6 April 2026
Beranda blog Halaman 42443

Soal Pos Anggaran KIP dan KIS, DPR Akan Panggil Menkeu

Jakarta, Aktual.co — Ketua Komisi XI DPR RI, Fadel Muhammad mengaku belum mengetahui secara rinci perihal dua program yang diluncurkan oleh pemerintah Jokowi-JK terkait kartu Indonesia Sehat (KIS) daan kartu Indonesia pintar (KIP).
Terlebih soal dari mana pemerintah akan menggunakan anggaran dalam menjalankan dua program tersebut.
“Kita (komisi XI) belum jelas ini, dari mana anggaranya, dari mana anggarannya dipakai kita belum jelas ini,” kata Fadel ketika dikonfirmasi melalui sambungan telefon, di Jakarta, Senin (3/11).
“Sebab menteri keuangan belum menjelaskan kepada kita. Kita pun baru minggu depan mengundang mereka,” ucapnya.
Oleh karena itu, sambung dia, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro untuk menjelaskan dua program yang baru diluncurkan hari ini.
“Pastinya kita akan menunggu penjelas dia (pemerintah) dulu, karena bingung kita dari mana anggaranya. Suruh pak fadel tidak mengerti dan meminta menteri keuangan untuk menjelaskannya segera,” tandas dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Novrizal Sikumbang

Festival “Campor” Persembahan Ibu-ibu PKK

Jakarta, Aktual.co — Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, akan menggelar festival “campor” yang merupakan salah satu makanan khas setempat.
“Kami akan mengemas festival tersebut layaknya pesta rakyat. Kami akan menyiapkan dan menyajikan ‘campor’ sebanyak 10 ribu porsi untuk dinikmati warga,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Sumenep, Nurfitriana Busyro Karim, di Sumenep, Senin (3/11).
“Campor” adalah makanan khas Sumenep yang merupakan perpaduan atau campuran antara lontong, potongan kecil daging sapi, kecambah goreng, korket (singkong goreng), dan bihun, yang disajikan menjadi satu dengan kuah santan dan sambal kacang.
“Kami tergerak untuk menggelar festival ‘campor’, karena selama ini kayaknya tidak ada elemen masyarakat yang berusaha lebih mempopulerkan makanan khas tersebut,” ujarnya.
Padahal, sambung dia, “campor” dinilainya merupakan makanan khas yang relatif bisa dinikmati oleh warga atau penikmat kuliner dari luar daerah.
“Rasanya unik dan gurih. Kami akan berusaha menjadikan ‘campor’ sebagai ikon kuliner Sumenep dan itu akan diupayakan melalui festival tersebut,” ucapnya, menambahkan.
Nurfitriana yang asli Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjelaskan, sesuai hasil koordinasi terakhir dengan panitia, festival campor akan digelar pada Minggu (9/11) di Jalan Diponegoro, Kecamatan Kota.
“Pada Minggu nanti, sepanjang Jalan Diponegoro akan menjadi lokasi yang beraroma campor, karena di lokasi tersebut akan tersedia 10 ribu porsi makanan khas tersebut untuk dinikmati warga bersama-sama,” tuturnya.
Istri Bupati Sumenep, Busyro Karim itu berharap festival tersebut bisa lebih mengangkat dan mempopulerkan campor sebagai ikon kuliner Sumenep.
“Kalau ada warga atau wisatawan luar daerah yang datang ke Sumenep tidak sempat makan ‘campor’, rasanya kurang lengkap. Hal itu yang akan kami upayakan melalui festival tersebut,” katanya, menambahkan.

Artikel ini ditulis oleh:

Menteri Tak Lapor LHKPN, Komitmen Jokowi Dipertanyakan

Jakarta, Aktual.co — Pengamat hukum dari UII Muzakir menilai harusnya Presiden Joko Widodo memberi teguran keras kepada Menteri-menterinya yang belum melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Sebelum mengangkat mereka, jauh hari sebelumnya harus sudah mempersiapkan,” kata Muzakir kepada Aktual.co, Senin (3/11).
Menurut dia, dengan keengganan para Menteri melapor LHKPN, ini menjadi blunder tersendiri bagi Jokowi.
“Katanya ingin menyelenggarakan pemerintahan bersih, clear, tapi kalau dari awal sudah nggak bener itu kan menunjukkan pemerintahan Jokowi nggak bagus,” jelas Muzakir.
“Seharusnya untuk menutupi keadaan itu harusnya Jokowi meminta minggu ini menteri harus menyelesaikan laporan dan dikumpulkan. Biar jelas,” lanjut Muzakir menyarankan.

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby

Yuk Jalan-jalan ke Air Terjun Janji di Kawasan Danau Toba

Medan, Aktual.co — Kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, tak habis-habisnya menyuguhkan keindahan alam. Bukan hanya Danau Toba dan pulau Samosir yang kesohor itu saja, tapi juga ada sejumlah objek wisata alam dan sejarah yang tersebar dibeberapa lokasi, yang berdekatan dengan dua tempat tersebut.

Salah satu diantaranya adalah, Air Terjun Janji (Water Fall Of Janji ), yang berada di Desa Marbun Toruan, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Untuk tiba di lokasi Air Terjun ini, dapat ditempuh dengan berkendara selama 15 hingga 20 menit atau sekitar 15 kilometer dari Kecamatan Dolok Sanggul yang merupakan pusat Kabupaten Humbahas.

Dari Dolok Sanggul, arahkan kendaraan anda menuju pertigaan Bakkara. Diingatkan untuk memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, pasalnya selain jalan yang dilalui menurun dan berkelok tajam serta jurang menganga dikiri jalan. Anda tentu tak mau melewatkan untuk menikmati sekaligus mengabadikan pemandangan alam perbukitan dibalut hutan tropis yang eksotis.

Dari jalan berkelok menelusuri tebing bukit dibahu Danau Toba itu, akan tampak panorama persawahan yang menyatu dengan kawasan permukiman penduduk dibibir danau yang cantik.

Memasuki perjalanan berbelok mengikuti alur pinggir Danau Toba, Anda kembali disuguhkan pemandangan pulau Simamora. Pulau kecil tampak seperti gundukan tanah yang muncul dari dasar Danau. Tak ada penghuni di pulau itu.

Memasuki perjalanan 15 menit, Anda akan tiba di lokasi Air Terjun Janji. Sebuah patung “Ihan” setinggi dua meter yang dibangun membentuk taman dan kolam kecil akan menyambut para tamu yang datang. Silahkan parkir kendaraan Anda ditempat yang disediakan. Gemuruh Air Terjun yang tumpah dari ketinggian, diperkirakan setinggi 30 meter akan sayup terdengar.

Menuju Air Terjun, hanya membutuhkan perjalanan kaki sedikit menanjak sejarak 50 meter saja, dijalan setapak yang telah dibangun rapi. Sebuah jembatan kecil dengan latar Air Terjun Janji agaknya cocok untuk berpose sejenak.

Setiba ditumpukan bebatuan dikaki Air Terjun, samar-samar aroma menyengat akan segera menyentuh indera penciuman. Jangan heran, tepat dihadapan tumpahan air terjun memang tumbuh sebuah pohon Jeruk Bali yang menebar aroma menyegarkan, meski terkesan mistis.

Dibahu kanan Air terjun, sejarak 20 meter saja. Sepetak tebing curam yang membentuk petak-petak batu cantik akibat gejala alam juga tersaji untuk anda yang ingin mengabadikan diri. Dipuncak tebing yang juga dialiri air dalam debit kecil itu, terdapat sebuah kolam kecil.

Untuk mencapai puncak tebing, tak perlu menggunakan cara ekstrem dengan memanjat. Sebuah tangga alami dikiri tebing akan memudahkan anda mencapai puncak tebing. Silahkan untuk berpose sejenak.

Pengelolaan Air terjun memang seadanya, namun, pantas diancungi jempol, karena lokasi Air Terjun itu memang terawat baik. Jalan setapak dari semen dibangun sendiri oleh sang pemilik, Bohal Marbun bersama keluarganya.

Tak tampak banyak sampah berserakan dilokasi air terjun ini. Bohal tak lupa mengingatkan para pengunjung tidak hanya agar berlaku sopan, tapi juga tak membuang sampah sembarangan, dengan memasang plang anjuran dipajang.

Bukan itu saja, aliran air terjun juga ternyata bermanfaat bagi masyarakat sekitar, yakni tersedianya lokasi mandi berbentuk pancuran dan kolam kecil tak jauh dari kaki Air Terjun. Walau disekat seadanya menggunakan terpal, pancuran pria dan wanita diletakkan secara terpisah.

Meski dikelola sendiri, Bohal agaknya tak mau serakah. Pria ramah berusia 40-an ini, tak menerapkan tarif masuk bagi pengunjung. Bohal, sang penerus keturunan Raja Marbun ini hanya mengharapkan kesediaan pengunjung untuk berbelanja secangkir kopi atau minuman lainnya serta sejumlah makanan ringan yang ia sediakan di warung kecil miliknya.

“Dari oppung ke oppung, gak dibolehkan (buat tarif), yang penting pengertiannya saja, belanja,” ujar Bohal kepada Aktual.co, ditulis Selasa (4/11).

Penuturan Bohal, Air Terjun Janji diberi nama sesuai cerita yang mengikutinya. Dimana, dilokasi Air Terjun inilah dahulu kala terjadi sebuah perjanjian besar. Yakni, dijalinnya persekutuan damai antara Tiga Raja yang dipertemukan oleh Raja Sisingamangaraja. Yakni, Raja Marbun, Raja Sinambela dan Raja Manullang.

“Antara Tipang dan Marbun dan Bakkara tak berdamai, jadi membuat perdamaian di air terjun ini. Setelah perjanjian itulah, muncul Air Terjun (Janji) dilokasi itu. Jadi ya dibilang keramat, dulu ini keramat,” tutur Bohal.

Bohal menambahkan, usai persekutuan damai itu memang tak ada lagi perang antara ketiga Raja. Namun, jika terjadi lagi perseteruan, Air Terjun Janji diramalkan akan berhenti mengeluarkan air.

“Ya kalau terjadi pertengkaran lagi, ya bisa jadi mati ini airnya,” tandas Bohal menaruh harap tak lagi ada perang itu.

Perjalanan menuju Air Terjun Janji pun usai sudah. Hmmmm.. Tertarik? Silahkan berkunjung.

Artikel ini ditulis oleh:

PSSI Tidak Butuh Dana dari Kemenpora

Jakarta, Aktual.co — Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), tidak berminat untuk meminta bantuan dari pihak pemerintah, terutama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Hal ini dilakukan untuk menjaga kemandirian federasi sepakbola Indonesia itu.

Dikatakan Wakil Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, jika PSSI mengharapkan bantuan dari Kemenpora, nantinya PSSI bisa diintervensi oleh pihak Kemenpora, terkait kebijakan PSSI.

“Kami tidak minta dana ke Kemenpora. Jika diberikan, biasanya banyak titipan sana-sini, pusing kita nanti,” ungkap La Nyalla kepada wartawan di Gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (3/11).

Meski begitu, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN) ini mengungkapkan bahwa, PSSI boleh saja menerima dana Kemenpora. Asalkan, tambah La Nyalla, bantuan tersebut tidak dibarengi dengan hal-hal lain.

“Kalau mereka mau membantu, ya terimakasih. Tapi, sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI, saya tidak merekomendasikan untuk meminta dana,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Upacara Adat “Mansorandak” Untuk Sambut Menteri Asal Papua

Jakarta, Aktual.co — Warga Biak Numfor, Provinsi Papua, menyiapkan upacara adat “mansorandak” untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, sebagai ungkapan rasa syukur.
“Upacara adat yang ditandai dengan prosesi “injak piring” sebelum menginjakkan kaki di tanah itu menandai kedatangan seorang kerabat yang sudah lama pergi merantau,” kata Kepala Bidang Humas Pemkab Biak Numfor Esti Kbarek, ketika dihubungi dari Jayapura, Senin (3/11).
Ia mengatakan, Yohana Yembise merupakan putri asal Biak yang lahir dan besar di Manokwari, yang dijadwalkan tiba di Biak pada 5 Nopember mendatang, atas undangan pemkab dan masyarakat Biak Numfor.
Upacara “injak piring” itu juga akan diikuti para deputi yang mendampingi Menteri Yohana.
“Setelah upacara adat saat kedatangan Menteri Yohana dan rombongan, sebanyak 2.000 perempuan dan anak akan menghadiri dialog yang dilaksanakan di gedung wanita Biak,” sambung Esti.
Menurutnya, berbagai persiapan telah dilakukan untuk keperluan upacara penyambutan Menteri Yohana Yembise.
Yohana Yambise merupakan wanita pertama Papua yang jadi menteri, yang juga merupakan keturunan marga Biak Numfor dari ayahnya, walaupun ia lahir di Manokwari dan menghabiskan masa mudanya di Manokwari dan Jayapura.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain