18 April 2026
Beranda blog Halaman 38269

Waspadai Darurat Bawang, Pemerintah Jangan Salahkan Pedagang

Jakarta, Aktual.co —  Harga bawang merah berpotensi naik mengikuti kenaikan tinggi harga beras. Kenaikan harga bawang ini bisa jadi akan memicu pula kenaikan harga bahan kebutuhan pokok lain.

Jumat pagi (6/3) harga bawang di pasar Induk Kramatjati, Jakarta, yang dipantau IKAPPI, masih berkisar Rp.18.000/Kg. Namun dalam hitungan jam, harga pada siang hari terpantau melonjak tinggi hingga Rp.25.000/Kg.

Informasi yang dihimpun DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IkaPPI) dari beberapa daerah penghasil bawang, mengungkap bahwa pemicu kenaikan itu ternyata harga benih bawang daun atau polong yang kini amat mahal. Sehingga para petani cenderung enggan bertani bawang merah lagi karena sulit mendapatkan keuntungan akibat harga benih yang tinggi.

Untuk itu IkaPPI menghimbau pemerintah jangan bertindak seperti pemadam kebakaran semata yang cenderung gagap menanggapi realita di lapangan. Terutama bila terkait dengan kenaikan harga-harga bahan pokok makanan. Apalagi bila kenaikan itu menjurus pada inflasi yang akan menurunkan daya beli rakyat banyak.

“Bila koordinasi pemerintah berjalan baik, semua potensi kenaikan bisa ditangani sejak dini. Jadi pemerintah harus segera ambil langkah keroyokan, lintas Kementrian dan instansi,” ujar Kalitbang DPP IkaPPI, Ihsan Jauhari.

Upaya menangani potensi sumber-sumber kenaikan harga mendesak diantisipasi pemerintah. Terutama harga pangan, khususnya hortikultura.

“Jangan lagi menunjuk pedagang sebagai kambing hitam dari kelambanan kinerja pemerintah,” pungkas Ihsan.

Artikel ini ditulis oleh:

Internet Ubah Bahasa Tulis, Persulit Penulisan Karya Tulis

Jakarta, Aktual.co — Jakarta, Aktual.co —- Kepala Lembaga Kajian Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Untung Yuwono melihat penggunaan Internet telah mengubah cara orang menggunakan bahasa tulis.

“Ruang yang terbatas pada Internet membuat gagasan-gagasan menjadi ringkas-ringkas, paragraf pun pendek-pendek,” kata Untung lewat surat elektronik, di Jakarta, Minggu (8/3).

Sebagian orang keliru menjadikan itu sebagai model bahasa yang benar dan standar. Dampaknya, menurut dia, antara lain terlihat pada beberapa karya tulis, yang menunjukkan kesulitan orang menyampaikan gagasan yang eksploratif.

Dia juga melihat gejala penurunan perhatian masyarakat terhadap Bahasa Indonesia, terlihat dari penggunaan bahasa asing atau bahasa yang bercampur aduk pada papan-papan informasi serta pemakaian kata serapan asal adopsi seperti “selebrasi” dari “celebration” meskipun ada kata “perayaan’.

Ia mengatakan upaya perbaikan penggunaan bahasa bisa dilakukan lewat gerakan disiplin nasional seperti yang pernah dilakukan tahun 1995, yang juga meliputi gerakan disiplin berbahasa.

Para ahli bahasa pun, menurut dia, sudah berkumpul untuk mengeluarkan pedoman-pedoman kebahasaan dan menyampaikan hasilnya kepada masyarakat melalui penerbitan kamus-kamus istilah dan pedoman berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

“Masyarakat mau mengikuti. Ini contoh yang baik. Masyarakat membutuhkan panutan,” katanya.

Menjaga bersama

Untung juga melihat kecenderungan anak-anak muda menganggap sama ragam bahasa tulisan dan lisan, yang sebenarnya berbeda dalam aspek pilihan kata, struktur maupun gaya berbahasa.

“Jika dikaitkan dengan fungsi bahasa, anak muda cenderung menggunakan bahasa dalam fungsi mengekspresikan diri: yang penting gagasan sudah disampaikan, tanpa memperhatikan cara-cara berkomunikasi yang berbeda antara situasi bersemuka dan situasi tidak langsung melalui bahasa tulis,” katanya.

Generasi muda, menurut dia, perlu menjaga semangat Sumpah Pemuda, semangat untuk bersikap positif kepada Bahasa Indonesia.

“Jika kita lebih mencintai bahasa asing daripada Bahasa Indonesia, itu berarti kita tidak bersikap positif kepada Bahasa Indonesia,” katanya.

“Kita menggunakan Bahasa Indonesia karena kita mempunyai identitas sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” kata pengajar mata kuliah penyuntingan itu.

Ia mengatakan pendidikan merupakan kunci untuk mengembangkan sikap bahasa yang positif.

Pendidikan yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis dengan membaca, menulis dan menyampaikan gagasannya akan membuat siswa tahu kapan harus menggunakan bahasa yang benar, kata dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Antisipasi Kebutuhan Biodiesel, TNI Tanam Kemiri di Perbatasan Kalbar

Jakarta, Aktual.co —  Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko melakukan penanaman pohon Kemiri Sunan di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, di wilayah perbatasan Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (7/3/2015).
 
Acara bertema “Membangkitkan Motivasi dan Budaya Menanam Pohon Kemiri Sunan Dalam Rangka Membangun Ekosistem Hutan Yang Mantap Guna Mengurangi Dampak Pemanasan Global serta Sebagai Sumber Energi Terbarukan”, ini dihadiri 40 perwakilan negara sahabat penghasil minyak dan pemerhati lingkungan.  Sesuai siaran pers Mabes TNI, mereka masing-masing menanam satu pohon Kemiri Sunan.

Tentara Nasional Indonesia (TNI), menurut Panglima, juga fokus atas lingkungan hidup. Karena kemungkinan krisis energi, air dan lingkungan, niscaya berdampak buruk terhadap kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terutama bila hal itu tidak diantisipasi secara benar.
 
Karena itu,TNI bersama Kementerian Kehutanan,  Pemprov Kalimantan Barat, dan Asia Pasific R-20, bekerjasama menanam pohon Kemiri Sunan (KS 100 Bio Fuel). Penanaman ini, jelas Jenderal Moeldoko, dalam rangka membangun ekosistem hutan dan mengurangi dampak pemanasan global.

Diharapkan, akan terbangun pula semangat menanam dalam benak masyarakat. Bukan hanya menebang. Apalagi keberadaan hutan kemiri pada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat sekitar, sekaligus menciptakan ketahanan energi bagi bangsa Indonesia. Karena hasil pengolahan buah kemiri mampu menjadi bahan bio diesel yang bisa dimanfaatkan warga sekitar dan pasukan TNI di wilayah perbatasan.
 
“Di sisi lain penanaman pohon ini juga mempunyai nilai strategis untuk TNI, karena hutan pohon Kemiri Sunan dapat sebagai tameng perlindungan terhadap prajurit apabila diserang musuh.” jelas Panglima TNI.
 
Hal senada dikemukakan oleh Special Envoy of President Seychelles for ASEAN, Nico Barito.  Kemiri Sunan, ujar Direktur Asia-Pasifik R-20, adalah tanaman asal Philipina yang mampu hidup hingga 75 tahun. Bahkan pada usia lima tahun, kemiri ini sudah bisa produktif baik di berbagai kondisi lahan. Kemiri berbiji penghasil minyak bahan baku bio diesel ini cocok dibudidayakan di wilayah tropis Indonesia.
 
Penanaman 12.300 batang bibit KS, 200 bibit grafiting KS dan 25 kilogram benih KS di 5.000 hektar area Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang,Kabupaten Kubu Raya ini, dilakukan guna penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan. Sehingga sekaligus pencegahan pemanasan global.  
 
Hadir dalam acara penanaman ini, Gubernur Kalbar Cornelius, Asrenum Panglima TNI Mayjen TNI Sumedy, Aslog Panglima TNI Marsda TNI Karibiyama, Aster Panglima TNI Mayjen TNI Ngakan Gede Sugiartha, Askomlek Panglima TNI Marsda TNI B. Agus Margono, Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Toto R. Soedjiman dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya.

Artikel ini ditulis oleh:

Bahasa Indonesia Banyak Diminati Warga Iran,

Jakarta, Aktual.co — Banyak orang Iran berminat mempelajari Bahasa Indonesia guna mengenal lebih akrab negara berpenduduk Islam terbesar di dunia ini.

“Mereka ingin belajar Bahasa Indonesia karena Iran memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia seperti agama yang sama, menghargai kelompok minoritas dan keramahtamahan masyarakatnya,” ungkap Akmal Kamil, di Teheran, Minggu (8/3).

Bahkan banyak orang Iran menyapa orang Indonesia sebagai saudara saat mereka bertemu di berbagai kesempatan, kata Akmal mantan sekretaris Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Iran.

“Contohnya, adalah seorang ustadz Iran bernama Rabani yang telah mengunjungi beberapa kota di Sumatera, Jawa dan Sulawesi untuk dakwah Islam dengan Bahasa Indonesia,” kata Akmal yang kini menimba ilmu Alquran di Universitas Internasional Mustafa di Qom, Iran.

Akmal adalah satu dari 300 lebih warga Indonesia yang memiliki berbagai aktivitas di Iran. Selain mahasiswa dan pekerja di perusahaan minyak lepas pantai, Akmal juga dosen sekaligus diplomat di Kedutaan Besar Indonesia.

“Universitas Internasional Mustafa saat ini menampung 17.000 lebih mahasiswa asing dari 154 negara melalui program beasiswa,” kata peserta program master di universitas tersebut.

Selain melanjut kuliah, Akmal juga mendirikan Pojok Indonesia (Indonesian Corner) guna memberi informasi tentang Indonesia karena masih sedikit orang Iran yang mengenal Indonesia.

“Masih banyak ide lagi sih sebenarnya yang bisa dilakukan tapi kami terkendala dalam masalah transportasi dan sarana komunikasi,” kata Akmal yang selama tugas belajar ditemani istrinya yang juga menuntut ilmu di Qom.

“Untuk itu saya berharap ada bantuan dari pemerintah Indonesia,” harap pemilik laman Islam Quest.net ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Mega Klaim Dorong Jokowi Tetap Eksekusi Gembong Narkoba

Jakarta, Aktual.co —Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri klaim dia yang dorong Presiden Joko Widodo agar tetap eksekusi para gembong narkoba. Alasan dia, prihatin dengan banyaknya kasus narkotika yang berujung pada penyebaran HIV/AIDS dan merusak keharmonisan keluarga. 
Kata Ketua Umum PDI-P itu, dia sudah bicara dengan Jokowi untuk masalah para terhukum agar jangan dijual dan sudah dihukum mati. “Jangan dikasih grasi, karena ini adalah hak hukum Indonesia,” ujar Mega, saat berpidato di Taman Ismail Marzuki (TIM), Minggu (8/3). 
Dalam pidato berjudul ‘Tahun Penentuan Bagi Perempuan Indonesia’ untuk peringatan Hari Perempuan Internasional itu, Mega mengaku prihatin dengan narkoba, yang menggerogoti ibu-ibu rumah tangga. 
“Ibu-ibu rumah tangga yang baik dan tidak neko-neko terkena, lalu menular ke anak-anaknya. Gimana lalu generasi bangsa kita? Kenapa mereka yang jadi korban nggak pernah dikedepankan?” ujar dia. 
Karena itu, ujar dia, perlu usaha dan peran ibu-ibu untuk melakukan sosialisasi pencegahan narkotika yang akan berdampak pada penyebaran HIV/AIDS.
“HIV/AIDS belum ada obatnya, maka harus dilakukan sosialisasi untuk pencegahan oleh semua lini. Termasuk oleh ibu-ibu, kalau bukan kaum perempuan siapa lagi? Saya bilang ibu-ibu, HIV/AIDS ini kayak coca cola, di mana saja, kapan saja, siapa saja,” ujar dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Atasi 23.451 Desa Tertinggal, Jafar Minta Dukungan UGM

Jakarta, Aktual.co —  Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (kemendesa) berkerjasama dengan UGM dalam membangun desa sesuai amanat Undang-undang (UU) Desa Nomor 6 Tahun 2014.

Nota kesepahaman ditandatangani Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Marwan Jafar bersama Rektor UGM, Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD di Balai Senat UGM, Jumat (6/3).

Dalam acara yang dihadiri perwakilan lurah dan pemerintah desa se-DIY ini, Marwan menyatakan UU Desa adalah titik awal pemberdayaan desa. Untuk itu diperlukan masukan pemikiran para akademisi, khususnya UGM, guna membangun desa.

“Pemikiran kampus akan membuat pembangunan desa akan lebih genuine dan tidak sekedar proyek,” paparnya.

Politisi PKB ini mengaku ada dilema pengembangan pembangunan desa. Akan dimulai dari desa atau dari kota? Pengalaman Tiongkok, sebagai contoh, menempuh cara mendorong pembangunan dari desa ke kota. Pertimbangan Beijing, adalah agar lahan di desa tetap utuh tidak digunakan bagi pembangunan infrastruktur yang merusak lingkungan.

Namun pola kebijakan Tiongkok itu tak bisa serta merta ditempuh Indonesia. Karena urbanisasi dari desa ke kota justru memicu kompleksitas masalah perkotaan di Indonesia.

“Karena itu kami meminta pemikiran yang dilahirkan dari kampus agar pengaplikasian UU Desa tidak membuat masalah jadi kompleks, namun kampus, seperti UGM dapat memberikan solusi yang kongkrit,” tandasnya.

Sementara itu Dwikorita pun mengungkapkan, UGM mengharamkan penelitian yang hanya menghasilkan jurnal. Sebab hasil penelitian hanya bermanfaat jika dihilirkan ke masyarakat.

“UGM melakukan mapping persoalan pembangunan desa. Yang diperlukan adalah kedaulatan pangan, energi, kesehatan, manufaktur dan kemanusiaan,” jelasnya.

Lewat program mapping yang dikembangkan UGM itu, Rektor berharap jumlah desa tertinggal secara bertahap bisa dikurangi. Sehingga keadilan sosial, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa dapat meningkat.

Jumlah desa tertinggal saat ini tercatat 23.452 desa. Sementara desa berkembang baru 61.134 desa dan desa mandiri hanya 4.382 desa.

“Melalui program tridharma perguruan tinggi dan pusat penelitia, UGM berupaya mempromosikan program pembamgunan desa,” imbuhnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Berita Lain