Meski disambut arca Jawa, tapi bangunan Gedung Agung menunjukkan gaya Eropa. Tiang-tiang besar gaya Doria di serambi depan dan ruang makan, cekukan tempat kaca di dinding dan untaian lampu gantung kristal menunjukkan seni Barat. Perpaduan unsur keindonesian tampak juga dari hiasan tembok ornamen kain batik Iwan Tirta berhadap-hadapan dengan ukir-ukiran Jepara di ruang makan VVIP.

Di gedung induk, ruang Garuda menjadi ruang pertama sebagai penyambut tamu negara. Di ruangan ini pulalah Kabinet Republik Indonesia dilantik tatkala ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta. Ruang itu juga dijadikan sidang kabinet, pelantikan Jendral Soedirman sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (3 Juni 1947), diikuti pelantikannya sebagai Pucuk Pimpinan Angkatan Perang Republik Indonesia (3 Juli 1947), penerimaan tamu agung serta upacara-upaca kenegaraan.

Tadinya, dinding ruangan tergantung lukisan-lukisan pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, R.A. Kartini, Dokter Wahidin Soedirohusodo, dan Tengku Cik Di Tiro, namun pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lukisan itu diganti dengan foto para presiden.

Di tempat itu juga pernah dilakukan pelantikan kabinet Sjahrir, kabinet Amir Sjarifuddin, kabinet Hatta, terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) hingga pelantikan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Sri Paduka Paku Alam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY oleh Presiden SBY pada Oktober 2012.

Loteng ruangan dibuat tinggi yaitu 7 meter, menggantung di sana ada 4 rangkaian lampu kandelir bertingkat dan cermin-cermin tua tergantung di cekukan dinding.

()