Komisi XI DPR Panggil Gubernur BI
Sebagai wakil rakyat, menyikapi volatilitas rupiah, DPR memanggil Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk menjelaskan kondisi nilai tukar Rupiah yang hampir menembus Rp15.000. DPR beralasan, depresiasi rupiah sudah cukup dalam karena jauh dari asumsi makro APBN 2018 di Rp13.400. Pelemahan rupiah dikhawatirkan akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, faktor pelemahan nilai rupiah masih didominasi faktor eksternal, mulai dari perbaikan ekonomi negeri Paman Sam, rencana kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) yang lebih agresif, hingga ketidakpastian perang dagang antara AS dengan China.

“Pola ekonomi dunia memang didasarkan kuatnya ekonomi AS, sementara negara-negara lain mengalami perlambatan, ini kenapa dolar AS kuat dan yang lain lemah,” kata Perry di ruang rapat Komisi XI DPR.

Selain itu, kenaikan suku bunga The Fed membuat arus modal asing kembali ke Amerika. Untuk menahan perkasanya dolar, BI sudah menggelontorkan devisa Rp11,9 triliun dengan melakukan intervensi di pasar valas maupun pasar SBN. “Kalau kita lihat, Kamis, Jumat, Senin, kita juga sudah lakukan , Kamis sudah Rp3 triliun, Jumat Rp4,1 triliun, Senin Rp3 triliun, kemarin (Selasa) Rp1,8 triliun,” kata Perry.

Selain pengaruh global, pelemahan rupiah juga disebabkan defisit transaksi berjalan (CAD). Pasalnya, transaksi berjalan yang masih defisit menandakan bahwa kebutuhan akan valas semakin besar. “Makanya fokus kita tangani adalah kondisi CAD, ini yang harus menjadi fokusnya,” jelasnya.

(Baca: Membaca Tanda Runtuhnya Ekonomi Jokowi)

Next Page, Apa yang Terjadi dengan Rupiah?

(Eka)