7 April 2026
Beranda blog Halaman 42432

Saat Tabuik Tak Lagi Sakral (Bag. 1)

Jakarta, Aktual.co — Di Pariaman, Sumatera Barat, sekitar 50 kilometer dari Kota Padang, kehidupan berjalan seperti biasa. Tepat 10 Muharram 1436 Hijriyah, Senin (3/11), tidak ada tanda keramaian dan sebuah papan pengumuman yang menandakan akan ada helatan besar di kota Tabuik pekan depan.
Tabuik akan keluar seminggu lagi, tepatnya pada Minggu 9 November 2014, atau 16 Muharram 1436 Hijriyah berdasarkan penanggalan Islam. Demikian jadwal yang terpampang, sedangkan prosesi ritual sudah digelar sejak 25 Oktober lalu. Jeda yang terlalu jauh.
“Kami je ndak tantu bilo tabuik ko kalua (kami pun tidak tahu kapan Tabuik keluar),” kata Rafki (38), seorang warga Pariaman. Ia baru tahu sejak dipasangnya baliho pengumuman beberapa hari terakhir.
Kota Pariaman masih saja lengang walaupun sudah memasuki minggu-minggu di mana rakyat akan berpesta budaya sekali setahun.
Pesta Budaya Tabuik adalah peringatan Hari Assyura atau hari berkabung atas kematian Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas di Padang Karbala pada 10 Muharam.
Warga Pariaman memperingatinya dengan setiap tahun dengan membuat Tabuik (tabut) dari bambu oleh anak Nagari Pasa dan Subarang yang akan mencapai puncaknya pada Minggu (9/11).
Peringatan itu mulanya diperingati kaum Syiah setiap tahun sejak 1831. Namun, warga Pariaman bukan penganut Syiah, hanya budaya dan tradisi yang diwariskan di kota tersebut.
Tabuik dibuat sebagai perwujudan seekor buraq yang membawa peti di punggungnya untuk mengangkut jenazah Imam Hussein.
Menjelang Tabuik dibuat, ada tujuh prosesi yang digelar sejak 1 Muharram, yakni “Maambiak Tanah”, “Maambiak Batang Pisang”, “Maradai”, “Maatam”, “Maarak Jari-jari”, “Maarak Saroban”, “Tabuik Naik Pangkek”, dan Tabuik Dibuang ke Laut.
Kendati demikian, prosesi ritual tersebut tidak berjalan semestinya. Mulai dari jadwal yang tidak bertepatan dengan penanggalan bulan muharram, sampai minimnya promosi bahkan di kota Pariaman sendiri.
Salah seorang Tetua Tabuik Nagari Subarang, Nasrun Jon mengatakan, seharusnya dinas terkait mengemas acara kebudayaan ini sedemikian rupa sehingga dapat menarik orang datang ke Pariaman.
“Baru saja selesai prosesi ritual, baru terlihatlah pengumuman mengenai jadwal Tabuik ini,” ucapnya.
Ia menyayangkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman yang mengaku akan menyerahkan prosesi tabuik sepenuhnya kepada anak Nagari, tapi dilepaskan begitu saja dan tanpa koordinasi.
Menurutnya, Tabuik ini bukan sekedar dibuat lalu dipertontonkan orang banyak, karena jika hanya demikian, Tabuik seperti itu ada di mana-mana.
“Tabuik bisa dipertontonkan di mana-mana, di luar negeri, di Jakarta, tapi ini di Pariaman, tempat terciptanya Tabuik, maka prosesi ritual yang membuat menjadi lengkap,” sambungnya.
Ia mencontohkan, prosesi ritual “Maambiak Batang Pisang” seharusnya dilaksanakan pada tanggal 5 Muharram, tapi tahun ini tanggal 4 Muharram.
Tetua Tabuik Nagari Pasa, Zulfikar mengatakan Tabuik sudah meninggalkan tradisi karena waktu untuk prosesi ritual yang harus dijalankan berbeda dengan tanggal sebenarnya.
“Bahkan hari puncak saat Tabuik dihoyak dan dibuang ke laut, berbeda enam hari, seharusnya 10 Muharram, sekarang 16 Muharram,” imbuhnya.
Dikatakannya, pada 10 Muharram 1436 Hijriyah bertepatan dengan hari Senin (3/11), seharusnya hari itu juga dilaksanakan puncak Pesta Budaya Tabuik.
Kendati hari Senin, kata dia, Tabuik akan tetap ramai dikunjungi orang-orang karena acara itu hanya sekali setahun dan ditunggu-tunggu.
“Kalau seperti ini, saya bilang inilah Tabuik terburuk dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Mengapa ia mengatakan demikian, pertama karena minusnya atribut-atribut terkait tabuik di kota itu, kedua prosesi ritualnya tidak jelas karena tidak adanya koordinasi pihak terkait dengan Tetua Tabuik.
Ketiga, kata dia, acara kesenian hiburan rakyat tidak menarik untuk ditonton, karena seniman-seniman Pariaman termasuk Dewan Kesenian tidak diikutsertakan dalam membuat materi acara.
Ke depan sebaiknya tabuik dikembalikan lagi kepada anak nagari, dan Pemkot Pariaman cukup menjadi fasilisator dan mengontrol pelaksanaannya.
Senada dengan Zulfikar, Ninik Mamak (Pemimpin Adat) Nagari Pasa, Yusran Yatim menegaskan, pemerintah daerah sudah memasuki wilayah adat dengan membuat jadwal tanpa persetujuan anak nagari.
“Jadwal prosesi Tabuik ini adalah hak veto kami sebagai Ninik Mamak dan Tetua di rumah Tabuik, namun sudah dibuat tanpa diskusi,” katanya.
Yusran berharap ke depan, Pesta Budaya Tabuik diserahkan penyelanggaraannya ke Nagari agar nilai tradisi tidak hilang. Silahkan pemerintah kota terlibat tapi wilayah adat jangan dicampuri,” tegasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Harga Cabai di Pasar Jakut Merangkak Naik

Jakarta, Aktual.co — Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Jakarta Utara mulai merangkak naik akibat adanya rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah sebelum akhir 2014.
“Harga sayuran terutama cabe sekarang naik sekitar Rp10.000 per kilogramnya,” kata Umar, pendagang sayur di Pasar Sungai Bambu, Jakarta Utara, Selasa (4/11).
Pria berusia 35 tahun itu menjelaskan saat ini harga cabe merah dari Rp35.000 naik menjadi Rp50.000 per kilogramnya.
Sedangkan untuk harga cabe rawit dari Rp45.000 naik sampai Rp55.000 per kilogramnya.
Ia menambahkan selain harga cabai yang saat ini mengalami kenaikan adalah bawang, baik bawang merah maupun bawang putih serta beberapa jenis sayuran lainnya.
“Bawang naik sekitar Rp 5.000 per kilonya, selain itu, sayuran seperti sawi, tomat dan kol juga naik meski tidak banyak,” katanya.
Tak jauh berbeda Rohimah Pedagang sayur di Pasar Kebon Bawang, juga mengatakan hal serupa.
Saat ini harga sayur mulai mengalami kenaikan meski belum terlalu signifikan.
Menurutnya kenaikan itu dipicu rencana pemerintah menghapuskan subsidi BBM dalam waktu dekat.
“Harga dari tengkulak juga sudah naik, mau tidak mau kami juga menaikkan harga. Katanya harganya naik karena rencana BBM akan naik. Ya biasa lah dari dulu juga seperti itu,” katanya.
Namun demikian para pedagang sayur mendukung rencana pemerintah menghapuskan supsidi BBM, tapi mereka meminta agar pemerintah memperhatikan kesejahteraan para pedagang sayur.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

Dua Gol Boaz Bawa Persipura ke Final ISL

Jakarta, Aktual.co — Persipura Jayapura lolos ke babak final Indonesia Super League (ISL), usai mengalahkan Pelita Bandung Raya (PBR), dengan skor 2-0 pada laga semifinal di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Selasa (4/11).

Dua gol kemenangan “Mutiara Hitam” diborong mantan penyerang timnas, Boaz Salossa pada menit ke-68 dan 71.

Pada pertandingan yang disaksikan ribuan penonton itu, Persipura memulai babak pertama dengan melakukan inisiatif serangan dan menciptakan sejumlah peluang untuk membobol gawang Pelita Bandung Raya (PBR).

Kapten tim Persipura Boaz Salossa hampir saja memasukkan si kulit bundar ke gawang PBR pada menit ke-12, tetapi penjaga gawang Dennis Romanovs menggagalkan upaya itu. Begitu juga pada menit ke-34, Boaz kembali melakukan tendangan, namun Romanovs kembali beraksi.

Memasuki babak kedua, PBR berusaha keluar dari tekanan dan memaksimalkan serangan untuk mengimbangi permainan Persipura lewat Bambang Pamungkas dan TA Musafri.

Namun, usaha PBR selalu gagal membuahkan hasil. Sebaliknya, Persipura yang tampil dominan justru mampu membobol gawang Dennis Romanovs sebanyak dua kali hanya dalam tempo tiga menit lewat aksi Boaz Salossa.

Pada laga final, juara bertahan Persipura akan menghadapi pemenang antara Arema Indonesia dengan Persib Bandung yang bertanding di stadion sama pada pukul 19.00 WIB.

Artikel ini ditulis oleh:

Khawatir Pohon Tumbang, Warga Keluhkan Kinerja Pemkot Jakut

Jakarta, Aktual.co —Sejumlah warga menyoroti dan meminta Pemerintah Kota Jakarta Utara agar tidak lamban menjalankan program pemangkasan pepohonan di beberapa ruas jalan raya di kawasan itu karena dikhawatirkan tumbang akibat angin kencang saat musim hujan.
“Pemerintah kota jangan lamban dan terkesan diam saja. Pemerintah terkait harus memperhatikan pohon-pohon yang dinilai rawan tumbang di pinggir jalan raya,” ujar M. Zaenal, salah seorang warga ketika ditemui di kawasan Sunter, Jakarta, Selasa (4/11).
Menurut dia, menjelang musim hujan seperti sekarang ini merupakan waktu tepat bagi dinas berwenang untuk memangkas pohon-pohon yang dianggap berbahaya dan rawan tumbang.
Hal senada dikatakan Mustafa, warga lainnya, yang berharap suku dinas terkait tidak menunggu adanya korban jiwa akibat pohon tumbang.
“Jangan meremehkan dan pemerintah harus bergerak cepat. Lakukan pemangkasan yang tepat agar tidak merugikan pengguna jalan,” kata pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di kawasan Jakarta Utara itu.
Ia berpendapat, pepohonan yang sudah layak dipangkas di antaranya pohon yang tingginya melebihi 10 meter dan berdiameter lebih dari 50 meter.
“Tapi secara teknis, pasti suku dinas terkait sudah sangat paham dan mengerti, pohon seperti apa yang layak dipangkas,” katanya.
Nursyidin juga menyampaikan hal yang tidak jauh berbeda. Sebagai jalan yang sering dilewati dan padat kendaraan, kata dia, ranting-ranting pohon yang sudah terlampau menjulang sangat berbahaya karena rawan tumbang.
“Angin kencang terkadang tiba-tiba datang dan sangat besar kemungkinan pohon bisa tumbang,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid

ICW: Tak Mau Buka Nama, KPK Buka Saja Kasus Menteri Bercatatan Merah

Jakarta, Aktual.co — Komisi Pemberantasan Korupsi diharapkan dapat membuka kasus-kasus yang diduga telah melibatkan menteri Kabinet Kerja Joko Widodo yang diduga telah diberi tanda merah dan kuning.
Indonesia Corruption Watch berpendapat, jika KPK tak mau membuka nama para menteri, setidaknya harus mau membuka kasus yang menyandera para menteri itu.
“Sekarang saya pikir sudah lah, kita tak usah permasalahkan lagi nama-nama menteri yang diberi tanda merah dan kuning, kita fokus saja ke kasus-kasus para menteri yang diberi tanda merah dan kuning itu,” kata Koordinator Badan Pekerja ICW Ade Irawan ketika dihubungi, Selasa (4/11).
Dia mengatakan, KPK harus fokus pada kasus yang diduga menjerat menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi yang diduga telah ditandai merah dan kuning itu. Namun, demikian, jika KPK mempunyai bahan untuk menindaklanjuti kasus teresebut. “Misalnya dia (menteri) dikasih warnah merah, tapi Jokowi tetap pilih maka KPK harus cepet tindak, karena nama-nama ini bahaya terlibat kasus korupsi.”
Pengamat Politik dari Indonesia Public Institute Karyono Wibowo, Senin (3/11) bersama dengan tokoh maupun lintas agama lainnya telah menyodorkan nama-nama menteri di Kabinet Kerja Presiden Jokowi yang diduga diberi cap merah maupun kuning oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Sementara itu, Direktur Utama Lingkar Studi Masyarat Madani menyebut, dalam hal ini KPK memiliki tanggung jawab untuk menindaklanjuti kasus yang diduga membelit sejumlah menteri yang kini duduk dalam kabinet Presiden Jokowi.
Terlebih lagi, dia mengkawatirkan, nama-nama calon menteri atau kini sudah menjabat yang memperoleh tanda dari KPK akan menghilang dengan sendirinya. “Jadi kalau KPK msih menggunakan cara yang sama dalam konteks penanganan kasus korupsi, maka nama-nama yang diindikasikan olehh mereka merah itu akan lewat begitu saja, sekalalipun nama-nama itu sudah masuk dalam kabinet atau tidak,” kata dia.
Disisi lain, sambung Ray lagi, hal itu juga bagian dari langkah memberantas korupsi. Sehingga, KPK tidak berkutat dengan upaya pemberantasan korupsi yang selama ini sudah berjalan. “Oleh karena itu, kita mendorong KPK untuk membongkar kasus tidak sekdar tangkap tangan saja. Terlebih pada kasus-kasus korupsi masa lalu, sekarang atau yang akan datang.”
Karena itu Ray pun tak menampik, selain mendesak, kedatangan pihaknya tersebut juga untuk menyerahkan sejumlah nama yang diduga bermasalah. Meski dia menolak mengungkapkan nama-nama yang diduga bermasalah itu. “Kami hanya menyerahkan nama-namanya saja dengan beberapa latar belakangnya,” ungkapnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu

PBSI Tetapkan Enam Parameter Masuk Pelatnas

Jakarta, Aktual.co — Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), menetapkan enam parameter bagi calon atlet bulu tangkis, yang akan bergabung di pusat pelatihan bulu tangkis PBSI di Cipayung, Jakarta.

“Kami telah membuat sistem dan struktur di dalam pelatnas dan luar pelatnas (klub). Selama ini kriteria masuk pelatnas belum ada standarnya. Sekarang kami sudah punya satu patokan,” kata Kepala Bidang Pengembangan PBSI, Basri Yusuf seperti dilansir Tim Humas dan Media Sosial PBS, Selasa (4/11).

Basri mengatakan enam parameter fisik itu adalah VO2 Max untuk mengukur ketahanan, court agility untuk mengukur kecepatan, vertikal jump untuk mengukur kekuatan, skipping rope untuk mengukur koordinasi gerakan kaki dan tangan, sit up untuk mengukur stabilitas fisik, dan push up untuk mengukur kekuatan.

PBSI, lanjut Basri, mempunyai bobot penilaian dari enam parameter fisik yang ditetapkan yaitu bobot 40 persen untuk VO2 Max, bobot 15 persen untuk court agility, bobot 15 persen untuk skipping rope, bobot 10 persen untuk vertical jump, dan bobot masing-masing 10 persen untuk sit up dan push up.

“Kami juga belajar dari kemajuan negara lain yang sudah menerapkan hal ini. Bukan hanya latihan, kami juga mulai memanfaatkan teknologi berupa ‘sport science’ yang terintegrasi,” tambah Basri.

Basri mengatakan program PBSI sudah lebih terencana dan sistem metode baku setelah menetapkan enam parameter fisik untuk calon-calon atlet pelatnas.

PBSI akan mulai menerapkan enam parameter itu dalam ajang Junior Masters 2014 yang merupakan kejuaraan pencarian bibit-bibit atlet muda bulu tangkis pada akhir 2014.

“Jika melihat hasil tes fisik dalam Junior Masters 2013, ada pemain yang kuat di VO2 Max. Padahal, semua kriteria lain juga penting bagi atlet bulu tangkis,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBSI, Achmad Budiharto.

Budi berharap semua paramater dapat dipenuhi atlet-atlet muda yang mengikuti Junior Masters 2014 meski bobot fisiknya 30 persen dan teknik 50 persen.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain