Pekerja membereskan stok beras di Gudang Beras Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (26/1/2018). Ketua MPR Zulkifli Hasan minta pemerintah untuk membatalkan rencana impor beras. Karena pelaksanaan impor yang dilakukan bersamaan dengan panen raya akan merugikan petani. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Perum Bulog mengajukan permintaan impor beras ketan 65 ribu ton dari Thailand dan Vietnam. Surat permintaan impor itu diajukan oleh Bulog pada September 2019. Permintaan Bulog ini dianggap tak relevan karena tidak ada urgensi mendesak yang mengharuskan Indonesia impor beras ketan.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu mempertanyakan alasan Bulog mengajukan impor beras ketan.

“Data stok nasionalnya bagaimana, prediksi demand menjelang akhir tahun sehingga muncul kesimpulan perlu impor beras khusus ini. Jadi perlu transparansi,” katanya Senin (11/11).

“Mungkin presiden perlu untuk meminta kepada bulog untuk transparansi kebijakannya,” tambahnya.

Dia mengatakan, pengawasan impor tersebut harus diperkuat. Artinya, lebih transparan lagi alasan Bulog mengajukan impor beras ketan. Nantinya, kalau alasannya bisa diterima oleh akal sehat, masyarakat bisa memaklumi. Diakui, beras khusus itu memang diskresinya lebih tinggi daripada beras umum. Namun, transparansinya tetap harus didahulukan.

Di kesempatan lain, Sekretaris Perum Bulog, Awaludin Iqbal membenarkan ada permohonan impor beras ketan sebanyak 65 ribu ton dari Bulog ke Kementerian Perdagangan. Ia mengatakan, permintaan impor dari Vietnam dan Thailand tersebut adalah karena ada kebutuhan di dalam negeri yang tidak terpenuhi oleh petani di dalam negeri.

(Abdul Hamid)