“Banyak orang Yogya yang tidak tahu Gedung Agung ini, pengunjung yang datang malah banyak dari luar Yogyakarta seperti Sumatera dan provinsi di pulau Jawa lain, tapi rakyat Yogya sendiri banyak yang tidak tahu Istana Kepresidenan Yogyakarta,” kata Saifullah.

Padahal Gedung ini selain menyimpan sejarah revolusi, pada setiap peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus juga dipakai upacara oleh Gubernur Istimewa Yogyakarta dan segenap bawahannya.

Karena itulah mulai September 2017, Saifullah benar-benar membuka Gedung Agung untuk masyarakat. Ia mengumpulkan para lurah dari 45 kelurahan di kota Yogyakarta agar mempromosikan Gedung Agung kepada masyarakat. Bila masyarakat ingin berkunjung pihak istana bahwa menjemput di kelurahan-kelurahan tersebut.

“Antusias masyarakat sangat baik, sampai mereka yang berusia lanjut juga ikut datang, turis asing pun boleh masuk. Tujuannya agar mereka mengenal kita, kalau mereka kenal kita berarti mereka juga mengenal sejarahnya,” tambah Saifullah.

Sejarah revolusi bangsa Indonesia pada 1946-1949 memang berada di Gedung Agung. Pada 4 Januari 1946, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta dijemput dari rumah mereka di Jakarta, bersama dengan para menteri, keluarga dan pembantu terdekatnya naik kereta diam-diam menuju Yogyakarta. Tidak seorang pun boleh membawa harta bendanya.

()