Petugas menyiapkan logistik pemilu 2019 sebelum didistribusikan di Gelanggang Remaja Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, Kamis (11/4). Proses distribusi logistik pemilu 2019 akan mulai dilakukan tiga hari jelang hari pencoblosan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Bandarlampung, Aktual.com – Pengamat politik dari Universitas Lampung (Unila) Dr Arizka Warganegara menilai secara umum pelaksanaan Pemilu 2019 berjalan dengan semestinya walaupun tidak sempurna dan ada beberapa aspek yang masih perlu dibenahi terutama soal daftar pemilih dan distribusi formulir C-6 serta penanganan beberapa pelanggaran pemilu yang ditemukan.

Dalam konteks tersebut, doktor Political Geography University of Leeds, Inggris yang dihubungi dari Bandarlampung, Kamis (25/4), memberikan beberapa catatan terhadap Pemilu 2019.

Pertama, terkait terbelah masyarakat oleh sebab pilihan politik, menurut dia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Justru perdebatan politik di masyarakat akan sangat produktif untuk mendorong demokrasi Indonesia menjadi lebih dewasa.

“Karena dengan perdebatan di ruang publik tersebut, masyarakat akan memperoleh alternatif pilihan pengetahuan terhadap pilihan politik yang ‘dynamics’ sekaligus ‘contested’ tersebut,” kata dosen Magister Ilmu Pemerintahan FISIP Unila itu pula.

Mengenai isu hoaks dari perdebatan tersebut, menurut Arizka, pascapemilu ada jeda ruang dan waktu bagi semua pihak untuk melakukan refleksi diri, sehingga ke depan jeda ruang dan waktu untuk melakukan refleksi ini akan menghasilkan pemilih yang lebih berpengetahuan terhadap isu sejenis pada pemilu berikutnya.

“Akan menjadi catatan, menghadapi hoaks bukan dengan menghentikannya dan itu tidak bisa, akan tetapi mengguyurnya dengan informasi dan pengetahuan yang akurat dan lebih masif ketimbang berita hoaks itu sendiri,” kata dia.

(Abdul Hamid)