Semua penghuni Gedung Agung ditawan. Sukarno-Hatta dan pejaba teras diasingkan Belanda ke Brastagi dan Bangka. Gedung Agung bukan lagi menjadi istana, tapi republik tetap berjalan tanpa istana.

Penyerangan yang lain terhadap Yogyakarta terjadi waktu Gedung Agung diduduki Belanda pada 1 Maret 1949 pukul 06.00 WIB, saat 2.000 orang tentara di bawah pimpinan komandan Wehrkreise III Letnan Kolonel Soeharto menyerang dari segala jurusan dan berhasil menduduki kota selama 6 jam.

Pasukan Indonesia menyusup ke markas polisi rahasia Belanda IVG di jalan Ngupasan di belakang istana, melewati lorong-lorong saluran di bawah halaman Gedung Agung dan mengepung serdadu Belanda yang ada di benteng Vredenburg, polisi militer yang mendiami Gedung Agung pun mengungsi ke benteng.

Gedung Agung kembali menjadi istana pada akhir Juni 1949 saat Belanda mengundurkan diri dari Yogyakarta dan 2 minggu kemudian Jenderal Soedirman kembali dari pedalaman, bersamaan dengan kedatangan Mr Sjafruddin Prawiranegara dari Sumatera. Mandat pimpinan negara dikembalikan kepada Presiden Sukarno.

Desember 1949 Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS pertama dan berangkat ke Jakarta sehingga peranan utama beralih ke Istana Merdeka. Agustus 1959 Gedung Agung tetap berfungsi sebagai istana untuk “acting president” Mr Assaat, tapi setelah RIS dilebur menjadi NKRI dengan ibu kota Jakarta, Gedung Agung dipergunakan pemerintah daerah Yogyakarta.

Sejak 1972 Gedung Agung kembali masuk dalam keluarga istana-istana Presiden untuk penginapan presiden serta tamu negara bila datang ke Yogyakarta. Itulah sekelumit cerita revolusi dari Gedung Agung.

 

Ant.

()