan menekan tingkat konsumtif,” katanya saat dihubungi Aktual.co, Rabu (5/11).
Masih katanya, penaikkan harga BBM harus dengan alasan pengendalian inflasi dan bukan meningkatkan inflasi. Dan terakhir, program yang dilakukan sebagai langkah kompensasi BBM adalah program tepat guna bukan hanya pencitraan.
“Kenaikan harga BBM harus dengn perhitungan yang baik dan program yang jelas. Kalau kenaikan BBM hanya untuk KIS dan KIP menurut saya kurang tepat. Akibatnya inflasi tinggi,” tandasnya.
Disinggung apakah saat ini dirinya mendukung tau menolak kenaikan BBM yang diwacanakan pemerintah, Brilian menjelaskan, bahwa kenaikan BBM seharusnya menjadi alternatif terakhir.
“Penaikkan harga BBM adalah alternatif terakhir. Pertama, selesaikan hight cost distribusi BBM. Kedua, hemat APBN atau peningkatan pajak negara (intenfikasi pajak). Baru kemudian naikan BBM,” jelasnya.

Kemendagri Langgar UU, Bila Lantik Ahok Tanpa Persetujuan DPRD

Jakarta, Aktual.co — Kementerian Dalam Negeri dinilai melanggar Undang-Undang jika tetap kukuh melantik Plt Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tanpa persetujuan DPRD DKI.
Karena jika mengacu pada Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perpu) no 1 Tahun 2014, maka pengangkatan Gubernur harus melalui persetujuan DPRD. 
Penilaian itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menanggapi pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo yang ingin Ahok dilantik jadi Gubernur DKI definitif pada 18 November 2014. 
“Kalau menjadi wagub sih (Ahok) sudah menjalankan tugas-tugas. tapi kalau untuk jadi Gubernur kan ada aturannya melalui perpu, jadi harus dipilih oleh DPRD. Kan sudah berlaku Perpu-nya,” kata Fadli, di Jakarta, Selasa (4/11) kemarin.
Karena itulah dia menilai Kemendagri menyalahi aturan jika melantik Ahok tanpa persetujuan DPRD DKI.
“Tidak boleh, itu pelanggaran terhadap Undang-Undang. Selain melangkahi DPRD DKI, ya melangkahi UU. Itu sudah ada aturannya,” paparnya. 
Sebelumnya Ahok telah yakin dirinya bakal dilantik 18 November. “Kalau lihat dari prosedur dan hasil Bamus-nya mereka (DPRD DKI), mungkin tanggal 18 November pelantikan,” kata dia beberapa waktu lalu.
Ahok mengatakan saat ini seluruh fraksi di DPRD DKI sudah setuju. Kalau tak ada lagi protes dari Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra M. Taufik, Ahok yakin di tanggal 18 nanti dirinya jadi Gubernur DKI definitif.
“Kalau dia nggak macam-macam tanggal 18 November pelantikan sebetulnya. Kita tunggu saja, kalau dia nggak mau lantik, Mendagri yang lantik. Pak Jokowi bilang dilantik di Istana saja kalau gitu,” seloroh Ahok sembari tertawa.

Artikel ini ditulis oleh:

Terindikasi Korupsi, Seluruh Pimpinan Dharma Jaya Bakal Dicopot

Jakarta, Aktual.co —Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana mengganti Direksi PD Dharma Jaya, lantaran kinerja buruk dan diduga jadi sarang korupsi. 
Tak tanggung-tanggung, demi merombak total Dharma Jaya, Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bakal mengganti seluruh jajaran direksinya.
“Dharma Jaya itu perusahaan paling bangkrut. Kita mau ganti semua direksinya,” ujarnya  di Balaikota DKI, Rabu (5/11).
Sebagai penggantinya, Ahok mengaku akan memasukkan orang-orang yang dinilai kompeten di bidangnya, terutama soal sapi.
Kebijakan tegas itu, diakuinya sebagai bentuk keseriusan DKI dalam menangani masalah sapi. “Mau nanganin mafia sapi yang belum dibuktikan.” 
PD Dharma Jaya merupakan perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta yang bertugas untuk menyediakan dan menampung ternak potong, mengelola rumah pemotongan hewan, penyediaan tempat penyimpanan daging dan pendistribusian sekaligus pemasaran daging.
Sebenarnya, saat Presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur DKI, Dharma Jaya juga sempat akan ditutup. Karena diduga jadi sarang praktik korupsi, menyusul data dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di tahun buku 2010/2011 yang mengungkapkan ada 14 temuan dengan indikasi kerugian negara senilai Rp 4,9 miliar dari pemeriksaan PD Dharma Jaya.
Selain terindikasi kuat korupsi, Dharma Jaya ternyata juga tak pernah memberi sumbangan satu rupiah pun ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI.
Sedangkan di masa Ahok sekarang, persoalan di PD Dharma Jaya kembali mencuat saat Ahok mendatangi KPK untuk menyampaikan soal dugaan korupsi di Pemprov DKI. Termasuk di BUMD DKI.
Nah, di situlah Dharma Jaya ikut tersebut. Yakni terkait suplai dan distribusi daging sapi untuk wilayah DKI Jakarta.
Pemprov DKI pun menggandeng KPK untuk mengusut kasus itu dan bersedia menyuplai data yang diperlukan untuk penyelidikan. 
Saat itu Ahok menuturkan kalau pihaknya belum sampai membicarakan besaran korupsi ke KPK. 
“Kita kemarin sinkronin data dulu. Saya salut data mereka (KPK) lengkap. Kalau mereka perlu data apa saja kita siapkan, mau geledah silahkan. Mau nangkap pejabat korup juga tidak akan kami halangi,” ujarnya.
Melanjuti pernyataan Ahok, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta Heru Budi Hartono juga mengatakan sebagai tindak lanjut kerjasama Pemprov DKI-KPK, keduanya sepakat membentuk tim untuk mengusut kasus tersebut.
Nantinya, penyidik KPK dan tim Pemprov DKI akan diturunkan untuk mengawal proses pendistribusian daging sapi. Mulai dari peternakan sapi di daerah asal, pengiriman, pemotongan, pengemasan, hingga pendistribusian ke pasar.
Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan semua proses berjalan sesuai dengan prosedur, supaya terjadi keseimbangan dalam hal harga dan kualitas serta stok daging sapi yang mencukupi.
“Kalau kami tidak berantas mafia bersama KPK, nantinya harga sapi tinggi, stok (daging) tidak terpenuhi, distribusi sembarangan, dan lainnya. KPK mau mengawal supaya stok sapi terjamin bersih dan safety stock (terjamin keamanannya),” ujar Heru di Jakarta beberapa waktu lalu.

Artikel ini ditulis oleh:

Belum Serahkan LHKPN, Menpan: Terbentur Nomenklatur

Jakarta, Aktual.co — Salah satu Menteri Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, Yudi Crisnandi bakal melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu (5/11).
Yudi merupakan Menteri yang membidangi Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi era Presiden Jokowi. Yudi yang datang pukul 11,53 WIB itu mengaku, keterlambatan Menteri Jokowi tak melaporkan LHKPN dikarena menteri-menteri saat ini sibuk mengurusi nomenklatur.
Terlebih lagi, soal banyak pemberitan-pemberitan soal Menteri Kabinet Kerja Jokowi yang sampai saat ini belum melaporkan LHKPN ke KPK. Maka dari itu, selaku Menpan dia memantau semua pemberitan-pemberitaan soal para pembantu Presiden belum lapor LHKPN selaku pejabat negara.
“Nah saya sebagai menteri PAN tentu mengikuti semua informasi itu, mengikuti semua aspirasi yang disampaikan publik melalui pers dan saya perlu menjelaskan bahwa dari 34 kementerian itu, ada kementerian yang nomenklaturnya baru, baik itu yang betul-betul baru maupun yang gabungan atau pemisahan, jumlahnya kurang lebih 15 kementerian,” kata dia ketika tiba di Gedung KPK, Rabu (5/11).
Apalagi, sambung dia kementerian-kementerian itu juga berhubungan dengan kementerian lainnya, sehingga, sambung dia para menteri Kabinet Kerja Jokowi sedang sibuk menyelesaikan nomenklaturnya. Dia sendiri mengaku setiap hari bersama dengan deputi dan sekretaris kemen-PAN senantiasa mendatangani beberapa kementerian untuk membantu mempercepat proses nomenklatur.
“Jadi mereka belum sempat mengisi Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara, apalagi laporan tersebut menyertakan misalnya kalau punya deposito harus punya tabungan, punya sebidang tanah harus ada kelengkapan-kelangkapan lain.”
Yudi merupakan menteri pertama di Kabinet Kerja Jokowi melaporkan LHKPN ke KPK. Sedangkan menteri-menteri lain, diakui Yudi sedang sibuk membenahi nomenklatur di kementerian-kementerian.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

Berita Lain