Dalam buku “Istana Presiden Indonesia” terbitan Sekretariat Negara RI (1995) yang disusun oleh Joop Ave diceritakan di tempat itu pernah pengiring Sultan Sepuh (Hamengkubuwono II) menghunus pembantu-pembantu Gubernur Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles karena mereka menyepak alas dampar kencana (bangku tempat duduk dari emas) Sultan. Waktu berkunjung ke Raffles, pengiring Sultan membawa dampar kencana berikut alasnya yang sengaja dibuat agar Sultan lebih tinggi dari Raffles saat mereka duduk bersampingan. Hal ini tidak disetujui pembantu Raffles yang menganggap atasannya itu lebih tinggi dari Sultan.

Bagian depan kanan Gedung Induk terdapat Ruang Soedirman untuk mengenang perjuangan Panglima Besar Soedirman dalam memimpin gerilya melawan Belanda. Di ruangan inilah dulu Panglima Besar Soedirman mohon diri kepada Presiden Soekarno, untuk meninggalkan kota dalam rangka memimpin perang gerilya melawan Belanda.

Sedangkan pada bagian depan kiri gedung utama terdapat Ruang Diponegoro untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Dalam ruang ini tampak pula lukisan beliau sedang berkuda.

Sisi selatan Gedung Induk terletak ruang tidur presiden beserta keluarga, sedangkan di sisi utara terletak kamar tidur yang disediakan bagi wakil presiden beserta keluarga dan bagi tamu negara atau tamu agung yang lain beserta keluarga.

Selanjutnya masih ada ruang jamuan makan bagi tamu negara serta ruang pertunjukkan kesenian sebagai ruang terluas di Gedung Agung (sekitar 500 meter persegi). Jika pada zaman revolusi banyak dipakai sebagai tempat kursus dan ceramah politik bagi rakyat, sekarang terutama dipakai untuk pertunjukkan kesenian.

()